Hibata.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya jadi momen paling ditunggu siswa, mendadak berubah jadi “episode kedua” hari sekolah.
Alih-alih menikmati makanan saat jam istirahat, sejumlah siswa di Gorontalo justru harus pulang dulu, lalu dipanggil balik lagi ke sekolah. Ya, ibarat nonton sinetron yang belum tamat.
Peristiwa ini terjadi di SPPG Dutohe Barat, Kecamatan Kabila. Jadwal yang seharusnya berjalan rapi—pukul 08.00 untuk PAUD hingga kelas 2 SD, lalu pukul 09.30 untuk kelas 3 sampai 6 SD—mendadak “melar” hingga sore hari.
Akibatnya? Siswa yang sudah ganti baju, bahkan mungkin sudah rebahan di rumah, harus kembali lagi ke sekolah demi seporsi MBG.
Bayangkan, dari posisi sudah santai di rumah, tiba-tiba dapat “panggilan tugas” lagi.
Dalam sebuah video yang beredar, petugas SPPG bahkan terdengar memberitahukan kepada guru agar siswa diminta untuk kembali.
“MBG SDN 6 dalam perjalanan, minta anak-anak kembali ke sekolah,” ujar petugas dalam video tersebut.
Kalau ini lomba lari bolak-balik, mungkin anak-anak sudah jadi juara.
Tak hanya itu, percakapan internal petugas juga mengakui adanya kendala.
“Iya ada kesalahan teknis tadi,” ujar salah satu petugas SPPG.
Sementara itu, makanan yang dinanti-nanti baru tiba sekitar pukul 16.00 WITA. Waktu yang biasanya dipakai anak-anak untuk bermain, bukan antre makan di sekolah.
Pengelola SPPG Dutohe Barat, Anggriyani Lukum, menjelaskan bahwa keterlambatan ini bukan tanpa sebab.
“Iya, benar. Keterlambatan ini terjadi karena pemasok tempe tidak mengantar pesanan tepat waktu,” ujarnya.
Jadi, kalau dirunut, ini bukan sekadar soal nasi dan lauk, tapi juga drama “tempe yang terlambat datang”.
Meski begitu, pihak pengelola menyampaikan permohonan maaf dan berjanji memperbaiki sistem distribusi ke depan.
“Ke depan kami akan melakukan perbaikan agar distribusi berjalan lebih baik dan tepat waktu,” kata Anggi.
Di sisi lain, Koordinator Regional Badan Gizi Nasional (BGN) Provinsi Gorontalo, Zulkifli Taluhumala, menegaskan bahwa distribusi MBG seharusnya tidak dilakukan hingga sore hari.
“ Tentunya tidak bisa, tapi kemungkinan terjadi ada,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pihaknya masih menunggu laporan resmi terkait kejadian tersebut.
“Saya minta laporan dulu terkait keterlambatan,” ia menandaskan.
Kisah ini pun jadi pengingat: dalam program sebesar MBG, yang ditunggu bukan hanya makanannya, tapi juga ketepatan waktunya.
Karena bagi siswa, makan gratis itu penting… tapi tidak harus pakai sistem “pulang dulu, balik lagi”.













