Hibata.id – Relawan asal Atinggola, Gorontalo Utara, menggandeng forum nasional sebagai panggung memperkenalkan produk UMKM “gula semut aren Atinggola” sekaligus menyuarakan identitas dan ekonomi lokal di ajang Gathering Nasional Turun Tangan 2025.
Forum besar Gathering Nasional Turun Tangan 2025 di Jakarta bukan sekadar pertemuan rutinitas. Bagi Rizki H. Detuage, relawan yang datang jauh-jauh dari Atinggola, Gorontalo Utara, kegiatan itu menjadi strategi penting untuk mengangkat ekonomi dan identitas lokal daerahnya.
Rizki tidak hanya hadir sebagai peserta yang menerima paparan, melainkan ia memanfaatkan momentum menjadi ruang diplomasi gagasan serta peluncuran produk lokal.
Dalam sesi temu tokoh nasional, Rizki bertatap muka langsung dengan Anies Baswedan dan memperkenalkan Gula Semut Aren Atinggola, hasil olahan UMKM di daerahnya.
“Gula aren Atinggola ini adalah kekayaan kearifan lokal. Kita tidak boleh hanya memuji dari kejauhan. Produk lokal harus kita bawa naik kelas,” ujar Rizki, Rabu (05/11/2025).
Menurut Rizki, produk lokal seperti gula semut aren seharusnya berfungsi bukan hanya sebagai kebanggaan daerah tapi juga masuk ke ekosistem pasar nasional.
Ia menganggap forum seperti Gathering Nasional Turun Tangan menjadi peluang strategis agar produk daerah dapat menyentuh pasar yang lebih luas.
Narasumber nasional yang hadir dalam kegiatan tersebut mendorong agar gerakan akar rumput tak berhenti pada sekadar diskusi.
Mereka mengajak agar gerakan tersebut menjadi kolaborasi jangka panjang yang mampu menghasilkan dampak nyata di tingkat daerah. Dorongan itu memantik Rizki menyiapkan roadmap gerakan berbasis potensi lokal di Gorontalo Utara.
Pada akhirnya, apa yang dibawa Rizki ke forum itu bukan sekadar gula semut, tetapi cerita panjang dari Atinggola—dari hutan aren, dari para perajin yang hidup dari tetes nira, dari tradisi yang tidak pernah kehilangan rasa. Atinggola bukan hanya titik kecil di peta, tetapi simbol identitas ekonomi lokal yang berpotensi besar.
Kesempatan seperti Gathering Nasional Turun Tangan 2025 memberi ruang bagi daerah-daerah kecil agar suaranya didengar di kancah nasional dan produk lokalnya mendapat tempat yang lebih layak.
Bagi para pelaku UMKM, ini menjadi pengingat bahwa keberanian untuk tampil di panggung nasional dapat membuka jalan naik kelas.












