HeadlineKesehatan

Bekal Bergizi dan Sehat untuk Sekolah, Cukup Telur dan Ayam Cukupi Gizi Anak

×

Bekal Bergizi dan Sehat untuk Sekolah, Cukup Telur dan Ayam Cukupi Gizi Anak

Sebarkan artikel ini
Aneka makanan sehat untuk buka puasa Ramadhan/Hibata.id/Bing Ai
Aneka makanan sehat untuk buka puasa Ramadhan/Hibata.id/AI

Hibata.id – Memberikan bekal makan siang bergizi untuk anak sekolah tidak harus menguras kantong. Cukup dengan bahan sederhana seperti telur atau ayam, kebutuhan protein hewani anak dapat terpenuhi, kata pakar gizi.

Dokter Nadhira Nuraini Afifa, MPH, menjelaskan pemenuhan gizi seimbang bagi anak bisa dilakukan dengan cara sederhana dan terjangkau. Menurutnya, menu mahal seperti salmon bukan satu-satunya sumber protein hewani.

“Telur itu harganya sekitar dua ribu rupiah per butir. Jadi, kalau mau, protein hewani bisa dipenuhi dari telur, tiga kali sehari juga tidak masalah,” ujar dr. Nadhira usai konferensi pers GuardianCares di Jakarta, Selasa (15/7).

Baca Juga:  7 Jenis Ikan yang Tidak Bisa Dimakan oleh Penderita Asam Urat

Ia menegaskan bahwa anggapan makanan bergizi selalu mahal adalah keliru. Asupan gizi anak tetap dapat dipenuhi dari bahan yang mudah diakses dengan harga terjangkau.

“Kalau anak sekolah yang masih istirahat siang, cukup bekal seperti sandwich isi ayam atau nasi dengan telur. Itu sudah baik,” katanya.

Baca Juga:  Fungsi Trotoar di Kota Gorontalo Berubah, Pedagang Kopi Ambil Jalur Pejalan Kaki

Untuk variasi, lanjut Nadhira, orang tua dapat menambahkan susu atau sumber protein hewani lain dalam bekal. Yang penting, kandungan gizi tetap terpenuhi secara seimbang.

Selain itu, Nadhira menyoroti minimnya pemahaman masyarakat terkait gizi anak. Di sejumlah daerah, orang tua masih terbiasa memberikan bekal hanya berupa nasi dan mi.

“Mindset masyarakat masih fokus ke karbohidrat saja. Jadi makanan utama nasi, lalu ditambah mi dan selesai,” ujarnya.

Baca Juga:  Hari Bumi: Sebuah Sejarah Panjang dan Maknanya untuk Masa Depan

Ia juga mengkritisi kebiasaan menyamakan anak gemuk dengan sehat. Menurutnya, Indonesia menghadapi dua masalah besar, yakni gizi buruk dan obesitas.

“Ini yang perlu diedukasi. Cara menilai status gizi anak yang tepat itu oleh dokter atau tenaga medis. Jangan biasakan menganggap anak gemuk itu sehat. Tidak begitu,” tegasnya.