Hibata.id, Jakarta – Suasana peringatan Hari Buruh Internasional 2026 di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jumat, mendadak berubah saat Presiden Prabowo Subianto menyapa langsung massa buruh.
Dalam pidatonya, Presiden menyinggung program makan bergizi gratis (MBG) dan melempar pertanyaan sederhana kepada para pekerja.
“Kami juga beri MBG. Saya bertanya kepada saudara-saudara (massa buruh), MBG bermanfaat atau tidak?” tanya Prabowo.
Alih-alih mendapat dukungan, jawaban yang muncul justru di luar dugaan. Massa buruh kompak menjawab singkat.
“Tidak,” sahut ribuan para buruh.
Momen itu seketika mencuri perhatian, karena kontras dengan suasana pidato yang sebelumnya penuh optimisme terhadap program unggulan pemerintah tersebut.
Meski begitu, Presiden tidak menghentikan penjelasannya. Ia tetap melanjutkan pidato dan menekankan pentingnya MBG, terutama untuk anak-anak Indonesia.
“MBG itu sangat penting untuk anak-anak kita. Saudara-saudara sekalian anak-anak kita banyak yang mengalami kurang gizi, badannya kecil, sel (tubuh) nya tidak berkembang. Dengan MBG, ekonomi kita hidup di mana-mana,” jelas Prabowo.
Ia juga menyoroti dampak ekonomi dari program tersebut. Menurutnya, MBG tidak hanya menyasar kesehatan, tetapi juga menggerakkan berbagai sektor.
“Ekonomi kita hidup, petani dapat penghasilan, saudara-saudara sekalian. Uang ini semua beredar. Indonesia tambah sejahtera,” tambahnya.
Saat ini, pemerintah terus mempercepat pelaksanaan MBG dengan target menjangkau sekitar 82 juta penerima manfaat. Program ini menjadi salah satu prioritas sejak masa kampanye pemilihan presiden 2024.
Peristiwa di Monas itu memperlihatkan dinamika di lapangan antara kebijakan pemerintah dan respons langsung dari buruh.
Meski mendapat penolakan spontan, pemerintah tetap berkomitmen melanjutkan program tersebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mendorong pertumbuhan ekonomi.













