Scroll untuk baca berita
Parlemen

Soal Menu MBG ‘Hanya Tulang’, Kepala SPPG Tihu Akui Terjadi Penyusutan

×

Soal Menu MBG ‘Hanya Tulang’, Kepala SPPG Tihu Akui Terjadi Penyusutan

Sebarkan artikel ini
Anggota DPRD Gorontalo Femmy Udoki melakukan sidak ke SPPG Tihu usai keluhan siswa soal menu MBG yang dinilai lebih banyak tulang dan kurang variasi buah/Hibata.id
Anggota DPRD Gorontalo Femmy Udoki melakukan sidak ke SPPG Tihu usai keluhan siswa soal menu MBG yang dinilai lebih banyak tulang dan kurang variasi buah/Hibata.id

Hibata.id – Agenda reses yang biasanya menjadi ruang mendengar aspirasi warga, berubah menjadi alarm bagi Anggota DPRD Provinsi Gorontalo Kristina Mohamad Udoki atau yang akrab disapa Femmy.

Kemarin Rabu (4/2/2026), Femmy turun ke Desa Tunas Jaya. Di tengah pertemuan bersama warga, sebuah keluhan muncul dan langsung mencuri perhatian.

Bukan soal jalan rusak, bukan pula soal bantuan sosial, melainkan soal makanan yang setiap hari dikonsumsi anak-anak sekolah lewat Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Keluhan itu disampaikan langsung oleh Kepala SD Negeri 9 Bonepantai, Nur Ikhlas Muhamad. Ia menyebut para siswa mulai mempertanyakan menu yang belakangan berubah.

“Banyak siswa mengeluh karena menu MBG yang disajikan sekarang lauk kebanyakan tulang,” kata Nur Ikhlas.

Ia bahkan menirukan protes polos dari murid-muridnya yang terdengar sederhana, tetapi menyimpan persoalan besar.

“Mereka bilang, ‘Ibu, torang cuma makan tulang?’.”

Femmy yang mendengar laporan itu langsung memasang wajah serius.

Baginya, ini bukan sekadar kritik biasa. Ini menyangkut kualitas pelayanan gizi anak sekolah, program yang menjadi harapan banyak orang tua.

Baca Juga:  Empat Pimpinan Definitif DPRD Gorontalo Dilantik, Siap Emban Tugas 2024-2029

Srikandi Partai Amanat Nasional itu menegaskan persoalan ini tidak bisa dibiarkan berlarut. Ia bahkan menyatakan siap membawa masalah tersebut ke level pimpinan daerah.

“Saya akan serius menindaklanjuti ini. Saya akan koordinasi dengan Wakil Gubernur Gorontalo, Ibu Idah,” kata Femmy di hadapan warga.

Menurutnya, program MBG seharusnya dijalankan dengan standar tinggi, apalagi anggaran yang digunakan cukup besar dan menyasar kebutuhan dasar anak-anak.

Ia juga meminta pengawasan diperketat agar pelaksanaan program tidak menurun kualitasnya.

“Saya minta dinas pendidikan dan pihak terkait lebih peka agar program ini tersalurkan dengan baik dan sesuai harapan masyarakat,” tegasnya.

Dari Lokasi Reses ke Kantor SPPG

Tak menunggu lama, Femmy langsung bergerak. Setelah meninggalkan lokasi reses, ia menuju Kantor Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tihu untuk memastikan laporan itu benar-benar ditangani.

Setibanya di lokasi, Femmy tidak sekadar datang melihat aktivitas dapur. Ia langsung mempertanyakan teknis pengelolaan makanan, termasuk bagaimana standar lauk disiapkan hingga didistribusikan.

“Jadi, saya tadi reses di Tunas Jaya. Ada keluhan menu Program MBG dari Siswa yang disampaikan Kepseknya. Katanya, awalnya menu MBG masih bagus. Tapi, semakin kesini, menu daging MBG itu semakin kecil,” ujar Femmy kepada karyawan SPPG Tihu.

Baca Juga:  Nikma Tahir Tegaskan PPDB di Gorontalo Harus Sesuai Aturan

Ia juga menyampaikan masukan dari pihak sekolah terkait buah. Menurut laporan yang ia terima, siswa membutuhkan variasi buah yang lebih beragam, termasuk apel dan anggur.

Diskusi kemudian berlanjut lebih detail. Femmy menggali informasi tentang operasional dapur MBG, mulai dari jumlah kompor hingga jadwal masak dan distribusi.

Penjelasan Kepala SPPG

Kepala SPPG Tihu, Alwin Karim, menjelaskan bahwa pihaknya memasak dalam skala besar dengan dukungan delapan unit kompor. Aktivitas dapur bahkan dimulai saat sebagian warga masih terlelap.

Ia menyebut proses memasak dimulai pukul 02.00 dini hari.

Namun soal keluhan lauk “cuma tulang”, Alwin menyampaikan penjelasan teknis. Menurutnya, daging yang diterima dari pemasok sudah sesuai pesanan, tetapi mengalami penyusutan saat dimasak.

“Iya memang itu kita kan pesannya sudah sesuai ukuran dari supplier, cuma memang biasanya daging itu menyusut, memang itu akan dievaluasi nanti ke depan kita akan, ketika ada daging yang menyusut begitu nanti kita bisa bikin double, supaya kan dia tidak kecil,” jelas Alwin saat diwawancarai langsung awak media (Rabu, 4 Februari 2026).

Baca Juga:  DPRD Gorontalo Ungkap Kejanggalan Lelang Mobil PT JBA yang Rugikan Konsumen

Sementara terkait buah, Alwin mengatakan pihaknya akan memperbaiki variasi menu agar lebih sesuai dengan kebutuhan sekolah.

“Insya Allah nanti ke depan kita akan buat buah yang diinginkan, contoh misalkan, disini kan jarang sekali anggur, nanti insya Allah kita akan buat bahwa menunya itu ada anggur,” tuturnya.

Keluhan yang muncul di tengah reses itu menambah perhatian masyarakat terhadap pengelolaan Program Makan Bergizi Gratis. Banyak pihak berharap program ini benar-benar menjawab kebutuhan gizi anak-anak, bukan sekadar rutinitas distribusi makanan.

Femmy pun menegaskan pengawasan harus berjalan seiring dengan pelaksanaan, agar kualitas menu tetap terjaga dan tujuan program nasional tersebut tercapai.

Hingga saat ini, pengelolaan MBG masih menjadi perhatian publik demi memastikan pemenuhan gizi masyarakat dalam mendukung program Presiden Prabowo Subianto.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel