Editorial

Politik Uang Bos Tambang Suwawa Berhembus Kencang di Masa Tenang

1002
×

Politik Uang Bos Tambang Suwawa Berhembus Kencang di Masa Tenang

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Politik Uang/Hibata.id

Hibata.id  – Isu politik uang kembali mencuat di tengah masa tenang pemilihan umum yang tinggal menghitung hari. Masa tenang yang seharusnya menjadi waktu bagi pemilih untuk merenungkan pilihan mereka tanpa harus dipengaruhi.

Kali ini, sorotan tertuju pada beberapa figur berpengaruh di Suwawa Timur. Mereka diduga kuat akan menggunakan kekayaannya untuk mempengaruhi para pemilih di wilayah tersebut.

Menurut laporan warga, pendistribusi uang tersebut kepada calon pemilih dilakukan secara diam-diam. Kegiatan ini diduga kuat sebagai bagian dari upaya untuk merebut simpati dan suara untuk memilih kandidat itu.

Baca Juga: Tambang Batu Hitam Suwawa Bisa Jadi Pemicu Maraknya Politik Uang

Menurut salah satu warga Suwawa, bahwa saat ini beberapa kandidat mengandalkan uang untuk menang. Mereka rata-rata adalah bos tambang suwawa.

“Mereka sudah pasti mengandalkan serangan fajar,” kata salah satu warga yang enggan menyebutkan namanya.

Menurutnya, ada beberapa kandidat yang cukup mumpuni dan menggandakan uang pada pemilu kali ini. Masing-masing kandidat memiliki kekuatan yang berbeda.

“Sudah banyak yang berhembus sekarang. Ada kandidat yang rencananya punya serangan fajar Rp300 ribu per kepala dan yang disediakan dengar-dengar sekitar 2 Miliar. Kemudian ada juga yang memiliki Rp100 ribu per kepala, pokoknya mereka bervariasi,” ungkapnya.

Uang serangan fajar ini kerap kali dihembuskan di masa tenang oleh simpatisan mereka. Tidak hanya dihembuskan, ada beberapa caleg yang sudah mendistribusikan uang secara diam-diam.

“Sudah ada yang terdistribusi, saya tidak mau sebutkan caleg mana dan partai apa. Jelas uang tersebut sudah terdistribusi Rp100 per kepala,” imbuhnya.

Baca Juga: Kabar Gembira, Yuriko Kamaru Sebut Anggaran DED Jalan Pinogu Segera Terealisasi  

Tidak hanya itu, ada lagi calon yang juga didukung oleh bos tambang memiliki koordinator di masing-masing desa. Mereka mulai mendata calon pemilih dengan iming-iming setelah pemilihan suara mereka akan dibayarkan.

“Ada juga yang baru mendata, mereka dijanjikan setelah pemilihan kan dikasih uang,” ia menandaskan.

Dampak Politik uang

Politik uang, yaitu praktik memberikan uang atau barang kepada pemilih dengan tujuan mempengaruhi pilihan mereka dalam suatu pemilihan, memiliki dampak yang signifikan dan beragam, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Praktik ini tidak hanya mengancam integritas proses demokrasi, tetapi juga memiliki konsekuensi sosial, ekonomi, dan politik yang luas. Berikut adalah beberapa dampak negatif dari politik uang:

1. Erosi Kepercayaan Publik

Politik uang merusak kepercayaan publik terhadap sistem pemilu dan institusi demokrasi. Ketika pemilih percaya bahwa suara dan keputusan politik dapat dibeli, hal ini mengurangi kepercayaan mereka pada proses demokrasi sebagai cara yang adil dan efektif untuk menyeleksi pemimpin.

2. Legitimasi Pemerintahan yang Rendah

Kemenangan yang dicapai melalui politik uang dapat menimbulkan pertanyaan tentang legitimasi pemerintahan yang terbentuk. Pemimpin yang terpilih dengan cara ini mungkin dianggap tidak memiliki mandat yang kuat dari rakyat, sehingga merendahkan otoritas moral mereka untuk memerintah.

3. Merusak Prinsip Demokrasi

Demokrasi didasarkan pada prinsip bahwa setiap suara memiliki nilai yang sama. Politik uang menggantikan prinsip ini dengan logika bahwa suara dapat diperjualbelikan, yang pada akhirnya menguntungkan kandidat dengan sumber daya keuangan yang lebih besar.

4. Mendorong Korupsi

Politik uang sering kali merupakan indikator atau pemicu korupsi lebih lanjut. Pemimpin yang menggunakan uang untuk memenangkan pemilihan mungkin akan mencoba mengamortisasi “investasi” mereka melalui korupsi, penyelewengan dana, atau kebijakan yang menguntungkan diri sendiri dan pendukung mereka.

5. Mengabaikan Kompetensi

Ketika politik uang menjadi penentu hasil pemilu, kompetensi dan kualitas kandidat menjadi kurang relevan. Hal ini berarti bahwa pemimpin yang terpilih mungkin tidak memiliki kualifikasi atau kemampuan yang diperlukan untuk mengelola pemerintahan secara efektif.

6. Membahayakan Pembangunan Berkelanjutan

Pemimpin yang terpilih melalui politik uang mungkin lebih fokus pada kepentingan jangka pendek atau kelompok tertentu daripada kepentingan umum atau pembangunan berkelanjutan, yang dapat merugikan masyarakat secara keseluruhan.

7. Meningkatkan Ketidaksetaraan Sosial

Politik uang dapat memperdalam ketidaksetaraan sosial dengan memastikan bahwa hanya mereka yang memiliki sumber daya finansial yang dapat berpartisipasi secara penuh dalam politik, baik sebagai kandidat maupun sebagai pendukung.

Mengatasi politik uang memerlukan upaya bersama dari seluruh masyarakat, termasuk penegakan hukum yang ketat, pendidikan pemilih, transparansi dalam pendanaan kampanye, dan pengembangan budaya politik yang menolak praktik ini.

Example 120x600