Kabar

Bikin Penasaran, 3 Agenda Besar Gorontalo yang Diminta Gusnar ke Kader HMI

×

Bikin Penasaran, 3 Agenda Besar Gorontalo yang Diminta Gusnar ke Kader HMI

Sebarkan artikel ini
Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail saat memberikan sambutan pada Halal Bihalal KAHMI/HMI – FORHATI/KOHATI yang turut dihadiri Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi bertempat di Aula Rumah Jabatan Gubernur, Rabu (8/4/2026). FOTO: berita.gorontaloprov.go.id
Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail saat memberikan sambutan pada Halal Bihalal KAHMI/HMI – FORHATI/KOHATI yang turut dihadiri Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi bertempat di Aula Rumah Jabatan Gubernur, Rabu (8/4/2026). FOTO: berita.gorontaloprov.go.id

Hibata.id – Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail mengungkap tiga agenda besar yang saat ini tengah diperjuangkan pemerintah daerah.

Ia secara khusus meminta dukungan penuh dari kader dan alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dalam sebuah momentum yang tidak biasa.

Permintaan itu disampaikan saat Halal Bihalal KAHMI/HMI–FORHATI/KOHATI di Aula Rumah Jabatan Gubernur, Rabu (8/4/2026), yang juga dihadiri Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi.

Di hadapan ratusan kader, Gusnar tidak hanya berbicara soal program, tetapi juga membuka gambaran masa depan Gorontalo yang dinilai bisa berubah signifikan jika tiga agenda ini terwujud.

Agenda pertama menyangkut perluasan Bandara Djalaluddin untuk mewujudkan embarkasi haji penuh. Gusnar mengungkapkan, pembangunan infrastruktur sudah mulai berjalan.

“Apron untuk pesawat berbadan lebar sementara dikerjakan, dan runway ditargetkan pada 2027. Kalau ini selesai, penerbangan umrah langsung dari Gorontalo ke Tanah Suci bukan lagi sekadar rencana,” ujar Gusnar.

Baca Juga:  Gelar Diskusi Publik, AJI Gorontalo Desak Penghentian Kekerasan Terhadap Jurnalis

Ia menambahkan, jumlah jamaah umrah dari Gorontalo setiap tahun mencapai 3.000 hingga 4.000 orang, sehingga kebutuhan penerbangan langsung dinilai semakin mendesak.

Namun, bukan hanya soal haji dan umrah yang menjadi perhatian.

Agenda kedua yang disorot adalah peningkatan status IAIN Sultan Amai menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). Gusnar menyebutkan prosesnya kini sudah berada di Sekretariat Negara.

Menurutnya, perubahan status ini bukan sekadar administratif, tetapi akan berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan dan daya saing sumber daya manusia di Gorontalo.

Meski dua agenda tersebut sudah cukup menarik perhatian, Gusnar menyebut masih ada satu hal yang tidak kalah penting—bahkan menjadi simbol jangka panjang daerah.

Agenda ketiga ini adalah pembangunan Masjid Raya Gorontalo Islamic Centre.

“Gorontalo dikenal sebagai Serambi Madinah, tetapi kita belum memiliki masjid raya yang representatif seperti daerah lain,” katanya.

Baca Juga:  Fakta Baru di RSUD Bolmut: Gedung Elit, Fasilitas Sulit

Pernyataan itu langsung memantik perhatian peserta. Dalam kesempatan yang sama, Gusnar bahkan menampilkan desain masjid serta membuka donasi melalui QRIS, sebagai langkah konkret mempercepat pembangunan.

Cerita Viva Yoga Mauladi

Sementara itu, Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi memberikan perspektif berbeda. Ia membagikan kisah perjalanan organisasinya di HMI yang tidak selalu berjalan mulus.

Ia mengaku pernah dua kali gagal mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PB HMI, sebelum akhirnya terpilih pada periode 1995–1997.

“Proses di HMI itu keras, tetapi justru membentuk karakter kepemimpinan. Dari situlah saya belajar menghadapi kegagalan hingga akhirnya dipercaya memegang amanah di pemerintahan,” ujar Viva Yoga.

Menurutnya, kaderisasi di HMI menjadi fondasi penting dalam membentuk pemimpin, termasuk Gusnar Ismail yang kini menjabat gubernur.

Momen tersebut juga menghadirkan nuansa emosional ketika Bupati Gorontalo Utara Thariq Modanggu bertemu kembali dengan Viva Yoga. Ia mengenang masa ketika dilantik sebagai pengurus HMI oleh Viva Yoga pada era 1990-an.

Baca Juga:  Soal Nama Gubernur di Medali GHM, Kadispora Gorontalo Beri Penjelasan Resmi

“Sekarang kami bertemu kembali dalam posisi yang berbeda, ini menjadi bukti perjalanan panjang kader HMI,” ujar Thariq.

Menutup sambutannya, Gusnar kembali menegaskan bahwa tiga agenda yang ia sampaikan bukan sekadar program pemerintah, tetapi merupakan langkah strategis yang membutuhkan dukungan kolektif.

Ia pun mengingatkan kader HMI untuk tidak berhenti berproses dan terus berkontribusi.

“Kader HMI harus siap menghadapi dinamika, baik keberhasilan maupun tantangan. Amanah harus dijalankan dengan tanggung jawab,” kata Gusnar.

Tiga agenda itu kini menjadi perhatian. Namun pertanyaannya, seberapa cepat semua rencana tersebut bisa terwujud? Jawabannya akan sangat bergantung pada dukungan semua pihak—terutama kader HMI sendiri.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel