Scroll untuk baca berita
HeadlineKabar

Tambang Ilegal di Hulu Ancam Kehidupan Petani Padi Pohuwato di Hilir

×

Tambang Ilegal di Hulu Ancam Kehidupan Petani Padi Pohuwato di Hilir

Sebarkan artikel ini
Sawah milik petani di Kecamatan Buntulia dan Duhiadaa, Kabupaten Pohuwato. (Delpriyanto Tahir/Hibata.id)
Sawah milik petani di Kecamatan Buntulia dan Duhiadaa, Kabupaten Pohuwato. (Delpriyanto Tahir/Hibata.id)

Hibata.id – Nasib para petani padi di Kecamatan Duhiadaa dan Buntulia, Kabupaten Pohuwato, kian memprihatinkan. Saluran irigasi yang rusak parah dan sedimentasi yang semakin mengkhawatirkan membuat ribuan petani mengalami penurunan produksi drastis.

Abdurahman Lukum, Ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Duhiadaa, menyampaikan kondisi mengenaskan yang mereka hadapi. Setiap musim tanam, saluran irigasi sekunder dan tersier dipenuhi lumpur dan pasir, hingga masuk ke petak-petak sawah.

“Setiap kali air dialirkan, bukan hanya air yang datang, tapi juga pasir yang mengendap di lahan. Ini memperparah kondisi tanaman dan membuatnya rentan rusak,” ungkap Abdurahman.

Masalah tidak berhenti di situ. Air berlumpur turut mengganggu efektivitas penyemprotan pestisida. Akibatnya, hama tetap berkembang, rumput liar sulit mati, dan para petani kerap mengalami gangguan kulit saat mengolah tanah.

“Pupuk baru ditabur, belum satu bulan padi sudah menguning. Tunasnya lemah, hasil panen jauh dari harapan. Produktivitas menurun drastis, kami terus merugi,” keluhnya.

Baca Juga:  YBM RO Manado Salurkan 100 Mushaf untuk Perkuat Pendidikan Al-Qur’an di Gorontalo

Upaya Bupati Dinilai Belum Menyentuh Akar Masalah

Abdurahman mengakui bahwa Bupati Pohuwato telah berusaha membantu melalui pengerukan saluran dan pemberian bantuan. Namun ia menilai, upaya tersebut belum menyentuh akar persoalan.

“Pengerukan tetap kami lanjutkan dengan iuran solar dari sumbangan, karena saluran sekunder bukan sepenuhnya wewenang Pemda. Kami apresiasi niat baik Pak Bupati, tapi selama tambang ilegal masih beroperasi, sedimen akan terus datang,” jelasnya.

Sumber masalah utama, menurutnya, adalah aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) yang kian merajalela. Penambang kini menggunakan excavator besar yang merusak ekosistem hulu sungai.

“Sungai digali, dialirkan seenaknya, air jadi keruh dan penuh lumpur. Dulu tambang memang ada, tapi dilakukan secara tradisional, tidak sebrutal sekarang,” kata Abdurahman.

Ia menegaskan, selama tambang ilegal tidak ditindak tegas, semua upaya normalisasi irigasi akan sia-sia. “Sedimen tidak akan pernah habis kalau hulunya terus rusak.”

Petani Terancam Gagal Panen Total

Sedikitnya 4.000 petani di wilayah ini menggantungkan hidup dari pertanian padi. Namun akibat rusaknya irigasi dan kualitas air yang buruk, mereka nyaris tidak dapat menikmati hasil panen.

Baca Juga:  Gubernur Gorontalo Diingatkan Taat Inpres Soal Pengadaan Mobil Dinas Rp4.1 Miliar

Mohamad Badu, salah seorang petani, hanya mampu menghasilkan 20 karung padi dari 2 hektare lahan yang biasanya bisa menghasilkan 100 karung. Sementara itu, Sili Madjiji harus menerima kenyataan pahit: dari lahan 3 hektare, ia pernah panen 120 karung, kemudian 70 karung, dan kini nihil total.

“Bayangkan, keluar biaya belasan juta rupiah tapi hasilnya nol. Ini bukan sekadar rugi, tapi bencana bagi kami,” ujarnya.

Nasib serupa juga dialami Midun Rahim, Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Duhiadaa sekaligus petani aktif. Dari 1,5 hektare lahannya, biasanya ia bisa panen lebih dari 100 karung. Musim ini, hanya 24 karung yang bisa diselamatkan.

“Sudah pakai pupuk lengkap, semprot sesuai prosedur, tapi air keruh membuat semua usaha percuma. Ini musim terburuk sepanjang saya bertani,” ucap Midun.

Baca Juga:  Gorontalo Half Marathon 2025 Bagikan Race Pack, Panitia Matangkan Persiapan Akhir

Harapan Petani: Solusi Nyata, Bukan Janji Semu

Para petani kini menggantungkan harapan pada keseriusan pemerintah. Mereka tidak membutuhkan sekadar bantuan bibit, karena tanpa air bersih dan saluran irigasi yang berfungsi, bibit pun tak berguna.

“Kami butuh solusi nyata. Perlu penanganan sedimentasi secara berkelanjutan, pasokan air bersih untuk sawah, dan pendampingan langsung di lapangan. Jika kondisi ini terus berlanjut, kami bukan hanya gagal panen—kami akan bangkrut total,” tutup Abdurahman.

Sebelumnya, sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pohuwato menggelar aksi unjuk rasa. Mereka menyoroti kerusakan lingkungan yang diakibatkan tambang ilegal, mulai dari wilayah hulu hingga berdampak ke hilir.

Dalam aksinya, mereka menuntut pemerintah daerah, DPRD, dan pihak kepolisian untuk segera menghentikan aktivitas PETI yang membahayakan keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat, khususnya para petani.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel