Hibata.id, Jakarta – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menjadi salah satu badan usaha milik negara (BUMN) yang menjalankan bisnis utama di sektor perbankan.
Sejak berdiri pada 1998, Bank Mandiri terus berkembang melalui konsolidasi, ekspansi jaringan, transformasi layanan, serta penguatan sejumlah lini bisnis keuangan.
Hingga akhir 2025, Bank Mandiri tercatat memiliki 139 kantor cabang dan 2.014 kantor cabang pembantu. Bank ini juga mengoperasikan sekitar 12.972 mesin ATM dan Cash Recycle Machine (CRM) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Jaringan Bank Mandiri tidak hanya berada di dalam negeri. Perseroan juga memiliki kehadiran di sejumlah pusat bisnis internasional, antara lain Shanghai, Hong Kong, Singapura, Dili dan Cayman Islands.
Melalui perusahaan terkait, jaringan bisnis Bank Mandiri juga menjangkau Kuala Lumpur dan London.
Berawal dari Restrukturisasi Perbankan
Pemerintah Indonesia mendirikan Bank Mandiri pada 2 Oktober 1998. Pembentukan bank tersebut menjadi bagian dari restrukturisasi sektor perbankan nasional setelah krisis finansial Asia 1997.
Perubahan besar berlangsung pada Juli 1999 ketika pemerintah menggabungkan empat bank milik negara ke dalam Bank Mandiri.
Empat bank tersebut yakni Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Ekspor Impor Indonesia dan Bank Pembangunan Indonesia.
Setelah proses penggabungan, Bank Mandiri mulai beroperasi secara penuh pada 1 Agustus 1999.
Bank Mandiri kemudian menjalankan proses konsolidasi besar. Perseroan menata jaringan kantor, sumber daya manusia hingga sistem teknologi perbankan yang sebelumnya berasal dari empat bank pendahulunya.
Salah satu tantangan pada periode awal adalah menyatukan sembilan sistem perbankan berbeda. Proses integrasi berlangsung secara bertahap selama sekitar tiga tahun.
Transformasi itu juga menjadi bagian dari strategi Bank Mandiri memperluas pasar ritel dan mengurangi konsentrasi penyaluran kredit pada segmen korporasi.
Pada akhir 1999, kredit kepada nasabah korporasi tercatat mencapai sekitar 87 persen dari keseluruhan kredit Bank Mandiri.
Ekspansi Bisnis Bank Mandiri
Perjalanan Bank Mandiri kemudian memasuki fase ekspansi.
Pada 2002, perseroan mengakuisisi Asuransi Jiwa Staco Raharja dan mengubah nama perusahaan tersebut menjadi Asuransi Jiwa Mandiri.
Setahun kemudian, National Mutual International melalui AXA mengambil 49 persen saham perusahaan tersebut. Perusahaan kemudian menggunakan nama AXA Mandiri.
Tahun 2003 juga menjadi salah satu momentum penting karena Bank Mandiri resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Ekspansi berlanjut pada Mei 2008 ketika Bank Mandiri mengakuisisi 80 persen saham Bank Sinar Harapan Bali.
Pada 2009, Bank Mandiri mengambil alih mayoritas saham Tunas Financindo Sarana. Perusahaan pembiayaan tersebut selanjutnya menggunakan nama Mandiri Tunas Finance.
Strategi diversifikasi kredit juga mulai terlihat. Pada akhir 2009, porsi kredit untuk segmen UMKM tercatat mencapai 42,22 persen, sedangkan kredit ritel sekitar 13,92 persen dari keseluruhan kredit.
Perkuat Ekosistem Jasa Keuangan
Bank Mandiri terus memperluas ekosistem bisnisnya dalam beberapa tahun berikutnya.
Pada 2014, perseroan menguasai 60 persen saham PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia yang kemudian menjalankan bisnis dengan nama Mandiri Inhealth.
Perubahan juga terjadi pada Bank Sinar Harapan Bali. Masuknya Taspen dan Pos Indonesia sebagai pemegang saham membuat kepemilikan Bank Mandiri terdilusi menjadi 58,25 persen.
Bank tersebut kemudian berganti nama menjadi Bank Mandiri Taspen Pos dan memfokuskan layanan keuangan bagi kelompok pensiunan.
Bank Mandiri kembali memperluas portofolio bisnis pada 2015 dengan mendirikan Mandiri Capital yang bergerak di bidang modal ventura.
Setahun berikutnya, Bank Mandiri membuka kantor cabang di Gili Trawangan dan Senggigi, Nusa Tenggara Barat. Ekspansi tersebut dilakukan sejalan dengan potensi pertumbuhan ekonomi dan pariwisata di wilayah tersebut.
Pada akhir 2016, Taspen mengambil alih kepemilikan saham Bank Mandiri Taspen Pos yang sebelumnya berada di tangan Pos Indonesia. Bank Mandiri juga meningkatkan kepemilikannya menjadi 59,44 persen.
Nama perusahaan tersebut selanjutnya berubah menjadi Bank Mandiri Taspen pada akhir 2017.
Bank Syariah Mandiri Bergabung ke BSI
Transformasi besar kembali berlangsung pada awal 2021.
Bank Syariah Mandiri bergabung bersama bank syariah BUMN lainnya dalam pembentukan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI).
Konsolidasi tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah membangun bank syariah nasional dengan skala bisnis yang lebih besar.
Bank Mandiri kemudian menjadi pemegang saham terbesar BSI sesuai dengan porsi modal yang masuk dalam proses penggabungan.
Bank Mandiri Lepas Saham Mandiri Inhealth
Perubahan portofolio bisnis berlanjut pada Juni 2024.
Bank Mandiri menjual 60 persen saham Mandiri Inhealth kepada IFG Life. Nilai transaksi tersebut mencapai sekitar Rp1,71 triliun.
Perubahan struktur kepemilikan Bank Mandiri kemudian terjadi pada 2025 seiring pembentukan dan penguatan struktur Danantara.
Pada Maret 2025, pemerintah mengalihkan mayoritas saham Bank Mandiri dalam rangka pembentukan holding operasional di lingkungan Danantara.
Kantor Pusat Bank Mandiri Pindah pada 2025
Bank Mandiri juga melakukan perubahan kantor pusat.
Mulai 30 Juni 2025, kantor pusat Bank Mandiri berpindah dari Plaza Mandiri ke Menara Mandiri, gedung yang sebelumnya dikenal sebagai Plaza Bapindo di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta.
Perpindahan dilakukan setelah Plaza Mandiri digunakan sebagai kantor pusat Danantara dan berganti nama menjadi Wisma Danantara.
Struktur Kepemilikan Bank Mandiri pada 2026
Perubahan kembali berlangsung pada awal 2026 seiring implementasi Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2025 tentang BUMN.
Pada 6 Januari 2026, sebanyak 485,33 juta saham Seri B Bank Mandiri atau setara sekitar 0,52 persen dialihkan dari Danantara Asset Management kepada Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN).
Saham tersebut kemudian menjadi saham Seri A Dwiwarna.
Setelah pengalihan tersebut, porsi kepemilikan Danantara Asset Management tercatat menjadi 51,48 persen.
Perubahan tersebut menjadi bagian dari penataan pengelolaan BUMN dan tidak mengubah kepemilikan Negara Republik Indonesia secara keseluruhan.
Lebih dari dua dekade setelah proses penggabungan empat bank pemerintah, Bank Mandiri terus berkembang dari bank yang lahir melalui restrukturisasi menjadi kelompok jasa keuangan dengan jaringan bisnis nasional dan internasional.
Transformasi tersebut berlangsung melalui penguatan layanan perbankan, pengembangan segmen ritel dan UMKM, ekspansi anak usaha, digitalisasi serta penataan struktur korporasi mengikuti kebijakan pemerintah.














