Scroll untuk baca berita
Kabar

PETI Hancurkan Lahan Petani Pohuwato, Pemprov Justru Sibuk Cetak Sawah Baru

×

PETI Hancurkan Lahan Petani Pohuwato, Pemprov Justru Sibuk Cetak Sawah Baru

Sebarkan artikel ini
Aktivitas PETI Stop, Namun Ekskavator Masih Terlihat di Lokasi Dengilo/Hibata.id
Aktivitas PETI Stop, Namun Ekskavator Masih Terlihat di Lokasi Dengilo/Hibata.id

Hibata.id – Dikelilingi hamparan hijau lahan Randangan, suara tepuk tangan pecah saat Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail membuka secara simbolis tanda dimulainya pembangunan cetak sawah baru.

Udara di Desa Manunggal Karya terasa segar, seolah memberi harapan baru bagi 5.642 hektare lahan pertanian yang akan digarap.

Scroll untuk baca berita

Program ini tidak kecil, anggaran Rp207 miliar dari APBN Kementerian Pertanian digelontorkan untuk memperkuat ketahanan pangan di Gorontalo.

Dalam sambutannya, Gusnar berdiri di panggung sederhana, menyampaikan pesan yang membuat para petani mengangguk penuh harap.

“Apa yang saya sampaikan ini merupakan bentuk perhatian Bapak Presiden Prabowo, kami hanya melaksanakan saja yang penting masyarakat dukung, kita bersama sama akan bekerja cepat dan segera merealisasikannya,” ujarnya dengan nada optimistis.

Ia menjelaskan bahwa Gorontalo memiliki sekitar 25.000 hektare sawah produktif. Dengan tambahan lahan baru ini, pemerintah akan menata ulang musim tanam agar hasil panen berlipat.

“Kita akan atur lagi musim tanamnya, kalau lahan irigasi begini minimal dua kali musim tanam pertahun, nah kita bisa buat tiga kali pertahun karena ada airnya. oleh sebab itu Ini kesempatan masyarakat untuk meningkatkan produksi pertanian khususnya produksi padi sawah,” katanya.

Baca Juga:  Ketua Komisi III DPRD Gorontalo Utara Klarifikasi Video Viral: “Bukan Ejekan, Hanya Ekspresi Balasan”

Cerita Petani Terdampak PETI

Di panggung itu, harapan terasa nyata. Namun jauh di balik tenda acara, ada kisah lain yang berputar perlahan—kisah yang tidak terlihat dalam seremoni penuh spanduk itu.

Beberapa kilometer dari lokasi groundbreaking, Kabupaten Pohuwato menyimpan cerita berbeda.

Di Duhiadaa, sawah-sawah yang dulu ramai suara mesin traktor kini lebih sering sunyi. Tanah retak, ilalang meninggi, dan seorang petani bernama Abdurahman Lukum menatap kosong ke hamparan lahannya.

Ia pernah merasakan masa di mana hasil panen menjadi sumber kebanggaan keluarga. Dulu, kata Abdurahman, karung-karung gabah menggunung di gilingan, dan pembeli berebut pesanan.

“Sekitar 80 persen petani di Duhiadaa sudah enggan mengelola sawah. Mereka takut gagal panen lagi,” ucapnya pelan, Rabu (24/9/2025) lalu.

Air irigasi yang keruh bercampur sedimen membuat padi sulit tumbuh. Tak hanya merusak tanaman, lumpur itu juga menyebabkan gatal-gatal bagi petani yang masih mencoba bertahan.

Baca Juga:  Kartu Joss Indosat Beredar di Gorontalo, Registrasi Diduga Pakai Data Warga

Ia menarik napas, memutar kembali ingatannya pada masa ketika mereka tidak hanya cukup makan, tetapi juga sejahtera. Kini, banyak petani justru membeli beras untuk kebutuhan harian.

“Uang jajan anak-anak dulu lancar. Sekarang hanya dicukup-cukupi. Kadang kami hanya bisa beri motivasi agar mereka tetap sabar dan sekolah,” lanjutnya dengan suara bergetar.

Biaya pengolahan sawah yang menembus Rp6 juta per hektare semakin membuat petani terjepit. Pengusaha gilingan padi yang biasa menalangi modal pun ikut terdampak, sebagian bahkan berniat menjual gilingan karena terlilit utang bank.

“Bantuan mesin pengolahan sawah memang ada, tapi untuk solar dan operator saja petani sudah tak sanggup bayar,” jelas Abdurahman.

Penyebab utama kemunduran ini, menurut Abdurahman, bukan sekadar cuaca atau gagal teknologi. Ia menunjuk jari ke arah perbukitan yang tampak dari kejauhan—wilayah yang dipenuhi aktivitas tambang ilegal.

“Kalau air bersih tanpa sedimen, hasil panen pasti berbeda. Dulu tambang manual tidak merusak, tapi sekarang tambang ilegal jadi penyumbang utama sedimen,” tegasnya.

Baca Juga:  Keluhan Peserta JKN Jadi Pemicu Pencopotan dr Alaludin Lapananda

Petani telah menyerahkan harapan mereka kepada pemerintah. Mereka meminta tiga langkah konkret: uji sampel air, uji tanah, dan penghentian sedimentasi.

“Kalau tiga hal itu tidak dilakukan, sawah di Duhiadaa dan Buntulia tinggal nama. Padahal, ini soal masa depan pangan Pohuwato,” katanya.

Harapan dan Luka: Dua Wajah Pangan Pohuwato

Di satu sisi, pemerintah mencanangkan sawah baru ribuan hektare dengan keyakinan mampu memperkuat ketahanan pangan. Di sisi lain, petani yang selama ini menjadi tulang punggung produksi justru terperosok dalam krisis lingkungan yang menghancurkan mata pencaharian.

Kisah para petani Pohuwato adalah pengingat bahwa pembangunan tidak hanya soal groundbreaking dan angka-angka anggaran. Ada masalah yang mengalir bersama air irigasi yang keruh—masalah yang harus dibersihkan sebelum bicara ketahanan pangan jangka panjang.

Di tengah pembukaan sawah baru, suara Abdurahman dan para petani lainnya seharusnya menjadi alarm, bahwa sebelum mencetak sawah baru, jangan biarkan sawah lama mati perlahan.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel