Hibata.id, Gorontalo – Pergerakan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gorontalo dipengaruhi arah dan kecepatan angin.
Data Stasiun Meteorologi Djalaluddin Gorontalo yang diterima Hibata.id mencatat kecepatan angin maksimum mencapai 14 knot selama periode pengamatan 9–11 Oktober 2026.
Analisis ini tercantum dalam dokumen analisis kondisi atmosfer dan sebaran asap yang disusun Stasiun Meteorologi Djalaluddin Gorontalo, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Pada pengamatan 10–11 Oktober 2026, angin dominan bertiup dari tenggara hingga selatan.
Pada periode yang sama, jarak pandang berkisar 4–8 meter dengan kondisi haze atau udara yang mengandung partikel sehingga tampak berkabut.
Kondisi tersebut menjadi bagian dari parameter yang perlu diperhatikan dalam menganalisis potensi pergerakan asap.
Arah dan kecepatan angin dapat memengaruhi ke mana asap bergerak serta seberapa jauh penyebarannya.
Dalam dokumen analisisnya, BMKG menjelaskan bahwa pemantauan arah dan kecepatan angin diperlukan untuk mendukung analisis pergerakan asap dan meningkatkan kewaspadaan terhadap dampaknya.
Namun, arah angin dominan selama periode pengamatan tidak otomatis menunjukkan arah penyebaran asap di setiap lokasi.
Analisis lebih lanjut memerlukan citra satelit, data titik panas, serta informasi pola dan kecepatan angin terkini.
“Kondisi atmosfer yang relatif kering dan curah hujan rendah juga dapat mendukung meluasnya sebaran asap ketika karhutla terjadi,” rilis BMKG.
Untuk mengantisipasi dampaknya, BMKG merekomendasikan penguatan pemantauan atmosfer dan koordinasi lintas sektor.
Informasi mengenai kondisi cuaca dan potensi sebaran asap juga perlu disampaikan kepada masyarakat agar kewaspadaan dapat ditingkatkan.
Selain pemantauan atmosfer, pencegahan karhutla menjadi langkah penting untuk mencegah kebakaran meluas dan menambah potensi paparan asap di wilayah terdampak.












