Hibata.id – Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia (JMI), Islah Bahrawi, menilai nama Presiden ke-7 RI Joko Widodo berpotensi muncul dalam pengusutan dugaan penyimpangan kuota haji 2024.
Meski demikian, ia meragukan keberanian Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk memanggil Jokowi dalam perkara tersebut.
Pandangan itu disampaikan Islah melalui akun media sosial X miliknya pada Minggu (11/1/2026).
“Saya meyakini, seperti halnya kasus Tom Lembong dan Nadiem Makarim, dalam kasus kuota haji ini nama Jokowi akan disebut berkali-kali. Tapi saya juga meyakini, KPK tak akan pernah punya nyali untuk memanggil Jokowi,” ujar Islah.
Islah mengatakan akan memaparkan sejumlah temuan dan analisis terkait polemik kuota haji 2024 dalam sebuah podcast yang dijadwalkan tayang pada pekan depan. Ia menyebut pemaparannya merujuk pada dokumen yang dikenal sebagai Buku Putih Kuota Haji 2024.
“Saya akan bercerita tentang isi ‘Buku Putih Kuota Haji 2024’ ini dalam suatu podcast minggu depan,” kata Islah.
Menurut dia, terdapat sejumlah pertanyaan yang perlu dijelaskan secara terbuka kepada publik, termasuk dugaan hubungan antara Presiden Jokowi dan pihak swasta bernama Maktour dalam pengelolaan kuota haji.
“Apa kaitannya dengan Jokowi dan Maktour? Penetapan tersangka untuk Gus Yaqut sebenarnya untuk menyelamatkan siapa?” ujarnya.
Selain itu, Islah juga menyinggung kemungkinan adanya keterkaitan antara kasus kuota haji dengan dinamika internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang sempat mencuat beberapa waktu lalu.
“Apakah ada kaitannya dengan konflik di PBNU bulan lalu?” imbuhnya.
Lebih lanjut, Islah menyoroti dakwaan terhadap mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Yaqut, yang disebut membuat kebijakan yang menguntungkan pihak lain. Namun, menurutnya, pihak yang dimaksud belum pernah dijelaskan secara terbuka.
“Siapakah pemain utamanya dan siapa yang mengeruk keuntungan dalam kasus kuota haji? Gus Yaqut didakwa membuat kebijakan yang dapat menguntungkan orang lain, siapakah orang lain itu?” tegasnya.
Islah memastikan akan menyampaikan seluruh analisis dan temuannya kepada publik. Ia juga mengajak masyarakat untuk tetap menyuarakan kebenaran.
“Tunggu minggu depan, saya akan bicara. Jangan pernah takut menyuarakan kebenaran, karena yang benar maupun yang salah akan mati pada waktunya,” pungkas Islah.












