Headline

Kayu Gorontalo Jadi Primadona Jepang, Nilai Ekspornya Puluhan Juta Dolar

×

Kayu Gorontalo Jadi Primadona Jepang, Nilai Ekspornya Puluhan Juta Dolar

Sebarkan artikel ini
Proses pengambilan kayu alam hutan Popayato, Pohuwato yang menjadi di wilayah konsesi BTL untuk dijadikan wood pellet. Foto: Infis (Arfandi Ibrahim/Liputan6.com)
Proses pengambilan kayu alam hutan Popayato, Pohuwato yang menjadi di wilayah konsesi BTL untuk dijadikan wood pellet. (Foto: Infis)/Hibata.id

Gorontalo, Hibata.id – Perdagangan luar negeri Provinsi Gorontalo menunjukkan kekuatan ekspor yang jauh lebih besar dibandingkan impor.

Namun, di balik surplus perdagangan yang mencapai US$58,36 juta hingga September 2026, struktur ekspor daerah ini masih bertumpu pada komoditas kayu dan sejumlah produk pertanian, dengan Jepang sebagai pasar tujuan utama.

Berdasarkan Berita Resmi Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo yang dirilis 2 November 2026, nilai ekspor daerah tersebut sepanjang Januari-September 2026 mencapai US$64,69 juta.  Sementara itu, nilai impor hanya sebesar US$6,33 juta.

Dengan selisih tersebut, Gorontalo mencatat surplus perdagangan sebesar US$58,36 juta. Nilai ekspor bahkan mencapai lebih dari 10 kali lipat dibandingkan impor.

Dominasi ekspor juga terlihat pada September 2026. BPS mencatat nilai ekspor Gorontalo mencapai US$6,23 juta, sedangkan tidak ada impor yang tercatat melalui pelabuhan di Provinsi Gorontalo pada bulan tersebut.

Meski demikian, kinerja ekspor bulanan belum sepenuhnya menunjukkan tren peningkatan. Nilai ekspor September turun 41,51 persen dibandingkan Agustus 2026 yang mencapai US$10,65 juta.

Secara tahunan, ekspor kumulatif Januari-September 2026 juga mengalami penurunan 2,79 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025, ketika nilainya mencapai US$66,55 juta.

Kayu Menjadi Penopang Utama Ekspor Gorontalo

Di balik nilai ekspor yang mencapai puluhan juta dolar AS, komoditas kayu dan barang dari kayu masih menjadi tulang punggung perdagangan luar negeri Gorontalo.

BPS mencatat kelompok komoditas tersebut menyumbang US$36,26 juta sepanjang Januari-September 2026 atau setara 56,05 persen dari total ekspor daerah.

Baca Juga:  Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Hasto Sentil Tata Kelola Negara

Posisi kedua ditempati kelompok buah dan biji-bijian atau kacang yang dapat dimakan dengan nilai US$20,70 juta atau berkontribusi 31,99 persen.

Jika digabungkan, kedua kelompok komoditas itu menyumbang sekitar 88 persen dari keseluruhan ekspor Gorontalo.

Sementara itu, komoditas lainnya meliputi ampas atau sisa industri kopra senilai US$2,78 juta, perhiasan dan permata US$2,68 juta, serta lemak dan minyak hewan atau nabati sebesar US$1,04 juta.

Dominasi kayu bahkan lebih besar jika dilihat dari sisi volume. Komoditas tersebut menyumbang sekitar 91 persen dari total volume ekspor Gorontalo selama sembilan bulan pertama 2026.

Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas ekspor Gorontalo masih terkonsentrasi pada beberapa kelompok produk.

Kondisi ini memberikan peluang untuk memperkuat komoditas unggulan, tetapi sekaligus menjadi tantangan dalam memperluas diversifikasi produk ekspor.

Jepang Menjadi Tujuan Hampir Separuh Ekspor

Ketergantungan perdagangan luar negeri Gorontalo tidak hanya terlihat dari jenis komoditas, tetapi juga dari negara tujuan ekspor.

Jepang menjadi pasar terbesar produk asal Gorontalo dengan nilai mencapai US$31,10 juta sepanjang Januari-September 2026. Angka tersebut setara 48,07 persen dari total ekspor daerah.

Jerman menempati posisi berikutnya dengan nilai US$7,38 juta, disusul Korea Selatan sebesar US$5,65 juta dan Rusia US$4,13 juta.

Besarnya kontribusi Jepang menunjukkan pentingnya pasar tersebut bagi aktivitas ekspor Gorontalo. Hampir separuh nilai ekspor daerah terserap ke satu negara tujuan.

Baca Juga:  Tips Memilih Takjil Aman Ramadan 2026

Di satu sisi, kondisi ini memperlihatkan kuatnya hubungan perdagangan Gorontalo dengan pasar Jepang. Namun, di sisi lain, konsentrasi pasar juga menjadi perhatian karena perubahan permintaan maupun kebijakan perdagangan di negara tujuan berpotensi memengaruhi kinerja ekspor daerah.

Karena itu, perluasan pasar internasional menjadi salah satu langkah penting agar produk unggulan Gorontalo memiliki lebih banyak tujuan perdagangan.

Lebih dari Separuh Ekspor September Dikirim Lewat Luar Daerah

Persoalan lain yang menarik dari data perdagangan luar negeri Gorontalo adalah jalur pengiriman komoditas ekspor.

Pada September 2026, nilai ekspor yang diberangkatkan melalui pelabuhan di Provinsi Gorontalo mencapai US$2,92 juta.

Sementara itu, pengiriman melalui fasilitas pelabuhan dan bandara di luar daerah mencapai sekitar US$3,31 juta.

Dengan demikian, lebih dari separuh nilai ekspor pada bulan tersebut menggunakan jalur logistik di luar Provinsi Gorontalo.

Sejumlah komoditas yang dikirim melalui daerah lain antara lain produk buah dan biji-bijian melalui Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, serta perhiasan dan permata melalui Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.

Sementara itu, komoditas kayu senilai US$2,92 juta diberangkatkan langsung melalui pelabuhan di Gorontalo dengan tujuan Jepang.

Jika dilihat secara kumulatif, ekspor melalui pelabuhan di Gorontalo selama Januari-September 2026 mencapai US$39,04 juta. Adapun pengiriman melalui pelabuhan dan bandara di luar provinsi tercatat US$25,65 juta.

Data tersebut menunjukkan bahwa pelabuhan Gorontalo telah berperan penting dalam mendukung perdagangan luar negeri. Namun, jalur logistik di luar daerah masih menjadi bagian dari rantai distribusi sejumlah komoditas ekspor.

Baca Juga:  Islam Progresif dan Marxisme: Jejak Perlawanan Rakyat Kecil dari Diponegoro

Kondisi ini membuka ruang bagi pemerintah daerah untuk memperkuat infrastruktur pelabuhan, meningkatkan konektivitas transportasi, serta menyederhanakan pelayanan ekspor agar pengiriman produk unggulan semakin efisien.

Surplus Besar, Tantangan Nilai Tambah Masih Menanti

Surplus perdagangan sebesar US$58,36 juta menjadi gambaran kuatnya kontribusi ekspor terhadap perdagangan luar negeri Gorontalo.

Namun, besarnya surplus belum otomatis menunjukkan bahwa seluruh potensi ekonomi ekspor telah memberikan nilai tambah maksimal bagi daerah.

Tantangan berikutnya adalah memperkuat struktur ekonomi di balik aktivitas perdagangan tersebut.

Pengembangan industri pengolahan, peningkatan kualitas produk pertanian dan perkebunan, serta perluasan akses pasar internasional dapat menjadi langkah untuk meningkatkan daya saing komoditas unggulan Gorontalo.

Selain mengejar peningkatan nilai ekspor, pemerintah daerah juga perlu mendorong agar aktivitas perdagangan luar negeri memberikan dampak lebih luas melalui penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan industri lokal, dan peningkatan kapasitas pelaku usaha.

Ketika ekspor masih didominasi kayu dan produk pertanian, diversifikasi menjadi kebutuhan agar perdagangan luar negeri tidak terlalu bergantung pada segelintir komoditas maupun pasar tujuan.

Surplus US$58,36 juta telah menunjukkan kekuatan ekspor Gorontalo. Pekerjaan berikutnya adalah mengubah kekuatan perdagangan tersebut menjadi pertumbuhan ekonomi yang lebih beragam, memiliki nilai tambah, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.