Hibata.id – Polisi masih menyelidiki kemungkinan adanya penambang lain yang tertimbun longsor di kawasan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) DAM, Kecamatan Buntulia, Kabupaten Pohuwato. Hingga Minggu, 16 Agustus 2026, polisi memastikan enam orang dari satu rombongan tertimbun. Lima di antaranya meninggal dunia dan satu lainnya selamat dengan luka.
Kapolres Pohuwato AKBP Busroni mengatakan penyelidikan dilakukan oleh tim khusus yang dibentuk setelah longsor terjadi pada Rabu malam, 12 Agustus 2026, sekitar pukul 19.00 WITA.
“Kami sudah bentuk tim khusus untuk menangani kejadian longsor tersebut. Kemudian kami sudah memeriksa banyak saksi, termasuk yang satu rombongan,” kata Busroni saat ditemui awak media di Mapolres Pohuwato, Minggu, 16 Agustus 2026.
Polisi telah memeriksa sekitar 15 saksi. Mereka antara lain rekan korban yang berada dalam satu rombongan, warga di sekitar lokasi, serta keluarga korban. Jumlah saksi masih mungkin bertambah sesuai kebutuhan penyidikan.
Selain meminta keterangan, polisi telah melakukan pemeriksaan tempat kejadian perkara (TKP) dan memasang garis polisi. Penanganan juga mendapat dukungan Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Gorontalo.
“Kita juga olah TKP, kita pasang police line di sana dan kita juga diback-up Ditreskrimsus Polda Gorontalo. Termasuk hari ini kita TPTKP yang kedua,” ujar Busroni.
Polisi Pastikan Enam dari Satu Rombongan
Busroni mengatakan pemeriksaan terhadap salah satu rombongan menunjukkan jumlah anggota mereka telah lengkap. Dari enam orang yang tertimbun, lima meninggal dan satu selamat dalam kondisi luka.
“Kita juga periksa rekan-rekan mereka yang satu rombongan. Ketika mereka berangkat jumlahnya, kemudian yang selamat. Yang enam, lima meninggal, satu luka. Setelah dihitung, mereka menyatakan sudah tidak ada lagi yang hilang di rombongan mereka,” katanya.
Rombongan tersebut, kata Busroni, berjumlah sekitar 20 hingga 30 orang. Polisi masih mencocokkan informasi dari berbagai sumber untuk memastikan tidak ada anggota keluarga atau penambang lain yang belum diketahui keberadaannya.
Polisi juga membuka informasi bagi masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga sejak kejadian. Setiap laporan, kata Busroni, akan segera ditindaklanjuti.
“Sejak kejadian kami Polres Pohuwato membuka informasi, barangkali ada yang kehilangan keluarganya. Kami respons segera, kita tindak lanjuti,” ujarnya.
Dugaan Puluhan Penambang Belum Terbukti
Informasi mengenai kemungkinan adanya korban lain muncul setelah sejumlah keterangan menyebut aktivitas penambangan di lokasi melibatkan lebih banyak orang.
Salah seorang sumber menyebut terdapat lebih dari 20 penambang yang berada di kawasan tersebut sebelum longsor. Puluhan lampu senter kepala bahkan terlihat menerangi area tambang sebelum material tanah runtuh. Setelah longsor, cahaya tersebut menghilang.
Informasi lain menyebut jumlah orang di kawasan itu bisa mencapai lebih dari 30. Namun, angka tersebut belum dapat dipastikan sebagai jumlah penambang yang tertimbun.
Polisi hingga kini masih melakukan pendataan dan penelusuran. Karena itu, dugaan adanya korban tambahan belum dapat disebut sebagai jumlah korban resmi.
Kabid Humas Polda Gorontalo Kombes Pol Marupa Sagala sebelumnya juga menyatakan enam penambang tertimbun material longsor. Lima orang ditemukan meninggal dunia.
“Untuk sementara enam orang itu tertimbun, lima orang meninggal dunia. Kami terus meng-update jika ada laporan petugas di lapangan terkait korban lainnya,” kata Marupa.
Lima Korban Telah Teridentifikasi
Lima korban meninggal dunia telah diidentifikasi. Empat di antaranya merupakan warga Desa Bendungan, Kecamatan Mananggu, Kabupaten Boalemo, yakni Miman Ibura, 23 tahun; Pandra Galiu; Sandi Bilondatu, 24 tahun; dan Fiki Larama, 26 tahun.
Satu korban lainnya adalah Andi Otoluwa, warga Desa Bongonol, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo.
Proses evakuasi dilakukan secara manual oleh warga dan sesama penambang di sekitar lokasi. Setelah dievakuasi, para korban dibawa ke RSUD Bumi Panua Pohuwato sekitar pukul 03.30 WITA untuk mendapat penanganan medis.
Jenazah kemudian dijemput keluarga dan dibawa ke rumah duka di Kabupaten Boalemo. Empat korban asal Desa Bendungan dimakamkan pada Kamis, 13 Agustus 2026.
Keluarga korban menolak autopsi. Polisi kemudian meminta keluarga membuat surat penolakan autopsi. Rumah sakit tetap melakukan visum luar terhadap jenazah.
“Pada saat itu kami bersama keluarga di kamar jenazah. Keluarga menolak untuk dilakukan otopsi dan karena mereka menolak, harus dituangkan dalam surat penolakan otopsi. Namun demikian pihak rumah sakit sudah melakukan visum luar,” kata Busroni.
Status Kawasan Ikut Diselidiki
Dalam pemeriksaan TKP kedua, polisi melibatkan Dinas Kehutanan untuk memastikan status kawasan berdasarkan titik koordinat lokasi longsor.
“Tadi baru PTKP yang kedua, bersama Dinas Kehutanan. Itu statusnya hutan apa nanti sesuai dengan titik koordinat yang diambil. Itu kan ahli dari Dinas Kehutanan,” ujar Busroni.
Polisi telah memasang garis polisi sepanjang sekitar 150 meter. Ketika pemeriksaan dilakukan, lokasi sudah sepi. Tidak terlihat aktivitas penambangan maupun orang di sekitar area tersebut.
“Sudah kami police line seratus lima puluh meter lokasinya. Ketika kami lakukan PTKP di sana sudah tidak ada orang sama sekali, sudah sepi. Semua alat-alat yang biasanya digunakan untuk mencari batu-batu sudah tidak ada,” katanya.
Busroni mengatakan petugas masih berada di lokasi untuk mencari kemungkinan barang bukti tambahan. Ia menyebut terdapat sejumlah titik longsoran di kawasan tersebut.
“Hari ini pada saat naik ke atas masih banyak kuburan-kuburan longsor sampai dengan enam kali. Tim kami masih ada di atas, belum turun. Nanti kami update lagi ketika ada barang bukti tambahan,” ujarnya.
Polisi kini menghadapi dua hal sekaligus: memastikan penyebab dan rangkaian peristiwa longsor serta memastikan apakah masih ada korban lain yang belum ditemukan.
Sejauh ini, enam orang merupakan jumlah korban yang telah dipastikan tertimbun dalam satu rombongan, dengan lima meninggal dunia dan satu selamat. Adapun informasi mengenai puluhan penambang lain di lokasi masih dalam penelusuran dan belum dapat dinyatakan sebagai jumlah korban resmi.













