Hibata.id – Masyarakat Gorontalo memiliki tradisi khas dalam menyambut bulan suci Ramadan. Sahur pertama, warga secara turun-temurun menyajikan hidangan berbahan dasar ayam kampung sebagai menu utama keluarga.
Tradisi tersebut dikenal dengan nama Mongoloto Malu’o, yang dalam bahasa Gorontalo berarti “menyembelih ayam”. Sejak dahulu, warga memaknai tradisi ini sebagai bentuk syukur dan penghormatan atas datangnya Ramadan.
Asal-usul dan Makna Tradisi
Secara historis, Mongoloto Malu’o tumbuh dari kebiasaan masyarakat agraris Gorontalo yang memelihara ayam kampung di pekarangan rumah.
Ayam kampung pada masa lalu bukanlah lauk sehari-hari. Warga biasanya hanya menyajikannya saat momen penting seperti hajatan, pesta adat, Idulfitri, dan awal Ramadan.
Karena itu, menyembelih ayam kampung pada sahur pertama menjadi simbol dimulainya bulan suci dengan hidangan terbaik yang dimiliki keluarga.
Seorang warga Gorontalo, Acang Rahman, mengatakan tradisi ini sudah dijalankan keluarganya sejak generasi terdahulu.
“Mongoloto Malu’o artinya menyembelih ayam. Biasanya ayam kampung dimasak khusus untuk sahur pertama Ramadan,” ujarnya.
Ragam Hidangan Khas
Ayam kampung dalam tradisi Mongoloto Malu’o diolah menjadi berbagai menu khas Gorontalo. Warga biasanya memasak pilitode atau kari khas daerah, ayam iloni yang dibumbui santan dan rempah, sup ayam, hingga ayam goreng tradisional.
Menu tersebut tidak hanya menjadi santapan sahur, tetapi juga mempererat kebersamaan keluarga saat menyambut Ramadan.
Memasuki bulan Ramadan, permintaan ayam kampung di pasar tradisional Gorontalo meningkat signifikan. Pedagang mengaku penjualan naik karena banyak keluarga mempertahankan tradisi Mongoloto Malu’o.
Lonjakan permintaan itu turut memengaruhi harga. Jika pada hari biasa ayam kampung dijual sekitar Rp60 ribu per ekor, menjelang Ramadan harganya bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per ekor.
Abidzar, warga Kabupaten Bone Bolango, mengaku tetap berusaha membeli ayam kampung meski harga naik.
“Kami selalu masak ayam iloni dan ayam goreng saat sahur pertama. Itu sudah jadi kebiasaan keluarga,” katanya.
Tradisi yang Tetap Bertahan
Di tengah perubahan zaman, Mongoloto Malu’o masih bertahan sebagai bagian dari budaya Ramadan di Gorontalo. Tradisi ini tidak hanya soal kuliner, tetapi juga mencerminkan nilai kebersamaan, rasa syukur, dan silaturahmi dalam keluarga.
Tingginya permintaan ayam kampung setiap menjelang Ramadan menunjukkan bahwa masyarakat Gorontalo tetap menjaga warisan budaya tersebut dari generasi ke generasi.













