Scroll untuk baca berita
Kabar

Apa Itu Super Flu? Ini Penjelasan Lengkap Kemenkes dan Pakar

Avatar of Hibata.id✅
×

Apa Itu Super Flu? Ini Penjelasan Lengkap Kemenkes dan Pakar

Sebarkan artikel ini
Apa Itu Super Flu yang Disebut Lebih Menular? Ini Klarifikasinya/Hibata.id
Apa Itu Super Flu yang Disebut Lebih Menular? Ini Klarifikasinya/Hibata.id

Hibata.id – Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mengimbau masyarakat agar tetap tenang menyikapi informasi mengenai kemunculan penyakit yang disebut “super flu” di Indonesia.

Pemerintah memastikan bahwa virus yang dimaksud merupakan influenza tipe A subtipe H3N2 yang bersifat musiman dan telah lama dikenal dalam dunia medis.

Scroll untuk baca berita
IKLAN BUTENG

Benjamin menegaskan bahwa istilah super flu tidak merujuk pada virus baru atau penyakit yang lebih berbahaya dari influenza pada umumnya.

Ia menjelaskan, penggunaan istilah tersebut lebih banyak berkembang di ruang publik dan media, bukan berasal dari penamaan resmi medis.

“Influenza A (H3N2) adalah virus musiman yang sudah lama beredar dan dipantau. Masyarakat tidak perlu panik, namun tetap perlu waspada dan menjaga kesehatan,” ujar Benjamin.

Baca Juga:  Ini Alasan Jendela Pesawat Wajib Dibuka Saat Lepas Landas dan Mendarat

Epidemiolog Dicky Budiman menjelaskan bahwa istilah super flu muncul untuk menyebut subvarian influenza A (H3N2) Subclade K yang belakangan terdeteksi di sejumlah negara, termasuk Indonesia.

Subclade ini memiliki beberapa karakteristik yang berbeda dibandingkan varian influenza lainnya.

Menurut Dicky, karakteristik pertama adalah pola kemunculan wabah yang lebih cepat. Di negara-negara belahan Bumi utara, influenza biasanya meningkat saat musim dingin yang dimulai akhir Oktober.

Namun, subvarian ini dapat memicu lonjakan kasus sekitar tiga hingga empat minggu sebelum musim dingin tiba.

“Karena wabahnya muncul lebih awal dari biasanya, masyarakat kemudian menyebutnya sebagai super flu,” kata Dicky dalam keterangan suara yang diterima media, Jumat (2/1/2026).

Baca Juga:  BSU 2025: Begini Cara Cek Status dan Syarat Pencairan

Dicky menyebutkan, alasan lain subvarian ini dijuluki super flu adalah karena gejalanya cenderung lebih terasa.

Pasien dapat mengalami batuk berkepanjangan, produksi dahak yang lebih banyak, serta nyeri tenggorokan yang lebih kuat, terutama saat menelan.

Gejala tersebut lebih sering dirasakan pada kelompok rentan seperti anak usia di bawah lima tahun dan lanjut usia.

Selain itu, subvarian ini juga dilaporkan meningkatkan kebutuhan perawatan di rumah sakit dengan durasi pemulihan yang lebih lama.

“Rata-rata perawatan bisa mencapai tujuh hari, bahkan hingga 14 hari pada kondisi tertentu,” jelas Dicky.

Baca Juga:  BSU September 2025: Cair Lagi atau Nggak? Begini Penjelasan Pemerintah

Ia menambahkan bahwa risiko gejala berat meningkat pada individu dengan penyakit penyerta seperti hipertensi, gangguan sistem kekebalan tubuh, serta anak-anak.

Oleh karena itu, Dicky mendorong kelompok berisiko untuk segera memeriksakan diri jika mengalami gejala flu yang memburuk.

Pemerintah mengingatkan masyarakat untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat, menjaga daya tahan tubuh, serta tidak mudah terpengaruh oleh istilah yang dapat menimbulkan kepanikan.

Informasi resmi dari otoritas kesehatan menjadi rujukan utama dalam menyikapi isu kesehatan masyarakat.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel