Scroll untuk baca berita
Kabar

Cerita Pedagang Ornamen Kemerdekaan yang Bertahan di Tengah Sepinya Pembeli Gorontalo

×

Cerita Pedagang Ornamen Kemerdekaan yang Bertahan di Tengah Sepinya Pembeli Gorontalo

Sebarkan artikel ini
Ansar, pedagang bendera merah putih dan Ornamen kemerdekaan—umbul-umbul, kain dekorasi, hingga miniatur garuda. (Foto: Randa Damaling/Hibata.id)
Ansar, pedagang bendera merah putih dan Ornamen kemerdekaan—umbul-umbul, kain dekorasi, hingga miniatur garuda. (Foto: Randa Damaling/Hibata.id)

Hibata.id – Di sepanjang trotoar Jalan Jenderal Sudirman, deretan bendera merah putih bergoyang pelan tertiup angin. Ornamen kemerdekaan—umbul-umbul, kain dekorasi, hingga miniatur garuda—tersusun rapi di atas tikar seadanya. Di balik tumpukan itu, duduk seorang pria, matanya awas memperhatikan kendaraan yang lalu-lalang, berharap ada yang berhenti.

Namanya Ansar, 32 tahun. Ia bukan warga Gorontalo. Ia datang jauh-jauh dari Garut, Jawa Barat, membawa harapan dan barang dagangan yang ia sebut sebagai “musim panen tahunan.”

“Sudah sejak 2007 saya ke sini tiap Agustus. Kalau sudah masuk pertengahan Juli, saya tinggalin ladang, ganti jadi pedagang,” kata Ansar, Selasa (29/7/2025), dengan logat Sunda yang masih kental.

Baca Juga:  Kredit Dipersoalkan Nasabah, Bank Mandiri Taspen Tegaskan Proses Sesuai Ketentuan

Di kampung halamannya, Ansar adalah petani. Tapi sejak 18 tahun lalu, ia memilih menjadikan bulan kemerdekaan sebagai momen berkeliling kota-kota, menjual simbol kebangsaan demi menghidupi keluarganya. Tahun ini, langkahnya terasa lebih berat.

Biasanya, menjelang akhir Juli, pembeli mulai ramai berdatangan: dari instansi pemerintah, sekolah, hingga warga biasa yang ingin menghias rumah mereka. Tapi kini, jalanan lengang. Penjualan turun drastis. Bendera dan ornamen yang ia harap bisa laku, masih menumpuk di atas tikar.

“Dulu pertengahan bulan sudah ramai. Sekarang sudah akhir bulan, belum ada setengahnya terjual,” keluhnya pelan.

Baca Juga:  Pengangkatan PPPK 2024 Harus Cermat dan Hati-Hati

Ansar menjajakan barang dagangannya dengan harga bervariasi—bendera kecil Rp5.000, dekorasi gedung hingga Rp450.000. Setiap pagi, ia susun ulang lapaknya. Setiap sore, ia kemas kembali dengan rapi, berharap esok akan lebih ramai.

“Kalau lagi bagus, saya bisa bawa pulang untung lima juta sebulan. Tapi tahun ini, baru balik modal saja belum tentu,” ujarnya, matanya menerawang.

Namun meski untung merosot, Ansar enggan mengeluh terlalu dalam. Baginya, berdagang ornamen kemerdekaan bukan sekadar mencari nafkah. Ini adalah bentuk kecil dari kecintaan terhadap tanah air—kontribusi sederhana dari seorang petani yang tak banyak dikenal orang, tapi setia menjaga semangat merah putih tetap hidup di ruang publik.

Baca Juga:  Tidak Hanya Pekerjaan, Ternyata Pengawasan Proyek Gedung Puskesmas Mananggu Disulap?

“Saya cuma jual bendera. Tapi kalau masih ada yang mau beli, masih ada yang mau pasang di rumah, berarti semangat itu belum hilang,” ucapnya sambil tersenyum—senyum yang tampak tulus meski letih.

Di tengah ingar-bingar perayaan nasional yang kadang terasa formal dan seremonial, kisah Ansar menghadirkan sisi lain dari semangat kemerdekaan: perjuangan sunyi di pinggir jalan, di antara tumpukan bendera, di antara harapan yang tak pernah padam.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel