Hibata.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu prioritas pemerintah pusat kembali mendapat sorotan setelah sejumlah siswa SDN 9 Bone Pantai, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, mengeluhkan kualitas menu makanan yang mereka terima.
Para siswa menyebut menu MBG yang disediakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Tihu mengalami penurunan dibandingkan awal pelaksanaan program, terutama pada bagian lauk pauk dan buah.
Kepala SDN 9 Bone Pantai Nur Ikhlas Muhamad mengatakan siswa mengeluhkan lauk yang disajikan dalam paket MBG lebih banyak didominasi tulang dibandingkan daging.
“Banyak siswa mengeluh karena menu MBG yang disajikan sekarang lauk kebanyakan tulang,” kata Nur Ikhlas, Rabu (4/2/2025).
Ia menjelaskan lauk memang masih tersedia, namun ukuran potongan semakin kecil dan pada beberapa kesempatan hanya menyisakan bagian tulang.
Menurut dia, keluhan siswa disampaikan secara langsung dengan pertanyaan polos namun mengena.
“Mereka bilang, ‘Ibu, torang cuma makan tulang?’,” ujarnya menirukan protes siswa.
Selain lauk, siswa juga menyoroti jenis buah yang dinilai kurang bervariasi. Nur Ikhlas menyebut buah yang diberikan dalam paket makan siang hampir selalu berupa pisang dan semangka.
“Kalau hanya pisang dan semangka, itu biasa sekali di Tunas Jaya. Sesekali tolong ada buah lain supaya siswa tidak bosan dan bisa tahu jenis buah berbeda,” katanya.
Keluhan tersebut mendapat perhatian dari Anggota DPRD Provinsi Gorontalo Femmy Udoki, yang hadir mendengarkan aspirasi masyarakat.
Ia menegaskan persoalan kualitas menu MBG tidak bisa dianggap sepele karena berkaitan langsung dengan kebutuhan gizi anak sekolah.
“Saya akan serius menindaklanjuti ini. Saya akan koordinasi dengan Wakil Gubernur Gorontalo, Ibu Idah,” kata Femmy.
Ia berharap program MBG yang memiliki tujuan meningkatkan kualitas gizi anak dapat dijalankan secara maksimal dan tidak menurunkan standar pelayanan, mengingat anggaran program tersebut tergolong besar.
Femmy juga meminta dinas terkait meningkatkan pengawasan agar pelaksanaan program MBG berjalan sesuai ketentuan dan harapan masyarakat.
“Saya minta dinas pendidikan dan pihak terkait lebih peka agar program ini tersalurkan dengan baik dan sesuai harapan masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala SPPG Desa Tihu Kecamatan Bone Pantai Alwin Karim menerima masukan itu dan pihaknya akan melakukan evaluasi, khususnya pada lauk yang mengalami penyusutan.
“Ini akan kita evaluasi. Nanti ke depan ketika ada daging yang menyusut begitu, kita bisa bikin double,” kata Alwin.
Terkait keluhan buah yang monoton, ia menyebut pihaknya akan mencoba menghadirkan variasi buah yang lebih beragam agar siswa tidak merasa bosan.
“Misalkan di sini kan jarang sekali anggur, sehingga nanti kita akan buat menunya itu ada anggur,” ujarnya.
Program MBG sendiri merupakan salah satu program prioritas nasional yang menyasar anak sekolah dari jenjang PAUD hingga SMA/SMK, baik negeri maupun swasta termasuk pesantren, serta balita dan ibu hamil.
Namun dalam pelaksanaannya, program tersebut masih menghadapi berbagai keluhan di sejumlah daerah, mulai dari kualitas menu hingga kasus dugaan keracunan makanan.












