Hibata.id – Ribuan petani padi di Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, kini menghadapi ancaman kebangkrutan massal. Sekitar 4.000 petani di Kecamatan Buntulia dan Duhiadaa terancam kehilangan pekerjaan akibat gagal panen yang terus berulang tanpa solusi nyata.
Derita para petani terungkap saat wartawan Hibata.id menemui mereka di lahan persawahan, Senin (21/07/2025). Mereka mengeluhkan bantuan pemerintah melalui Dinas Pertanian yang dianggap tidak mampu mengatasi masalah mendasar, seperti sedimentasi pada irigasi dan air keruh yang membuat racun tanaman tak lagi efektif.
Ketua Kelompok Tani P3A Duhiadaa, Abdurahman Lukum, menjelaskan bahwa rapat penghamburan bibit sudah dilakukan jauh hari. Proses tanam direncanakan mulai 23 Juli hingga Agustus, namun hingga kini belum ada kemajuan di lapangan.
“Biasanya, kalau benih sudah datang, petani berbondong-bondong ambil. Sekarang tidak ada yang mau karena trauma rugi. Air keruh dari hulu membuat racun hama tidak berefek. Jadi buat apa tanam kalau ujungnya gagal lagi?” ungkap Abdurahman.
Abdurahman mencatat hasil panennya menurun drastis: dari 90 karung pada panen pertama, menjadi 60, lalu 40, dan terakhir hanya 23 karung.
Hal serupa dialami Mohamad Badu, yang hanya bisa memanen 20 karung dari 2 hektare lahannya, padahal panen pertama mencapai 100 karung.
Kisah pilu datang dari Sili Madjiji. Dari lahan 3 hektare, panen pertamanya 120 karung, kedua 70 karung, dan panen terakhir gagal total tanpa gabah tersisa.
“Biaya belasan juta sudah keluar, tapi hasilnya nol. Ini risiko jadi petani, tapi kalau begini terus, bisa habis semuanya,” keluh Sili.
Nasib petani kian ironis saat Midun Rahim, Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Duhiadaa sekaligus petani aktif, juga merugi. Biasanya ia memanen lebih dari 100 karung dari lahan 1,5 hektare, musim ini hanya 24 karung.
“Ini musim terburuk. Sudah semprot, pupuk lengkap, semua prosedur dijalankan. Tapi kalau air keruh seperti ini, obat hama percuma,” ujar Midun.
Para petani kini hanya bisa menggantungkan harapan pada janji pemerintah. Mereka tidak hanya membutuhkan bibit gratis yang akhirnya mubazir karena tidak diambil, melainkan solusi nyata: penanganan sedimentasi, penyediaan air bersih, dan pendampingan serius.
“Kalau kondisi ini berlanjut, bukan hanya gagal panen yang kami hadapi, tapi kebangkrutan total,” tutup Abdurahman.












