Hibata.id – Siang itu, angin pesisir Kabila Bone berembus pelan, membawa aroma laut yang bercampur dengan wangi makanan olahan lokal dari deretan stan bazar.
Di antara riuh pengunjung, satu per satu orang berhenti, melihat, lalu membeli.
Di sinilah program Immigration Hub (ImiHub) tidak hanya hadir sebagai layanan negara, tetapi juga sebagai ruang hidup bagi ekonomi masyarakat.
Rabu (8/4/2026), kawasan pesisir itu berubah menjadi pusat aktivitas ekonomi.
Stan-stan berjejer rapi menampilkan beragam produk unggulan, mulai dari kerajinan tangan khas Gorontalo, olahan pangan kreatif, hingga kain karawo yang dikenal sebagai identitas budaya daerah.
Namun, perhatian pengunjung tidak hanya tertuju pada produk UMKM. Sebagian dari mereka tampak terkejut ketika mengetahui bahwa sejumlah produk interior dan aksesori yang tertata rapi itu merupakan hasil karya Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
Kualitas produk tersebut bahkan mendapat apresiasi langsung dari pengunjung.

Tidak sedikit yang menilai hasil karya warga binaan mampu bersaing dengan produk yang beredar di pasar umum.
Kepala Kantor Imigrasi Gorontalo, Josua Pahala Martua, menegaskan bahwa ImiHub dirancang sebagai ruang kolaborasi yang menghubungkan pelayanan publik dengan pemberdayaan ekonomi.
“Immigration Hub kami hadirkan bukan hanya untuk layanan keimigrasian. Kami ingin membuka ruang bagi UMKM dan warga binaan untuk berkembang. Ini bagian dari upaya memperkenalkan produk lokal Gorontalo kepada masyarakat luas, termasuk wisatawan,” ujar Josua di sela kegiatan.
Bagi pelaku UMKM, momentum ini menjadi lebih dari sekadar pameran. Mereka merasakan lonjakan pengunjung yang berdampak langsung pada peningkatan penjualan dalam satu hari kegiatan.
Di sisi lain, stan warga binaan menjadi simbol harapan baru. Produk yang lahir dari program pembinaan itu tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga membawa pesan tentang kesempatan kedua dan proses kembali ke masyarakat.
“Kami ingin menunjukkan bahwa pembinaan menghasilkan karya nyata. Ketika masyarakat membeli produk ini, mereka ikut mendukung proses reintegrasi sosial warga binaan,” kata Josua.
Melalui kegiatan tersebut, ImiHub menghadirkan wajah baru pelayanan publik yang lebih inklusif. Tidak hanya mengurus dokumen, tetapi juga menggerakkan ekonomi, membuka peluang usaha, dan menumbuhkan kepercayaan diri masyarakat.
Dari pesisir Kabila Bone, langkah kecil itu kini mulai terasa dampaknya. ImiHub tidak sekadar program, tetapi menjadi jembatan antara negara dan masyarakat, antara pembinaan dan peluang, serta antara kreativitas lokal dan pasar yang lebih luas.













