Hibata.id – Setiap perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Provinsi Gorontalo, kue kolombengi selalu menjadi sajian utama.
Kudapan tradisional ini tidak hanya hadir sebagai pelengkap acara, tetapi juga menjadi simbol silaturahmi masyarakat Gorontalo.
Kue kolombengi biasanya disajikan melalui tolangga, wadah berbentuk kerucut yang dihiasi aneka kue tradisional dan kemudian diarak warga menuju masjid. Tradisi ini menjadi ciri khas Maulid Nabi di Gorontalo.
Selain bernilai budaya, kolombengi juga membawa berkah ekonomi. Fathan, salah seorang pembuat kue kolombengi di Gorontalo, mengaku kewalahan menerima pesanan menjelang perayaan.
“Saat Maulid saya menerima banyak pesanan, biasanya berlangsung dua pekan tanpa henti. Pernah dalam sehari saya membuat lebih dari 500 biji kolombengi dan langsung habis terjual,” kata Fathan, Minggu (17/8).
Menurutnya, pesanan mulai berdatangan sepekan sebelum perayaan. Jumlahnya beragam, mulai dari puluhan hingga ratusan biji untuk setiap pemesan.
Kolombengi dibuat dari bahan sederhana seperti tepung terigu, telur ayam, dan gula. Setelah dicampur dengan vanili, soda kue, serta pewarna makanan sesuai selera, adonan dimasukkan ke dalam cetakan lalu dipanggang sekitar 15 menit hingga kering. Kudapan ini dikenal awet dan dapat disimpan lebih lama dibandingkan kue basah.
Bagi masyarakat Gorontalo, kolombengi tidak sekadar makanan, tetapi juga sarat makna budaya dan religius. Aisa Tune, warga Gorontalo, menyebut kue ini telah menjadi bagian dari tradisi sejak lama.
“Kolombengi sudah ada sejak dulu saat perayaan Maulid Nabi. Kue ini menjadi simbol eratnya silaturahmi warga Gorontalo. Sebagai daerah yang dijuluki Serambi Madinah, kami selalu merayakan hari besar Islam dengan kebersamaan, dan kolombengi menjadi salah satu perekat itu,” ujar Aisa.
Bagi masyarakat Gorontalo, Maulid Nabi terasa belum lengkap tanpa kehadiran kue kolombengi. Tradisi ini mempertegas identitas daerah sekaligus memperlihatkan bagaimana budaya dan agama berpadu dalam harmoni.












