Hibata.id – Permainan adu jangkrik pernah menjadi hiburan populer di berbagai daerah di Indonesia, terutama di Pulau Jawa.
Kini, permainan yang dahulu digemari semua kalangan ini mulai ditinggalkan, terdesak oleh perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup.
Permainan tradisional adu jangkrik telah lama dikenal masyarakat Indonesia. Dahulu, anak-anak mencari sendiri jangkrik di sawah atau pekarangan.
Kini, jangkrik lebih mudah ditemukan karena dijual oleh pedagang keliling yang biasa mangkal di dekat sekolah.
Dalam buku Permainan Tradisional Indonesia yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 1998, disebutkan bahwa adu jangkrik biasa muncul pada musim gadon, yaitu masa ketika sawah ditanami palawija setelah panen padi.
Jenis jangkrik yang digunakan adalah jangkrik kalung jantan yang berwarna hitam legam dan memiliki tanda seperti kalung di lehernya. Jangkrik ini dikenal karena suaranya yang nyaring dan pergerakannya yang lincah.
Sejarawan Denys Lombard dalam bukunya Nusa Jawa: Silang Budaya menulis bahwa adu jangkrik merupakan hiburan khas masyarakat Jawa, namun juga menyebar di kalangan etnis Tionghoa.
Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII (1877–1921), permainan ini bahkan merambah istana Yogyakarta. Pertandingan rutin diadakan oleh bangsawan dan saudagar di Kota Gede setiap Selasa dan Jumat.
Tak hanya di Jawa, permainan ini juga dikenal di beberapa daerah lain. Di Bali, adu jangkrik disebut maluan, sementara di Aceh dikenal dengan nama daruet kleng.
Meski identik sebagai permainan anak-anak, orang dewasa pun turut memainkan dan bahkan mempertaruhkan uang dalam pertandingan tersebut.
Orientalis Snouck Hurgronje mencatat bahwa calon Sultan Aceh dikenal sebagai penggemar daruet kleng dan kerap memasang taruhan besar. Ia menyebutkan bahwa praktik bertaruh dilakukan secara tertutup di kalangan elite.
Sementara itu, antropolog James Danandjaja menjelaskan bahwa permainan maluan memiliki unsur sekuler dan sakral. Anak-anak di Bali, sebelum melepaskan jangkriknya, sering kali membacakan mantra dengan suara yang menyerupai ritual balian (dukun).
Penggunaan mantra dalam adu jangkrik juga ditemukan dalam artikel “Adoe Jangkrik” karya Tjan Tjoe Siem yang dimuat dalam majalah Djawa tahun 1940. Mantra seperti “Jantur, jantur, musuhmu gedhe dhuwur…” dipercaya dapat meningkatkan keberanian jangkrik saat bertarung.
Dalam beberapa kasus, jangkrik aduan diberi ramuan tradisional atau obat-obatan Tionghoa agar lebih kuat. Di Semarang pada 1901, ramuan tersebut terbukti membuat jangkrik lebih agresif dan unggul dalam pertandingan.
Namun, seperti halnya adu ayam, adu jangkrik juga dimanfaatkan sebagai ajang judi. Siem mencatat bahwa di daerah seperti Yogyakarta, Solo, dan Magelang, praktik perjudian dengan taruhan besar sering terjadi selama musim jangkrik.
Bentuk pertarungan bervariasi, mulai dari satu lawan satu hingga dua lawan tiga. Taruhannya tak main-main, dengan risiko cedera parah pada jangkrik seperti gigi patah, perut robek, sayap rusak, hingga kaki terputus akibat gigitan lawan.
Kini, adu jangkrik mulai jarang terlihat di tengah masyarakat, tergeser oleh permainan digital dan teknologi. Padahal, permainan ini menyimpan nilai budaya dan sejarah yang kaya. Upaya pelestarian permainan tradisional seperti adu jangkrik perlu terus digalakkan agar generasi muda tidak melupakan warisan budaya leluhur.












