Hibata.id – Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI mengamankan empat oknum prajurit yang diduga terlibat dalam kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus.
Komandan Puspom TNI Mayjen TNI Yusri Nuryanto menyatakan pihaknya menerima penyerahan empat terduga pelaku dari tim Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI pada Rabu pagi.
“Pagi ini kami menerima empat orang yang diduga terlibat dalam tindak penganiayaan terhadap saudara Andrie Yunus,” ujar Yusri dalam konferensi pers di Mabes TNI, Jakarta, Rabu.
Keempat prajurit tersebut masing-masing berinisial NDP, SL, BWH, dan ES. Saat ini, mereka menjalani pemeriksaan intensif di Puspom TNI untuk proses penyidikan lebih lanjut.
Yusri menegaskan langkah cepat ini menunjukkan komitmen TNI dalam menindak tegas dugaan pelanggaran hukum di internal institusi.
“Kami telah mengamankan keempat terduga dan akan mendalami kasus ini hingga tahap penyidikan,” katanya.
Polri Telusuri Bukti CCTV
Di sisi lain, Kepolisian Republik Indonesia turut mengembangkan penyelidikan melalui analisis rekaman kamera pengawas (CCTV) di sekitar lokasi kejadian.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanuddin mengungkapkan dua terduga pelaku terekam menggunakan sepeda motor saat beraksi.
Pengendara motor terlihat mengenakan kemeja batik bermotif biru, sementara pelaku yang dibonceng memakai topi dan diduga sebagai eksekutor penyiraman air keras.
“Penumpang belakang terlihat menyiramkan cairan kepada korban. Seluruh gambar yang kami tampilkan berasal dari rekaman CCTV di sepanjang jalur hingga lokasi kejadian,” jelas Iman.
Ia memastikan rekaman tersebut asli dan bukan hasil manipulasi teknologi digital.
“Ini murni hasil CCTV, bukan rekayasa atau kecerdasan buatan,” tegasnya.
Identitas Terduga Pelaku Terungkap
Polisi telah mengantongi identitas dua terduga pelaku yang terekam kamera, masing-masing berinisial BHC dan MAK.
Meski demikian, penyidik tidak menutup kemungkinan adanya pelaku lain yang terlibat dalam kasus ini.
“Kami menduga pelaku bisa lebih dari empat orang. Penyelidikan akan terus berkembang sesuai temuan di lapangan,” ujar Iman.
Kasus penyiraman air keras terhadap aktivis HAM ini menjadi perhatian publik dan mendorong aparat gabungan untuk mengungkap motif serta jaringan pelaku secara menyeluruh.
Hingga kini, aparat masih mendalami latar belakang aksi kekerasan tersebut guna memastikan proses hukum berjalan transparan dan akuntabel.















