Hibata.id – Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat diimbau untuk lebih waspada terhadap hoaks yang beredar di media online.
Literasi digital menjadi kunci utama menangkal penyebaran berita palsu yang dapat memecah belah dan menyesatkan publik.
Terlebih lagi maraknya hoaks di media sosial dan platform daring mendorong perlunya pemahaman yang kuat mengenai cara mengenali dan menangkal informasi palsu.
Hoaks tidak hanya menyebar cepat, tetapi juga seringkali menimbulkan keresahan dan konflik sosial.
Beberapa langkah penting yang perlu dilakukan masyarakat antara lain dengan memeriksa sumber berita, memastikan informasi berasal dari media yang kredibel dan terverifikasi Dewan Pers.
Media resmi umumnya mencantumkan redaksi, alamat, dan kontak yang jelas.
Selain itu, meneliti isi berita secara menyeluruh sangat penting. Judul yang bombastis atau provokatif belum tentu mencerminkan isi yang akurat.
Pembaca disarankan untuk tidak langsung membagikan konten sebelum membaca hingga tuntas.
“Perhatikan juga tanggal penerbitan dan konteks peristiwa. Banyak hoaks menggunakan berita lama yang dikemas ulang seolah-olah baru,” kata Sumitro Ibrahim, pegiat literasi digital Gorontalo, Selasa (16/7/2025).
Mahasiswa Universitas Nahdatul Ulama Gorontalo ini mengingatkan, agar masyarakat menggunakan platform cek fakta seperti turnbackhoax.id atau cekfakta.com untuk memverifikasi informasi yang meragukan.
Hoaks sering kali disebarkan menggunakan bahasa emosional yang bertujuan membangkitkan amarah atau ketakutan. Konten semacam ini perlu diwaspadai, terlebih jika mengandung unsur SARA, ujaran kebencian, atau teori konspirasi.
“Langkah paling sederhana adalah tidak ikut menyebarkan. Kalau ragu, diam lebih baik daripada salah informasi,” tambah pria yang akrab disapa Isto.
Pemerintah dan berbagai organisasi masyarakat sipil terus mendorong peningkatan literasi digital sebagai benteng utama menghadapi tsunami informasi palsu.
Data Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat lebih dari 11.000 hoaks tersebar di ruang digital Indonesia sepanjang tahun 2024. Sebagian besar berkaitan dengan isu politik, kesehatan, dan bencana.
Dengan meningkatnya akses internet, masyarakat Indonesia dituntut lebih bijak dalam menyerap informasi. Keluarga, sekolah, dan komunitas lokal memiliki peran penting dalam membentuk budaya digital yang sehat dan bertanggung jawab.















