Hibata.id, Gorontalo – Mikroplastik ditemukan di enam titik perairan Provinsi Gorontalo berdasarkan penelitian yang dipublikasikan dalam Environmental Pollution Journal pada Maret 2023.
Temuan tersebut menunjukkan adanya partikel plastik berukuran kecil di lokasi pengambilan sampel dan menjadi perhatian dalam upaya menjaga ekosistem perairan.
Penelitian berjudul Identifikasi Kelimpahan Mikroplastik di Sekitar Perairan Provinsi Gorontalo yang ditulis Devita Mega Argiandini itu menggunakan sampel air yang diambil pada Desember 2022.
Studi tersebut mengidentifikasi empat jenis mikroplastik, yakni fragmen, filamen, fiber, dan pellet. Partikel tersebut ditemukan di enam lokasi, yaitu Talumolo, Jembatan Talumolo, Paguyaman, Gorontalo Tanggul Limboto, Anjungan Limboto, dan Marisa.
Peneliti menjelaskan bahwa mikroplastik berpotensi menimbulkan dampak fisik, kimiawi, dan biologis terhadap organisme perairan yang menelannya.
Catat Kelimpahan Tertinggi
Hasil penelitian mencatat kelimpahan mikroplastik di Jembatan Talumolo sebesar 0,52 partikel per liter. Angka tersebut menjadi yang tertinggi di antara lokasi yang memiliki data kelimpahan dalam uraian penelitian ini.
Sementara itu, Talumolo mencatat kelimpahan 0,38 partikel per liter. Di lokasi lain, angkanya mencapai 0,21 partikel per liter di Gorontalo Tanggul Limboto, 0,29 partikel per liter di Anjungan Limboto, dan 0,28 partikel per liter di Marisa.
Khusus di Marisa, filamen menjadi jenis mikroplastik yang paling dominan dengan kelimpahan 0,15 partikel per liter berdasarkan simpulan penelitian.
Peneliti juga mengidentifikasi fragmen dan fiber sebagai jenis mikroplastik yang banyak ditemukan di sejumlah lokasi perairan Gorontalo.
Fragmen umumnya berasal dari pecahan benda plastik berukuran lebih besar. Adapun fiber dapat berasal dari serat pakaian, jaring ikan, dan tali yang digunakan dalam aktivitas perikanan.
Sementara itu, filamen dapat terbentuk dari degradasi produk plastik, termasuk kantong plastik dan kemasan makanan.
Mengganggu Organisme Perairan
Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran kecil yang dapat bertahan dan menyebar di lingkungan perairan. Ukurannya memungkinkan partikel tersebut tertelan oleh organisme akuatik, bergantung pada ukuran partikel dan karakteristik organisme yang terpapar.
Dalam kajiannya, Argiandini menjelaskan bahwa mikroplastik dapat memengaruhi organisme yang menelannya melalui mekanisme fisik, kimiawi, maupun biologis.
Namun, penelitian tersebut berfokus pada identifikasi jenis dan kelimpahan mikroplastik dalam sampel air. Studi itu tidak mengukur dampak langsung partikel terhadap kesehatan biota di perairan Gorontalo maupun risiko kesehatan manusia akibat mengonsumsi hasil laut.
Karena itu, temuan mikroplastik di enam lokasi tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa seluruh biota atau hasil laut Gorontalo telah terkontaminasi. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengetahui tingkat paparan dan dampaknya terhadap organisme perairan.
Sampah Plastik Menjadi Perhatian
Penelitian tersebut menyoroti aktivitas manusia dan masuknya sampah plastik ke lingkungan perairan sebagai faktor yang berkaitan dengan keberadaan mikroplastik.
Plastik yang terpapar sinar matahari, gelombang, dan proses pelapukan dapat terpecah menjadi partikel yang lebih kecil. Selain itu, serat pakaian, tali, dan alat tangkap ikan juga berpotensi menjadi sumber partikel plastik di perairan.
Dalam simpulan penelitiannya, Argiandini menekankan pentingnya mengurangi sampah plastik untuk membantu mengatasi persoalan mikroplastik.
Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pengelolaan sampah yang lebih baik, pencegahan pembuangan sampah ke sungai dan laut, serta peningkatan kesadaran masyarakat dalam mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Bagi Gorontalo, pemantauan kualitas air dan penelitian lanjutan penting untuk mendukung pengelolaan sumber daya perikanan dan kelautan. Data yang berkelanjutan diperlukan untuk mengetahui perubahan kelimpahan mikroplastik, sumber pencemaran, serta potensi dampaknya terhadap ekosistem.
Meski demikian, penelitian ini menggunakan sampel yang diambil pada Desember 2022. Hasilnya menggambarkan kondisi pada periode dan lokasi pengambilan sampel tersebut, bukan kondisi terkini seluruh perairan Gorontalo.












