Hibata.id – Ribuan petani padi di Kabupaten Pohuwato, khususnya di Kecamatan Duhiadaa dan Buntulia, kini menghadapi ancaman serius akibat potensi gagal panen yang terus membayangi. Mayoritas dari mereka menggantungkan hidup sepenuhnya pada hasil pertanian, yang belakangan ini terus merosot.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pohuwato, Kamri Alwi, angkat bicara. Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak tinggal diam dan terus memberikan pendampingan kepada para petani.
“Setiap musim tanam, petani selalu didampingi oleh PPL (Petugas Penyuluh Lapangan). Pengerukan sedimen, meski bukan merupakan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) kami, tetap kami upayakan. Benih dan pupuk subsidi juga kami sediakan melalui para pengecer,” ujar Kamri saat diwawancarai wartawan Hibata.id pada 22 Juli 2025.
Namun Kamri menekankan, permasalahan petani tidak hanya sebatas pada ketersediaan pupuk atau benih. Persoalan utama yang dihadapi justru berkaitan dengan irigasi, yang menurutnya berada di luar kewenangan penuh Dinas Pertanian.
“Saya sudah berkali-kali sampaikan bahwa urusan irigasi bukan sepenuhnya tanggung jawab kami. Ada saluran primer, sekunder, dan tersier, masing-masing dengan kewenangan yang berbeda. Ini penting untuk juga dipahami oleh petani,” jelasnya.
Ia juga menyebutkan bahwa banyak faktor lain yang mempengaruhi keberhasilan panen, seperti kesuburan tanah, kondisi cuaca, serangan hama dan penyakit tanaman (POPT) yang menjadi ranah Dinas Pertanian Provinsi, hingga faktor teknis seperti pengelolaan air, waktu tanam, dan pola pemupukan.
“Kami terus memberikan pendampingan budidaya melalui PPL. Tanggung jawab kami juga mencakup penjaminan asuransi untuk petani padi, jagung, dan ternak sapi. Insyaallah semuanya akan terus berjalan,” tambahnya.
Mengenai saluran irigasi tersier yang kerap menjadi penyebab utama gagal panen, Kamri kembali menegaskan bahwa hal tersebut berada di luar ranah Dinas Pertanian. Meski begitu, pihaknya tetap berkoordinasi dengan instansi terkait.
“Perbaikan saluran tersier kami usulkan melalui Dinas PUPR Provinsi. Begitu juga dengan rehabilitasi bendung. Kami juga terus memaksimalkan pemanfaatan alsintan (alat dan mesin pertanian), seperti yang telah dilakukan di wilayah Bulili,” ungkapnya.
Sementara itu, keluhan dari para petani terus mengemuka. Saat ditemui oleh wartawan, sejumlah petani mengaku putus asa karena hasil panen yang terus menurun akibat gagal panen yang berulang.
Abdurahman Lukum, salah satu perwakilan petani, menyampaikan bahwa sekitar 4.000 petani di Kecamatan Duhiadaa dan Buntulia sangat bergantung pada pertanian padi. Jika sawah gagal panen, maka kehidupan ekonomi keluarga pun praktis lumpuh.
“Masalah irigasi, banjir lumpur, dan serangan hama sudah menjadi masalah klasik yang tak pernah benar-benar diselesaikan. Kami butuh solusi nyata, bukan janji,” tegas Abdurahman.
Para petani berharap, pemerintah daerah dan provinsi benar-benar duduk bersama mencari solusi konkret. Mereka mendesak agar pendampingan tidak berhenti sebatas wacana, melainkan diwujudkan dalam bentuk tindakan nyata—baik itu penyediaan benih dan pupuk, asuransi pertanian, hingga perbaikan sistem irigasi yang selama ini menjadi titik lemah.
Ribuan keluarga petani di Duhiadaa dan Buntulia kini hanya bisa berharap, agar janji-janji pemerintah tidak berakhir menjadi sekadar retorika di atas kertas.












