Hibata.id – Dunia akademik Universitas Pohuwato (Unipo), Gorontalo, tercoreng oleh insiden memalukan. Dua pejabat struktural kampus terlibat baku hantam di halaman Gedung Rektorat, yang disaksikan langsung oleh mahasiswa dan dosen.
Kejadian itu melibatkan Wakil Rektor II Bidang Sarana Prasarana dan Keuangan serta Dekan Fakultas Ilmu Komputer (Fikom).
Aksi kekerasan antar pejabat ini terekam dalam sebuah video berdurasi singkat dan telah tersebar luas di media sosial serta aplikasi pesan instan.
Dalam video yang diperoleh Hibata.id, terlihat Wakil Rektor II tengah berdiri di halaman rektorat, diduga sedang menunggu seseorang.
Tidak lama kemudian, Dekan Fikom mendekat dan memulai percakapan bernada tinggi. Ketegangan verbal pun terjadi di antara keduanya.
“Bapak paham dengan bahasa begitu,” ujar Dekan Fikom dengan suara meninggi.
“Iya, maksud saya jangan pakai bahasa begitu,” jawab Wakil Rektor II.
“Kenapa Bapak tersinggung, saya sebut nama Bapak?” lanjutnya.
“Iya, saya tersinggung,” sahut sang dekan.
Pertengkaran tersebut memuncak menjadi kontak fisik. Kedua pejabat kampus saling pukul di depan publik.
Upaya mahasiswa dan staf kampus untuk melerai bentrokan itu sempat terekam dalam video, namun gagal meredam emosi keduanya.
Insiden kekerasan antarpejabat kampus ini mengundang keprihatinan masyarakat dan menimbulkan pertanyaan serius terkait etika serta kepemimpinan di lingkungan Universitas Pohuwato.
Pengamat pendidikan menyebut peristiwa tersebut sebagai gejala krisis moral dalam institusi pendidikan tinggi.
“Ini bukan semata soal perilaku individu, tetapi menunjukkan adanya kegagalan dalam membangun budaya akademik yang sehat dan profesional,” ujar salah satu dosen senior di Gorontalo yang enggan disebutkan namanya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Rektorat Unipo belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait insiden tersebut.
Tidak ada kejelasan mengenai langkah penanganan, proses klarifikasi, maupun sanksi yang akan diberikan kepada kedua pejabat yang terlibat.
Masyarakat, termasuk alumni dan organisasi mahasiswa, mendesak pihak universitas untuk segera memberikan klarifikasi terbuka serta menjatuhkan sanksi tegas demi menjaga marwah kampus.
Peristiwa ini juga menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas kepemimpinan dan manajemen konflik di lingkungan perguruan tinggi, khususnya di Gorontalo.













