Hibata.id, Gorontalo – Durasi musim hujan 2026/2027 di wilayah utara Provinsi Gorontalo diprakirakan lebih pendek dibandingkan kondisi normal.
Sebaliknya, wilayah selatan Gorontalo diprediksi mengalami musim hujan dengan durasi lebih panjang dari biasanya.
Prediksi tersebut tercantum dalam materi Prakiraan Musim Hujan 2026/2027 yang disusun Stasiun Klimatologi Gorontalo, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Dokumen yang diterima Hibata.id, BMKG membagi perbandingan durasi musim hujan ke dalam delapan Zona Musim (ZOM).
Sebanyak empat ZOM atau 50 persen luas daratan diprediksi mengalami durasi musim hujan lebih pendek dari normalnya.
Sementara itu, satu ZOM atau 12,5 persen luas daratan diprakirakan memiliki durasi musim hujan yang sama dengan kondisi normal.
Sedangkan tiga ZOM lainnya atau 37,5 persen luas daratan diprediksi mengalami durasi musim hujan lebih panjang.
Wilayah Utara dan Selatan Berbeda
Perbedaan durasi musim hujan menjadi salah satu aspek penting dalam prakiraan musim di Gorontalo.
BMKG menyebut wilayah utara Gorontalo secara umum diprediksi mengalami musim hujan lebih pendek, sedangkan wilayah selatan diprakirakan mengalami musim hujan lebih panjang dari kondisi normal.
Perbedaan ini perlu menjadi perhatian dalam perencanaan kegiatan yang bergantung pada kondisi cuaca, terutama pertanian dan pengelolaan sumber daya air.
Meski demikian, durasi musim hujan yang lebih pendek tidak serta-merta berarti suatu wilayah akan mengalami kekeringan. Kondisi aktual tetap dipengaruhi perkembangan curah hujan dan ketersediaan air di masing-masing daerah.
Selain durasi musim hujan, BMKG memprakirakan puncak musim hujan 2026/2027 di Provinsi Gorontalo berlangsung pada Desember 2026 dan Januari 2027.
Sebanyak lima ZOM diprediksi mengalami puncak musim hujan pada Desember 2026, sedangkan tiga ZOM lainnya diperkirakan mencapai puncak pada Januari 2027.
BMKG juga memprakirakan sifat hujan pada seluruh delapan ZOM berada dalam kategori normal, yakni curah hujan yang mendekati rata-rata klimatologisnya.
Dalam rekomendasinya, BMKG menekankan pentingnya penyesuaian waktu tanam dan pola budi daya dengan prakiraan awal musim hujan.
Pengelolaan tampungan air dan saluran drainase juga perlu dioptimalkan untuk mengantisipasi perubahan debit air selama musim hujan.
Masyarakat diimbau mengikuti pembaruan informasi cuaca dari BMKG agar dapat menyesuaikan aktivitas dengan kondisi aktual di wilayah masing-masing.












