Scroll untuk baca berita
Nusantara

Mongoloto Malu’o di Gorontalo, Ayam Kampung Jadi Menu Wajib Sahur Perdana

×

Mongoloto Malu’o di Gorontalo, Ayam Kampung Jadi Menu Wajib Sahur Perdana

Sebarkan artikel ini
Mongoloto Malu’o, Tradisi Makan Ayam Kampung Sahur Perdana di Gorontalo/Hibata.id
Mongoloto Malu’o, Tradisi Makan Ayam Kampung Sahur Perdana di Gorontalo/Hibata.id

Hibata.id – Masyarakat Gorontalo memiliki tradisi khas dalam menyambut bulan suci Ramadan. Sahur pertama, warga secara turun-temurun menyajikan hidangan berbahan dasar ayam kampung sebagai menu utama keluarga.

Tradisi tersebut dikenal dengan nama Mongoloto Malu’o, yang dalam bahasa Gorontalo berarti “menyembelih ayam”. Sejak dahulu, warga memaknai tradisi ini sebagai bentuk syukur dan penghormatan atas datangnya Ramadan.

Scroll untuk baca berita

Asal-usul dan Makna Tradisi

Secara historis, Mongoloto Malu’o tumbuh dari kebiasaan masyarakat agraris Gorontalo yang memelihara ayam kampung di pekarangan rumah.

Ayam kampung pada masa lalu bukanlah lauk sehari-hari. Warga biasanya hanya menyajikannya saat momen penting seperti hajatan, pesta adat, Idulfitri, dan awal Ramadan.

Baca Juga:  Lebaran Ketupat Gorontalo, Tradisi Jaton yang Kini Menjadi Milik Bersama

Karena itu, menyembelih ayam kampung pada sahur pertama menjadi simbol dimulainya bulan suci dengan hidangan terbaik yang dimiliki keluarga.

Seorang warga Gorontalo, Acang Rahman, mengatakan tradisi ini sudah dijalankan keluarganya sejak generasi terdahulu.

“Mongoloto Malu’o artinya menyembelih ayam. Biasanya ayam kampung dimasak khusus untuk sahur pertama Ramadan,” ujarnya.

Ragam Hidangan Khas

Ayam kampung dalam tradisi Mongoloto Malu’o diolah menjadi berbagai menu khas Gorontalo. Warga biasanya memasak pilitode atau kari khas daerah, ayam iloni yang dibumbui santan dan rempah, sup ayam, hingga ayam goreng tradisional.

Baca Juga:  Tradisi Slametan Pengantin Jawa: Makna Spiritual dan Simbol Harmoni dalam Pernikahan

Menu tersebut tidak hanya menjadi santapan sahur, tetapi juga mempererat kebersamaan keluarga saat menyambut Ramadan.

Memasuki bulan Ramadan, permintaan ayam kampung di pasar tradisional Gorontalo meningkat signifikan. Pedagang mengaku penjualan naik karena banyak keluarga mempertahankan tradisi Mongoloto Malu’o.

Lonjakan permintaan itu turut memengaruhi harga. Jika pada hari biasa ayam kampung dijual sekitar Rp60 ribu per ekor, menjelang Ramadan harganya bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per ekor.

Abidzar, warga Kabupaten Bone Bolango, mengaku tetap berusaha membeli ayam kampung meski harga naik.

Baca Juga:  Panggilan 'Ujang' di Budaya Sunda: Simbol Keakraban yang Mulai Tergerus Zaman

“Kami selalu masak ayam iloni dan ayam goreng saat sahur pertama. Itu sudah jadi kebiasaan keluarga,” katanya.

Tradisi yang Tetap Bertahan

Di tengah perubahan zaman, Mongoloto Malu’o masih bertahan sebagai bagian dari budaya Ramadan di Gorontalo. Tradisi ini tidak hanya soal kuliner, tetapi juga mencerminkan nilai kebersamaan, rasa syukur, dan silaturahmi dalam keluarga.

Tingginya permintaan ayam kampung setiap menjelang Ramadan menunjukkan bahwa masyarakat Gorontalo tetap menjaga warisan budaya tersebut dari generasi ke generasi.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel