Scroll untuk baca berita
Nusantara

Tradisi Slametan Pengantin Jawa: Makna Spiritual dan Simbol Harmoni dalam Pernikahan

×

Tradisi Slametan Pengantin Jawa: Makna Spiritual dan Simbol Harmoni dalam Pernikahan

Sebarkan artikel ini
Tradisi Slametan Pengantin Jawa: Makna Spiritual dan Simbol Harmoni dalam Pernikahan/Hibata.id
Tradisi Slametan Pengantin Jawa: Makna Spiritual dan Simbol Harmoni dalam Pernikahan/Hibata.id

Hibata.id – Memasuki musim pernikahan, berbagai tradisi adat Nusantara kembali mencuri perhatian. Salah satunya adalah tradisi slametan pengantin Jawa, sebuah ritual penuh makna spiritual yang hingga kini masih lestari di berbagai daerah di Tanah Jawa.

Dalam budaya Jawa, slametan pengantin bukan sekadar acara makan bersama, melainkan wujud syukur (panuwun), kepasrahan (pasrah), dan doa keselamatan bagi pasangan yang akan menapaki kehidupan rumah tangga.

Tradisi ini mencerminkan filosofi hidup masyarakat Jawa yang menekankan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan, leluhur, alam, dan sesama.

Berasal dari Primbon Betaljemur Adammakna

Ritual slametan merujuk pada Primbon Betaljemur Adammakna, sebuah manuskrip klasik Jawa yang menjadi pedoman dalam tata laku dan pelaksanaan berbagai upacara adat.

Baca Juga:  Mengetahui Asal Muasal Kata Nusantara, ternyata...

Kitab ini telah diwariskan turun-temurun sebagai rujukan utama dalam prosesi adat pernikahan, termasuk tata cara penyajian sesajen slametan pengantin.

Dalam pelaksanaannya, slametan dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan dan leluhur, sekaligus sebagai doa agar pasangan baru diberkahi ketenteraman, keselamatan, dan keharmonisan.

Tradisi ini juga dipercaya menjaga keseimbangan antara dunia lahir dan batin serta menjadi simbol awal perjalanan rumah tangga yang penuh harapan.

Daftar Sesajen Slametan Pengantin dan Maknanya

Hidangan (Wujude) Makna dan Tujuan Doa
Apem, ketan, kolak Penghormatan kepada leluhur (mumule luluhur)
Sega adhem-adheman (nasi sayur & telur rebus tanpa garam) Permohonan ketenteraman (panuwun katentreman)
Sega golong lulut & endhog dadaran Doa agar pengantin rukun dan menyatu (kumpuling kawula Gusti)
Sega gebuli, endhog, brambang goreng, iwak goreng Menghormati Syekh Abdul Qadir Jaelani
Ketan salak Keteguhan dan perlindungan (K.P. Senapati)
Iwak bakar & ati candu Keselamatan dan perlindungan hidup (kang rumeksa gilang)
Ketan salak & endhog pindhang Menghormati K.S. Agung
Kolak kencana (pisang raja dikolak) Menghormati Kanjeng Ratu Kidul
Ketan punar, enten-enten, endhog dadar Menghormati Panembahan Bodho
Dawet Kelancaran dan limpahan rezeki
Rujak degan Kesegaran jiwa dan raga (seger kewarasan)
Ketan mancawarna Penghormatan terhadap unsur bumi dan alam semesta
Arang-arang kambang, opak angin, jipang Penghormatan kepada unsur angin (Hyang Angin)
Jangan padhamara & jongkong Simbol kerukunan dan kebersamaan (guyub rukun)
Tumpeng robyong & tumpeng gundhul Simbol keselamatan rumah tangga
Sega punar (nasi kuning walimah) Pelengkap syarat ijab pengantin
Jenang pliringan, palang, baning Penghormatan kepada sahabat Nabi: Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali
Baca Juga:  Bendungan Bulango Ulu Ditargetkan Selesai Akhir Tahun 2024
**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel