Politik

Golkar Menakar Ulang Untung-Rugi Bersama Gusnar Ismail

×

Golkar Menakar Ulang Untung-Rugi Bersama Gusnar Ismail

Sebarkan artikel ini
Golkar Gorontalo Hitung Ulang Untung-Rugi Bersama Gusnar Ismail
Golkar Gorontalo Hitung Ulang Untung-Rugi Bersama Gusnar Ismail/Hibata.id

Hibata.id, Gorontalo – Pohon beringin belum tumbang dari halaman koalisi pemerintahan Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail. Namun, dahannya mulai bergoyang.

Partai Golkar yang ikut mengantarkan pasangan Gusnar Ismail-Idah Syahidah memenangkan Pilkada Gorontalo kini mulai menakar ulang perjalanan politiknya bersama pemerintahan tersebut.

Scroll untuk baca berita

Bukan sekadar menghitung berapa lama koalisi berjalan. Golkar mulai mempertanyakan hal yang lebih sensitif.

Yakni setelah ikut berkeringat memenangkan Gusnar-Idah, seberapa besar manfaat kemitraan itu bagi masyarakat dan partai?

Anggota Fraksi Golkar DPRD Provinsi Gorontalo Meyke Kamaru mengatakan persoalan tersebut telah dibicarakan dalam rapat internal di Kantor DPD Partai Golkar Gorontalo.

“Kami melakukan evaluasi dan proyeksi posisi Fraksi Golkar terhadap koalisi pemerintahan saat ini,” kata Meyke.

Kata kuncinya adalah evaluasi.

Golkar memang belum berbicara mengenai keluar dari koalisi. Namun, keputusan membuka kembali catatan perjalanan politik bersama Gusnar menunjukkan ada sesuatu yang ingin diukur oleh partai berlambang pohon beringin tersebut.

Apalagi Golkar bukan penonton ketika Gusnar-Idah bertarung dalam Pilkada Gorontalo.

Partai itu ikut menjadi kekuatan politik yang mengusung dan memenangkan pasangan tersebut bersama partai koalisi lainnya.

Setelah pemerintahan berjalan, Golkar kini ingin mengetahui apakah perjuangan politik tersebut berjalan beriringan dengan manfaat yang diterima masyarakat.

Baca Juga:  Ahmad Sahroni Resmi Kembali Jadi Wakil Ketua Komisi III DPR RI

“Perlu dievaluasi sejauh mana dampak elektoral terhadap partai dan masyarakat melalui program visi-misi,” ujar Meyke.

Pernyataan itu membuat evaluasi Golkar menjadi menarik.

Sebab, yang sedang dihitung bukan sekadar hubungan antara partai politik dan gubernur, tetapi juga realisasi program pemerintahan yang menjadi alasan koalisi tersebut dibangun.

Dengan kata lain, Golkar mulai membuka rapor pemerintahan yang ikut mereka lahirkan.

Jangan Cuma Jadi Modal Politik

Nada Meyke kemudian semakin tajam. Ia mengingatkan agar dukungan Golkar tidak sekadar menjadi modal untuk membangun kepentingan politik tertentu.

“Jangan sampai semakin ke sini hanya digunakan untuk modal political build tertentu,” katanya.

Pernyataan tersebut patut menjadi perhatian pemerintahan Gusnar Ismail.

Sebab, evaluasi kini datang dari salah satu kekuatan politik yang berada dalam barisan pengusungnya sendiri.

Golkar ingin memastikan energi politik yang dikeluarkan ketika Pilkada berbanding lurus dengan pelaksanaan visi-misi pemerintahan dan manfaat yang diterima masyarakat.

Pertanyaannya kemudian sederhana, apakah kemitraan politik Golkar dan pemerintahan Gusnar masih berjalan sesuai kesepakatan awal?

Golkar sedang mencari jawabannya.

Golkar Keluar Koalisi?

Baca Juga:  Yusril Ihza Mahendra Siap Jika Ditunjuk Jadi Menteri Prabowo-Gibran

Meski nada evaluasi mulai terdengar keras, Golkar belum sampai pada keputusan menarik dukungan.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan meninggalkan koalisi pemerintahan Gusnar Ismail, Meyke memberikan jawaban singkat.

“Kami belum sampai di sana,” ujarnya.

Artinya, pintu koalisi belum ditutup. Namun, jawaban itu juga tidak menghapus fakta bahwa evaluasi sedang berjalan.

Hasil pembahasan Fraksi Golkar selanjutnya akan disampaikan kepada pimpinan DPD Partai Golkar Gorontalo. Sikap berikutnya akan mengikuti mekanisme resmi partai.

Karena itu, terlalu dini menyebut Golkar akan meninggalkan Gusnar. Tetapi sama tidak tepatnya jika evaluasi tersebut dianggap sekadar rapat biasa.

Dalam politik, ketika partai pengusung mulai menghitung manfaat sebuah koalisi, pihak yang dievaluasi tentu punya alasan untuk memperhatikan angka-angkanya.

Ghalieb Lebih Dulu Sentil Kemitraan

Meyke bukan satu-satunya politikus Golkar yang berbicara mengenai hubungan dengan pemerintahan Gusnar Ismail.

Ketua Fraksi Golkar DPRD Provinsi Gorontalo Ghalieb Lahidjun sebelumnya juga mempertanyakan manfaat hubungan kemitraan politik tersebut.

Ghalieb menilai kemitraan yang telah berjalan perlu dievaluasi, baik dari sisi manfaat kepada masyarakat maupun terhadap Partai Golkar.

Dua suara dari Fraksi Golkar membuat isu evaluasi sulit dipandang sebagai komentar politik yang berdiri sendiri.

Baca Juga:  Apel Gerakan Coklit Serentak Pilkada 2024 di Gorontalo Utara

Setidaknya, ada pembicaraan internal mengenai bagaimana Golkar akan memosisikan diri terhadap pemerintahan ke depan.

Apakah hanya meminta pola kemitraan diperbaiki, memperketat pengawasan terhadap program pemerintah, atau akhirnya mengambil keputusan politik lain, semuanya masih menunggu sikap resmi partai.

Demokrat Sebut Pemerintahan Tetap Solid

Di tengah bunyi evaluasi dari Golkar, Partai Demokrat menyampaikan nada berbeda.

Ketua Satgas DPD Partai Demokrat Gorontalo Helmi Rasid menyatakan pemerintahan Gusnar Ismail tetap solid dan fokus menjalankan program pembangunan.

Menurut dia, setiap pihak berhak memberikan penilaian terhadap kinerja pemerintah. Pada akhirnya, masyarakat yang akan menilai hasil kerja pemerintahan.

Pernyataan Demokrat dan evaluasi Golkar memperlihatkan dinamika menarik di lingkaran politik pendukung pemerintahan Gusnar Ismail.

Di satu sisi, ada keyakinan pemerintahan tetap solid. Di sisi lain, salah satu partai pengusung justru mulai membuka buku evaluasi.

Belum ada deklarasi perpisahan. Belum pula ada keputusan menarik dukungan.

Tetapi satu hal sudah terang: Golkar mulai berhitung.

Dan dalam politik, ketika kawan seperjalanan mulai mengeluarkan kalkulator, biasanya bukan karena semuanya sedang baik-baik saja.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel