Scroll untuk baca berita
Kabar

Diduga Tercemar, DPRD Siap Uji Kualitas Air Irigasi Sawah Pohuwato

×

Diduga Tercemar, DPRD Siap Uji Kualitas Air Irigasi Sawah Pohuwato

Sebarkan artikel ini
Ketua DPRD Pohuwato, Beni Nento. (Foto: Dok. Hibata.id)
Ketua DPRD Pohuwato, Beni Nento. (Foto: Dok. Hibata.id)

Hibata.id – Ribuan petani di Kecamatan Duhiadaa dan Buntulia, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, kembali mengalami gagal panen yang terus berulang dari tahun ke tahun. Diduga kuat, penyebab utamanya adalah pencemaran air irigasi dan sedimentasi yang terus menumpuk di area persawahan.

Petani yang sepenuhnya menggantungkan hidup dari hasil panen padi kini berada di titik pasrah. Air yang menjadi nadi pertanian diduga tercemar, berdampak pada rusaknya kualitas tanah dan anjloknya hasil produksi pertanian.

Menanggapi hal ini, Ketua DPRD Pohuwato, Beni Nento, menegaskan bahwa pihaknya akan mendorong Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait untuk melakukan pengujian kualitas air dan tanah secara menyeluruh.

Baca Juga:  Didesak Ribuan Peserta, Panitia Akhirnya Ungkap Isi Mystery Box Fun Run Gorontalo

“Kami DPRD akan mengintervensi dinas terkait. Meski saat ini belum ada anggaran, kami akan dorong alokasinya pada pembahasan anggaran mendatang. DLH harus melakukan uji laboratorium terhadap sampel air dan pH tanah,” ujar Beni, Rabu (23/07/2025).

Beni mengakui bahwa proses pengujian ini membutuhkan biaya yang belum dianggarkan dalam tahun berjalan. Namun DPRD berkomitmen mengawal pembiayaannya agar segera terealisasi. Ia menegaskan pentingnya verifikasi ilmiah agar penyebab gagal panen bisa diketahui secara pasti—apakah karena pencemaran air, sedimentasi, atau faktor lain.

“Kita akan lihat dari hasil laboratorium, apakah penyebabnya dari kualitas air atau ada penyebab lain,” tambahnya.

Kondisi ini sudah lama menjadi keluhan petani. Selain gagal panen, air irigasi yang keruh dan diduga tercemar juga berdampak pada kesehatan petani. Abdurahman, seorang petani dari Buntulia, mengungkapkan bahwa air irigasi menyebabkan gatal-gatal saat digunakan untuk bertani.

Baca Juga:  Daftar Penerima BSU 2025, Cek Nama Kamu di Sini

“Setiap turun ke sawah dan bersentuhan langsung dengan air, kami sering gatal-gatal. Kami minta air ini diuji karena selain mengganggu kesehatan, racun hama juga jadi tidak efektif,” ungkapnya.

Pembersihan sedimentasi di saluran irigasi sebenarnya pernah dilakukan, namun air yang masuk ke lahan tetap keruh dan kotor. Dampaknya, panen tetap gagal. Para petani pun berada di ujung tanduk—kesulitan mencari alternatif penghasilan lain, sementara beralih profesi juga bukan pilihan mudah.

Baca Juga:  Ketika Akses Terhenti, Brimob Gorontalo Menjaga Asa Pendidikan Anak Desa

“Kami hanya bergantung pada sawah. Kalau terus gagal panen, bagaimana kami bisa bertahan hidup?” lanjut Abdurahman.

Kondisi ini menambah deretan persoalan krusial di sektor pertanian Pohuwato. Para petani berharap pemerintah tidak hanya berhenti di level wacana, tapi segera turun tangan dengan tindakan konkret.

Mereka menuntut uji laboratorium air irigasi secepatnya, serta solusi jangka panjang untuk mengembalikan kelayakan lahan dan sumber air. Tanpa tindakan nyata, bukan hanya petani yang terancam kehilangan mata pencaharian, tapi juga ketahanan pangan daerah bisa terganggu secara serius.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel