Scroll untuk baca berita
Wisata

Wisata Religi Desa Bongo Gorontalo dan Menjaga Fosil Kayu dari Zaman Purba

Avatar of Hibata.id✅
×

Wisata Religi Desa Bongo Gorontalo dan Menjaga Fosil Kayu dari Zaman Purba

Sebarkan artikel ini
Museum Pusat Fosil Kayu Indonesia (MPFK) di Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo/Hibata.id
Museum Pusat Fosil Kayu Indonesia (MPFK) di Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo/Hibata.id

Hibata.id – Museum Pusat Fosil Kayu Indonesia (MPFK) di Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, menjadi salah satu destinasi wisata religi yang menyatukan nilai sejarah, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan.

Lokasinya berada di kawasan yang dikenal sebagai Desa Wisata Religius Kerajaan Bubohu, yang hingga kini masih menjaga kuat tradisi keagamaan dan adat istiadat Gorontalo.

Museum ini menyimpan puluhan fosil kayu yang telah membatu dan diperkirakan berusia jutaan tahun.

Fosil-fosil tersebut tersusun rapi di area terbuka dan menjadi daya tarik utama bagi wisatawan, pelajar, hingga peneliti.

Almarhum Yosep Tahir Ma’ruf, penggagas sekaligus pemilik kawasan wisata ini, semasa hidupnya pernah menjelaskan bahwa wilayah Desa Bongo merupakan bagian dari Kerajaan Bubohu pada masa lampau. Kerajaan tersebut dipimpin oleh Raja Ma’ruf, yang menurutnya masih memiliki garis keturunan langsung.

Baca Juga:  Menggali Keindahan Pantai Botubarani Gorontalo dengan Keramahan Hiu Paus

“Saya merupakan generasi keenam dari Kerajaan Bubohu,” kata Yosep Tahir Ma’ruf dalam keterangannya beberapa tahun lalu.

Ia menuturkan, gagasan pembangunan kawasan wisata religi dan museum fosil kayu berawal dari sebuah dorongan spiritual yang ia terima.

Pesan tersebut mendorongnya untuk membangun dan mengembangkan kampung halaman sebelum berbicara tentang kemajuan yang lebih luas.

Berangkat dari keyakinan tersebut, sejak sekitar tahun 2001 Yosep mulai membangun kawasan wisata Desa Bongo.

Baca Juga:  Cerita Mistis Warga Lokal Soal Wisata Kolam Bidadari Bone Bolango

Selain museum fosil kayu, kawasan ini juga dilengkapi masjid berkubah emas serta bentang alam religi yang menjadi simbol keharmonisan antara alam dan spiritualitas.

Fosil-fosil kayu yang dipamerkan di MPFK dikumpulkan dari berbagai wilayah di Provinsi Gorontalo. Kayu-kayu tersebut diyakini mengalami proses fosilisasi akibat aktivitas vulkanik pada masa lampau.

Letusan gunung berapi dan aliran lahar panas menyebabkan kayu terkubur dalam tanah, lalu mengalami proses mineralisasi hingga berubah menjadi batu.

Museum Pusat Fosil Kayu Indonesia berada tepat di halaman utama kawasan Desa Wisata Religius Kerajaan Bubohu. Pengelola membuka akses gratis bagi pengunjung tanpa pungutan biaya, sehingga tempat ini kerap ramai dikunjungi wisatawan sejak pagi hingga siang hari.

Baca Juga:  Festival Hiu Paus Gorontalo 2024, Langkah Menuju Destinasi Nasional

Seorang mahasiswa, Zais Musa, menilai kawasan wisata ini memiliki nilai edukasi yang tinggi. Menurutnya, Museum Fosil Kayu Indonesia tidak hanya menawarkan wisata visual, tetapi juga pengetahuan sejarah dan arkeologi.

“Pengunjung bisa belajar tentang peradaban Gorontalo dan sejarah alam. Tempat ini cocok untuk mahasiswa, pelajar, dan peneliti,” ujarnya.

Keberadaan Museum Pusat Fosil Kayu Indonesia memperkuat posisi Desa Bongo sebagai destinasi wisata religi dan edukasi unggulan di Gorontalo, sekaligus menjadi ruang pembelajaran terbuka tentang sejarah alam Nusantara.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel