Scroll untuk baca berita
Lingkungan

Hampir Semua Lokasi PETI di Pohuwato Dilaporkan Aktif, Warga Kembali Waswas

×

Hampir Semua Lokasi PETI di Pohuwato Dilaporkan Aktif, Warga Kembali Waswas

Sebarkan artikel ini
Aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) di wilayah Dengilo, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo. (Foto: Warga/Ditingkatkan dengan Ai/Hibata.id
Aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) di wilayah Dengilo, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo. (Foto: Warga/Ditingkatkan dengan Ai/Hibata.id

Hibata.id – Aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, kembali menjadi keluhan warga.

Padahal, beberapa waktu lalu aparat gabungan sempat menertibkan sejumlah lokasi tambang ilegal di daerah tersebut.

Scroll untuk baca berita

Saat penertiban dilakukan, petugas membongkar titik-titik PETI dan menyita alat berat serta perlengkapan tambang.

Langkah itu sempat memberi harapan bagi warga, terlebih karena pimpinan tertinggi kepolisian di Gorontalo turut hadir dalam operasi tersebut.

Setelah penertiban, warga mulai merasakan dampak positif. Air sungai yang sebelumnya keruh perlahan terlihat lebih jernih.

Para petani pun kembali menggunakan air sungai untuk mengairi sawah mereka.

Namun, kondisi itu tidak bertahan lama. Beberapa hari setelah operasi, warga kembali menerima kabar bahwa aktivitas PETI mulai berjalan lagi.

Informasi dari warga, seperti Desa Karya Baru, Botudulanga, Dengilo, Bulangita, Teratai (Marisa), hingga kawasan Popayato.

Kabar tersebut membuat warga kembali cemas. Seorang warga Pohuwato yang terdampak langsung mempertanyakan kelanjutan penegakan hukum terhadap aktivitas PETI.

“Saya dengar mereka mulai bekerja lagi secara serentak. Katanya sudah ada surat izin, tapi kami tidak tahu izin dari mana,” ujar warga tersebut yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Baca Juga:  PETI Bulangita: Mencemari Lingkungan Hingga Merusak Saluran Air

Selain itu, warga juga mengungkapkan bahwa pergerakan alat berat ke lokasi PETI masih terus terjadi.

Hampir setiap saat, mobil besar disebut masuk ke lokasi tambang untuk mengangkut ekskavator.

“Alat berat masih terus masuk. Hampir setiap waktu ada mobil besar yang mengantar ekskavator ke lokasi PETI,” kata warga tersebut.

Ia mengatakan, setelah penertiban beberapa waktu lalu, kondisi sungai sempat membaik dan kembali jernih. Warga pun mulai beraktivitas di sekitar sungai.

Namun kini, perubahan itu kembali menghilang.

“Padahal setelah penertiban kemarin, air sudah mulai jernih. Sekarang sudah keruh lagi,” katanya.

Warga berharap penertiban PETI tidak hanya dilakukan sesaat, tetapi berlanjut secara konsisten.

Mereka ingin ada langkah tegas agar aktivitas tambang ilegal tidak kembali merusak lingkungan dan mengganggu kehidupan masyarakat.

PETI Desa Teratai

Berbeda dengan malam di Desa Teratai, Dusun Moduito, Kecamatan Marisa, Kabupaten Pohuwato. Seharusnya menjadi waktu warga beristirahat setelah seharian bekerja, belakangan suasana itu berubah.

Saat sebagian besar rumah mulai mematikan lampu dan jalan kampung sepi, suara mesin justru terdengar dari kejauhan. Getaran tanah pelan-pelan terasa. Suara batu, pasir, dan deru alat berat menyusup ke sela-sela malam.

Baca Juga:  Ujung 2025, PETI di Pohuwato Masih Menggali Masalah

Warga menyebut aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) kembali muncul di sekitar permukiman.

Padahal, aparat gabungan Polri dan TNI belum lama ini melakukan penertiban. Tetapi di Pohuwato, aktivitas tambang ilegal seolah tidak pernah benar-benar berhenti.

Setelah satu titik ditertibkan, titik lain kembali muncul. Bagi warga, kondisi itu seperti siklus yang berulang.

Tambang Ilegal Diam-Diam Saat Malam

Seorang warga Desa Teratai yang enggan disebutkan namanya mengatakan aktivitas PETI biasanya berlangsung saat malam hari.

Ia menduga pelaku sengaja memilih waktu tersebut agar tidak mudah terlihat petugas.

“Dorang bekerja nanti malam, Pak. So mulai banyak lagi yang bekerja,” katanya pelan.

Warga menyaksikan alat berat mulai masuk satu per satu. Tanah digerus, lubang-lubang baru terbentuk. Pelaku bekerja cepat, seolah berpacu dengan waktu.

Bagi warga, bunyi mesin di tengah malam bukan sekadar gangguan. Suara itu menjadi pertanda bahwa aktivitas tambang ilegal masih berjalan, meski keluhan warga sudah berulang kali disampaikan.

Warga menegaskan mereka tidak mempermasalahkan siapa yang mendapatkan hasil. Namun mereka ingin aturan ditegakkan secara adil.

“Saya bukan iri, tapi kalau memang tidak bisa bekerja, usahakan samua tidak bekerja. Jadi mending angka di media,” ujarnya.

Baca Juga:  Empat Fakta Perkembangan Danau Limboto Gorontalo saat ini

Ia juga menyebut aktivitas alat berat tidak hanya terjadi dekat permukiman. Beberapa lokasi tambang disebut berada di area yang lebih tinggi.

“Ada juga yang bekerja di atas,” katanya.

Tanggapan Ketua DPRD

Ketua DPRD Kabupaten Pohuwato, Beni Nento/Hibata.id
Ketua DPRD Kabupaten Pohuwato, Beni Nento/Hibata.id

Menanggapi keluhan tersebut, Beni Nento menyampaikan bahwa aparat kepolisian telah melakukan penertiban terhadap aktivitas pertambangan ilegal di wilayah Pohuwato.

Ia mengatakan Kapolda Gorontalo juga telah turun langsung ke lokasi PETI sebagai bentuk keseriusan aparat dalam menangani persoalan tersebut.

“Penertiban ini kemungkinan akan kembali dilakukan dalam waktu dekat, bisa satu atau dua hari ke depan, karena aktivitas PETI ini sudah menjadi keluhan serius masyarakat,” kata Beni Nento.

Beni Nento menegaskan DPRD Kabupaten Pohuwato juga berkomitmen untuk meninjau langsung kondisi di lokasi tambang ilegal tersebut.

Ia menyebut pihaknya saat ini menunggu kehadiran tokoh masyarakat ke DPRD untuk memberikan dukungan moral kepada aparat penegak hukum dalam proses penertiban.

“Ini murni aspirasi masyarakat yang terdampak langsung oleh aktivitas PETI. Karena itu, perlu dukungan bersama agar penertiban berjalan maksimal,” ujarnya.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel