Hibata.id, Gorontalo – Ramadan 2027 diperkirakan berlangsung bertepatan dengan awal musim kemarau di sejumlah wilayah Gorontalo.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim kemarau di wilayah selatan provinsi itu mulai pada Februari 2027, saat umat Islam menjalankan ibadah puasa.
Sebab, awal Ramadan 1448 Hijriah diperkirakan jatuh pada Senin, 8 Februari 2027.
Dengan prakiraan tersebut, masyarakat Gorontalo berpotensi menjalani bulan puasa bersamaan dengan dimulainya musim kemarau di sejumlah wilayah.
Prakiraan awal musim kemarau itu tercantum dalam materi analisis dan prakiraan musim periode 2026/2027 yang diterima Hibata.id melalui dokumen Press Release Stasiun Klimatologi Gorontalo.
Dalam materi tersebut, BMKG menjelaskan bahwa empat Zona Musim (ZOM) di Gorontalo memiliki pola musim ekuatorial yang berkaitan dengan prakiraan awal musim kemarau.
Meski awal kemarau diperkirakan berlangsung pada Februari 2027, kondisi tersebut tidak serta-merta berarti seluruh wilayah Gorontalo akan langsung mengalami kekeringan.
Perkembangan curah hujan, kondisi tanah, dan ketersediaan sumber air di setiap daerah turut memengaruhi potensi kekurangan air.
Waktu datangnya musim kemarau menjadi perhatian karena berdekatan dengan periode Ramadan, ketika masyarakat tetap membutuhkan air untuk keperluan rumah tangga, kegiatan ibadah, dan aktivitas sehari-hari.
Sektor pertanian juga perlu mengantisipasi perubahan musim, terutama dalam menentukan waktu tanam dan pola budi daya.
Penyesuaian tersebut dapat membantu petani menyesuaikan kegiatan pertanian dengan kondisi cuaca dan ketersediaan air.
BMKG merekomendasikan pemerintah daerah dan masyarakat menyesuaikan kegiatan pertanian dengan prakiraan musim serta memperhatikan ketersediaan air untuk irigasi dan kebutuhan rumah tangga.
Masyarakat juga perlu mengikuti pembaruan informasi cuaca dan prakiraan musim dari BMKG.
Perkembangan kondisi atmosfer dapat memengaruhi prediksi sehingga waktu awal musim kemarau masih perlu dipantau secara berkala.












