Buton

PID Sudah Ada, Internet Belum Tiba: Cerita Sekolah 3T Buton Tengah

×

PID Sudah Ada, Internet Belum Tiba: Cerita Sekolah 3T Buton Tengah

Sebarkan artikel ini
Guru memanfaatkan Papan Interaktif Digital sebagai media pembelajaran di sekolah wilayah 3T Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara/Hibata.id
Guru memanfaatkan Papan Interaktif Digital sebagai media pembelajaran di sekolah wilayah 3T Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara/Hibata.id

Hibata.id, Buton Tengah – Keterbatasan jaringan internet masih menghambat pemanfaatan Papan Interaktif Digital (PID) sebagai media pembelajaran di sejumlah sekolah wilayah terluar Kabupaten Buton Tengah (Buteng), Sulawesi Tenggara.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Buton Tengah, La Ode Amaluddin, menemukan kondisi tersebut saat meninjau sejumlah sekolah yang berada di wilayah dengan akses internet terbatas, termasuk Desa Dahiango dan Air Bajo.

Amaluddin mengatakan kunjungan tersebut bertujuan melihat langsung proses pembelajaran sekaligus mengetahui strategi guru dalam memanfaatkan PID di tengah keterbatasan jaringan dan infrastruktur pendukung.

“Hari ini kami mengunjungi beberapa sekolah yang minim akses internetnya. Di sini kami ingin melihat metode pengajaran guru yang menggunakan PID,” kata Amaluddin setelah mengunjungi SD Negeri 20 Mawasangka, Selasa (6/10/2026).

Menurut dia, sejumlah sekolah di wilayah terpencil, khususnya Dahiango dan Air Bajo, masih menghadapi kendala mendasar berupa keterbatasan akses listrik dan jaringan internet.

Kondisi tersebut turut memengaruhi pemanfaatan perangkat pembelajaran digital yang membutuhkan koneksi internet untuk mengakses berbagai sumber belajar.

Baca Juga:  Peran Ibu Jadi Ispirasi, Kunci Sukses Buton Tengah Menuju Kota Santri

“Ini menjadi tantangan para guru yang mengajar di daerah 3T. Sehingga kami tidak tinggal diam dan ingin melihat langsung,” ujarnya.

Amaluddin juga menggali cara guru menggunakan PID saat menyampaikan materi kepada siswa, termasuk strategi yang mereka terapkan ketika tidak dapat mengakses internet secara langsung.

“Misalnya penggunaan PID saat melakukan pembelajaran. Saya ingin tahu strategi guru dalam memberikan materi,” katanya.

Pemanfaatan PID Belum Maksimal

Hasil kunjungan di SD Negeri 20 Mawasangka menunjukkan penggunaan PID belum berjalan maksimal. Pihak sekolah menyampaikan bahwa keterbatasan jaringan internet menjadi salah satu kendala utama dalam pemanfaatan perangkat tersebut.

Sekolah juga belum memiliki perangkat pendukung akses internet seperti Starlink yang dapat membantu menyediakan koneksi di wilayah dengan jaringan konvensional terbatas.

“Mudah-mudahan pemerintah pusat melalui Dinas Pendidikan Buteng akan membantu sekolah untuk melaporkan atau memvalidasi Dapodik-nya untuk permintaan Starlink,” kata Amaluddin.

Guru SD Negeri 20 Mawasangka, Ahmad Geladat, mengatakan kondisi tersebut membuat guru harus menyiapkan bahan pembelajaran secara mandiri sebelum kegiatan belajar berlangsung.

Baca Juga:  UGM Dorong Mawasangka Buton Tengah Jadi Model Transmarine

Untuk memperoleh materi digital, Ahmad terkadang menuju desa tetangga yang memiliki akses internet. Ia mengunduh bahan pembelajaran terlebih dahulu, kemudian membawa materi tersebut ke sekolah.

“Jadi untuk memanfaatkan PID ini biasanya saya download dulu materinya. Begitu juga dengan materi ajar lainnya,” kata Ahmad.

Meskipun menghadapi keterbatasan akses internet, Ahmad tetap menggunakan PID dalam kegiatan belajar mengajar. Ia berharap pemerintah daerah dapat menghadirkan solusi untuk memperkuat akses internet dan sarana pendukung pembelajaran di sekolah wilayah 3T.

Guru Dahiango Unduh Materi dari Rumah

Kendala serupa dialami guru SMPN Satap 29 Buteng di Desa Dahiango. Guru sekolah tersebut, Yusri, mengatakan keterbatasan jaringan internet membuat guru harus menyiapkan bahan pembelajaran sebelum berangkat ke sekolah.

“Jadi kami biasanya para guru mendownload dulu materi baru disampaikan. Kita lakukan itu karena memang akses internet tidak ada,” ujar Yusri.

Baca Juga:  Bupati Buton Tengah Buka Muscab II IBI, Dorong Peran Bidan dalam Validasi Data

Menurut dia, guru tetap memanfaatkan PID dalam pembelajaran, tetapi penggunaannya menyesuaikan kondisi sekolah.

“Kalau untuk PID ini kami tetap gunakan, tapi biasanya hanya untuk menampilkan gambar atau materi. Sementara untuk searching di Google atau media lainnya kami tidak bisa,” tuturnya.

Yusri menilai PID membantu guru menjelaskan materi yang membutuhkan visualisasi. Perangkat tersebut dapat digunakan untuk menampilkan gambar atau bahan ajar yang sulit diperoleh secara langsung di lingkungan sekitar sekolah.

Namun, keterbatasan jaringan membuat guru belum dapat menggunakan berbagai fungsi digital PID secara optimal, terutama untuk mencari sumber pembelajaran secara langsung.

Yusri berharap pemerintah memperkuat infrastruktur pendidikan, khususnya akses internet, di wilayah 3T seperti Desa Dahiango.

Menurut dia, ketersediaan internet akan membantu siswa memperoleh sumber pembelajaran yang lebih beragam, termasuk materi sains, teknologi, dan bahasa asing yang banyak tersedia melalui sumber belajar digital.

**Jadikan Hibata.id sebagai preferensi sumber. Klik 👉 GOOGLE dan ikuti WhatsApp Channel