HeadlineKabar

Kado Istimewa Hardiknas di Pohuwato, 4 Ribu Anak Tak Sekolah Kerena Ekonomi

×

Kado Istimewa Hardiknas di Pohuwato, 4 Ribu Anak Tak Sekolah Kerena Ekonomi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi - Ironi Hardiknas Pohuwato, 4.000 anak putus sekolah/Hibata.id
Ilustrasi - Ironi Hardiknas Pohuwato, 4.000 anak putus sekolah/Hibata.id

Hibata.id, Pohuwato – Di saat banyak siswa sibuk upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), ribuan anak di Kabupaten Pohuwato justru absen dari sekolah.

Bukan karena malas atau bolos, melainkan karena harus membantu orang tua mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan.

Fenomena ini menjadi ironi tersendiri. Di tengah semangat pendidikan untuk semua, masih ada sekitar 4.000 anak usia sekolah di Pohuwato yang belum menikmati bangku pendidikan secara penuh.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pohuwato, Arman Mohammad, menyebut kondisi ekonomi keluarga sebagai penyebab utama.

“Banyak anak yang terpaksa meninggalkan bangku sekolah untuk membantu ekonomi keluarga,” kata Arman melalui pesan WhatsApp, Sabtu (2/5/2026).

Baca Juga:  Hiu Paus Jadi Lele? Dispora Provinsi Gorontalo Tanggapi Polemik Logo Half Marathon

Menurutnya, persoalan anak tidak sekolah (ATS) masih menjadi pekerjaan rumah.

Tidak hanya di daerah tersebut, tetapi juga di tingkat Provinsi Gorontalo.

Padahal, pemerintah sudah menanggung sebagian besar biaya pendidikan melalui program Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP).

Namun, kebutuhan lain di luar itu masih menjadi beban bagi banyak keluarga.

“Masih banyak keluarga yang kesulitan membiayai kebutuhan pendukung pendidikan anak mereka,” jelasnya.

Kondisi ini membuat pilihan anak-anak menjadi serba sulit: antara tetap sekolah atau ikut membantu dapur tetap “mengepul”.

Arman menilai, persoalan ini tidak bisa diselesaikan sendiri oleh dunia pendidikan. Ia mendorong keterlibatan berbagai pihak agar solusi bisa lebih menyeluruh.

Baca Juga:  Kris Wartabone Bersiap Lapor Mikson ke Badan Kehormatan soal Sidak Tambang Suwawa

“Ke depan perlu kolaborasi lintas sektoral untuk mendorong setiap anak usia sekolah berada di ruang kelas,” katanya.

Data dan Fakta

Data tahun 2025 mencatat jumlah anak tidak sekolah di Pohuwato mencapai sekitar 4.000 orang, yang terdiri dari:

  • Anak usia 7–18 tahun yang tidak bersekolah
  • Anak putus sekolah (drop out)
  • Lulusan yang tidak melanjutkan pendidikan

Yang mengejutkan, kelompok terbesar justru berasal dari anak yang sudah lulus, tetapi tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya.

“Yang paling banyak adalah anak yang sudah lulus tetapi tidak melanjutkan pendidikan. Jumlahnya hampir setengah dari total angka ATS,” bebernya.

Baca Juga:  Kabar Baik, Warga Buton Tengah Bisa Beli Paket Sembako Rp60 Ribu Jelang Ramadhan

Pemerintah daerah terus mendorong solusi, salah satunya melalui program pendidikan kesetaraan agar anak-anak tetap punya kesempatan belajar.

Langkah ini sejalan dengan tema Hardiknas 2026: “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.”

Arman mengingatkan, tingginya angka putus sekolah bukan sekadar angka statistik. Dampaknya bisa panjang, mulai dari kualitas sumber daya manusia hingga meningkatnya risiko pengangguran.

“Mempengaruhi ketersediaan SDM yang berkualitas, termasuk bertambahnya angka pengangguran,” pungkasnya.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel