Opini

Benarkah Konsumsi Tetap Membaik atau Karena FOMO?

×

Benarkah Konsumsi Tetap Membaik atau Karena FOMO?

Sebarkan artikel ini
Muh. Amier Arham - Pengamat Ekonomi FEB UNG/Hibata.id
Muh. Amier Arham - Pengamat Ekonomi FEB UNG/Hibata.id

Muh. Amier Arham – Pengamat Ekonomi FEB UNG

Secara makro ekonomi tampak mengalami pertumbuhan impresif, terutama didorong oleh konsumsi rumah tangga karena menghadapi momentum hari raya dan libur panjang, serta percepatan belanja pemerintah.

Hal ini menandakan bahwa dari pendekatan pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi tumpuan pertumbuhan, terutama dalam menghadapi momentum musiman yang mengakibatkan belanja meningkat.

Data ex-post menunjukkan gejala bahwa memasuki kuartal kedua biasanya ekonomi sedikit melemah secara month to month karena tidak ada faktor musiman yang menghela konsumsi, apalagi tidak ada lagi pendapatan tambahan berupa THR.

Kemampuan konsumsi sangat dipengaruhi oleh faktor pendapatan. Semakin meningkat pendapatan disposibel, maka tingkat konsumsi makin meningkat pula, terutama untuk permintaan luxury goods, seperti mobil, motor, gadget, maupun leisure ke luar kota atau luar negeri.

Persoalannya, jika dicermati dari berbagai indikator makroekonomi, ditemukan adanya decoupling dengan kondisi mikroekonomi.

Ekonomi tumbuh solid yang didukung oleh konsumsi, tetapi secara mikro daya beli masyarakat kian menurun, penghasilan stagnan, dan lapangan kerja sektor formal menyusut sehingga proporsi pekerja informal kini mendominasi pasar tenaga kerja.

Secara umum, pekerja sektor informal sangat rentan (aspiring middle class atau near-middle) ketika terjadi guncangan ekonomi.

Mengapa mereka rentan? Penyebabnya adalah tekanan hidup akibat kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, kenaikan harga BBM, hingga biaya kesehatan dan pendidikan yang menggerus daya beli.

Penyebab lainnya ialah krisis lapangan kerja formal dan semakin maraknya PHK yang membuat pendapatan stagnan. Ditambah lagi beban utang dan cicilan untuk kebutuhan papan (rumah) serta kendaraan bermotor.

Baca Juga:  Makna Tanda Titik dalam Kehidupan, Refleksi Teknologi dan Kesadaran

Kelompok near-middle ini pada dasarnya bukan orang kaya, tetapi juga tidak masuk kategori yang layak menerima bantuan sosial dari negara. Namun, mereka belum cukup aman secara finansial ketika menghadapi guncangan ekonomi.

Kelompok near-middle dari aspek kerentanan bukan hanya dialami pekerja informal, tetapi juga disandang oleh hampir semua ASN, terutama golongan III ke bawah. Selama bertahun-tahun penghasilan mereka tidak mengalami kenaikan yang signifikan, sementara nilai uang terus menyusut.

Anak-anak mereka yang menempuh pendidikan menengah dan tinggi juga tidak mendapatkan perlindungan sosial yang memadai. Misalnya, dalam pembayaran UKT hampir tidak ada ruang untuk mendapatkan keringanan karena faktor status pekerjaan orang tua.

Kondisi serupa juga dialami kelas menengah. Keberadaannya selama ini sangat membantu pertumbuhan ekonomi, namun jumlahnya mengalami tren penyusutan.

Berdasarkan data BPS, populasi kelas menengah pada 2019 berjumlah 57,33 juta jiwa, kemudian berkurang menjadi 46,7 juta jiwa pada 2024.

Menurunnya jumlah kelas menengah dapat mengurangi daya beli secara masif dan menghambat pertumbuhan ekonomi nasional. Kelas menengah sejatinya menjadi penghela konsumsi yang kemudian berefek pada permintaan sehingga kegiatan produksi bertambah.

Jika populasinya berkurang, praktis bukan hanya menghambat pertumbuhan ekonomi secara inklusif, tetapi juga semakin memperlebar kesenjangan sosial.

Sebab, kelompok kelas menengah atas yang jumlahnya terbatas relatif lebih kuat secara finansial dan, di tengah guncangan ekonomi, kekayaan mereka justru bertambah berlipat-lipat.

Baca Juga:  Tak ada yang Spesial di HUT Kabupatan Gorontalo yang ke-351 Tahun

Tentu ini menjadi anomali. Orang super kaya diperkirakan hanya sekitar 50 orang, tetapi kepemilikan hartanya setara dengan 55 juta populasi masyarakat umum. Sementara masyarakat umum itulah yang mengalami stagnasi pendapatan dan penurunan daya beli.

Anomali lainnya yang dapat dibaca gejalanya ialah daya beli masyarakat merosot, tetapi berdasarkan survei Bank Indonesia penjualan barang eceran tumbuh positif. Secara bulanan, pertumbuhannya meningkat sebesar 10,3 persen.

Fenomena ini perlu diteropong dengan lensa yang terang dan cermat. Populasi kelas menengah menurun, daya beli merosot, tetapi penjualan eceran tumbuh.

Alhasil, data survei Bank Indonesia dapat dijadikan sandaran apologi bagi pengambil kebijakan ekonomi bahwa kondisi makroekonomi cukup kuat.

Padahal, gejala yang tampak menunjukkan bahwa barang-barang yang banyak dibeli adalah kelompok makanan dan minuman, produk trend-setter, kosmetik, skincare, dan body care akibat pengaruh media sosial.

Media sosial serta marketplace (penjualan online) menjadi katalis lahirnya pembelian impulsif. Mungkin sebagian di antara kita bertanya, apa itu pembelian impulsif?

Pembelian impulsif adalah tindakan membeli barang atau jasa tanpa direncanakan sebelumnya. Keputusan ini diambil karena faktor emosi, keinginan sesaat, atau pengaruh promosi seperti diskon, bukan didasarkan pada kebutuhan yang rasional.

Akibat pembelian impulsif yang terlalu sering, tabungan dapat terkuras dan seseorang kerap terperangkap ke dalam pinjaman online (pinjol).

Saat ini total utang pinjol masyarakat Indonesia menembus Rp101,03 triliun, dengan jumlah puluhan juta debitur aktif.

Baca Juga:  Mie Gacoan: Tamu Baru di Lidah Anak Muda, Siap-siap Gorontalo Jadi Lebih ‘Urban’!

Mereka yang terjerat pinjol umumnya berada pada usia produktif, yakni generasi milenial dan Gen Z, dengan penggunaan pinjaman yang sebagian besar bersifat konsumtif.

Pembelian impulsif juga terjadi karena semakin maraknya perilaku Fear of Missing Out (FOMO) atau rasa takut tertinggal tren.

Istilah FOMO pertama kali dipopulerkan oleh Patrick McGinnis melalui artikelnya di Harvard Business School, kemudian berkembang menjadi istilah global.

Rasa takut tertinggal tren merupakan gejala kecemasan sosial yang diciptakan oleh paparan media sosial. Akibatnya, seseorang terlalu sibuk ingin mengetahui kehidupan atau aktivitas orang lain, merasa harus selalu terhubung, dan mengikuti apa yang dilakukan orang lain agar dianggap tidak ketinggalan zaman.

Pada akhirnya, mereka rela menghabiskan uang secara berlebihan untuk membeli barang viral atau mengikuti suatu acara hanya demi validasi sosial. Dampaknya adalah pemborosan karena selalu ingin memiliki barang tren terbaru.

FOMO terbukti mampu memengaruhi konsumen dalam mengambil keputusan. Seseorang menjalani hari-harinya dengan terus membandingkan dirinya dengan orang lain.

FOMO tidak hanya berpengaruh terhadap kondisi finansial, tetapi juga dapat memicu gangguan kesehatan mental serta penurunan produktivitas.

Ironisnya, seseorang yang terjebak FOMO acap kali membandingkan dirinya dengan standar kehidupan orang lain sehingga merasa dirinya tidak pernah cukup.

Semoga saja kita tidak terpapar FOMO, tetapi justru terjangkit virus Joy of Missing Out (JOMO).

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel