Hibata.id – Sungai Balayo, yang membelah permukiman warga di Desa Balayo, Kecamatan Patilanggio, sudah lama berubah menjadi aliran keruh pekat akibat timbunan lumpur.
Namun, para pelaku tambang ilegal yang disebut-sebut sebagai sumber masalah baru terlihat melakukan normalisasi belakangan ini.
Seorang warga Balayo menuturkan bahwa keluhan soal pendangkalan sungai telah lama disampaikan kepada berbagai pihak, termasuk pemerintah desa.
Namun, hingga beberapa waktu terakhir, tak ada penanganan berarti.
“Torang minta cuma normalisasi. Sudah hubungi pihak terkait, tapi sampai sekarang tidak ada pergerakan. Tapi alhamdulillah, sekarang dorang sudah mulai normalisasi,” ujarnya.
Ia menegaskan, protes warga bukan untuk menghambat orang mencari nafkah, melainkan demi keselamatan lingkungan permukiman.
“Bukan mau menghalangi orang mencari rezeki, tapi paling tidak perbaiki sungai kami. Sungai ini sudah lama kami keluhkan,” katanya.
Aktivitas normalisasi telah dimulai, namun ia masih menunggu keseriusan pengerjaan itu. Warga khawatir pengerjaan berhenti di tengah, sehingga masalah utama tetap tak tersentuh.
“Tadi mereka mulai normalisasi dan saya turun lihat. Tapi saya mau lihat tindak lanjutnya. Jangan cuma sampai di tengah. Kalau begitu, sama saja tidak ada,” ujarnya.
Warga menyebut area di belakang permukiman, dekat Jalan Trans, merupakan titik rawan banjir jika sedimentasi tidak dibersihkan tuntas.
“Saya mau lihat beberapa hari ke depan apakah normalisasi sampai di titik keluhan. Kalau hanya setengah, berarti sama dengan tidak,” tegasnya.
Ia menilai kondisi sungai sudah parah. Lumpur menumpuk, alur menyempit, dan dampaknya terasa langsung oleh warga.
“Menurut saya, sungai ini sudah penuh lumpur. Lingkungan sudah rusak, tapi setidaknya harus ada yang menjaga,” ucapnya.
Warga tersebut mengaku telah menyampaikan perkembangan normalisasi ini kepada Kepala Desa. Namun ia mendengar bahwa pekerjaan itu hanya dikerjakan sebagian.
“Informasi dari pengusaha, normalisasi cuma sampai di sini-sini saja. Padahal yang dikeluhkan masyarakat sampai titik ini belum dikerjakan,” tuturnya.
Ia memastikan tak akan tinggal diam jika penanganan sungai tidak dituntaskan.
“Kalau cuma sampai di pertengahan, saya tidak mau diam. Karena percuma,” katanya.
Warga itu juga menegaskan bahwa bila normalisasi tak menjangkau wilayah paling terdampak, maka aktivitas tambang di belakang permukiman dan di jalur trans harus dihentikan.
“Kalau tidak sampai pada titik keluhan, hentikan saja aktivitas tambangnya,” ujarnya.
Kepala Desa Balayo, Nanang Pulumuduyo, membenarkan bahwa keluhan warga telah berulang kali disampaikan. Pemerintah desa, kata dia, sudah turun meninjau langsung lokasi sejak lima hari lalu.
“Pemerintah desa sudah turun. Sudah lima hari,” katanya kepada wartawan, Kamis, 12 November 2025.
Namun hingga kini, ia mengaku belum melihat adanya tindakan nyata dari para pelaku tambang ilegal untuk mengatasi dampak lingkungan.
“Keberatan itu ada, karena sampai sekarang tidak diindahkan,” tegasnya.
Menurut Nanang, pihak yang menerima manfaat dari aktivitas tambang harus bertanggung jawab terhadap kondisi sungai. Ia berharap pelaku usaha menunjukkan itikad baik.
“Saya minta mereka buat gerakan peduli terhadap keluhan masyarakat. Sampai sekarang kami masih menunggu, tapi tidak ada,” ujarnya.
Nanang menambahkan, kondisi sungai bukan hanya tertimbun material, tetapi juga menyempit akibat sedimentasi dan aktivitas tambang.
“Sungai itu bukan hanya tertumpuk, tapi sudah menyempit. Harapan kami ada tindakan normalisasi dari pelaku usaha,” tutupnya.












