Opini

H.B. Jassin, dan Pahlawan Kebudayaan

×

H.B. Jassin, dan Pahlawan Kebudayaan

Sebarkan artikel ini
H.B. Jassin. Putra Gorontalo. (Foto: Istw)
H.B. Jassin. Putra Gorontalo. (Foto: Istw)

Oleh : Ridwan Monoarfa – Wakil Ketua DPRD Provinsi Gorontalo

Hibata.id — Hari ini, 31 Juli, kita mengenang kelahiran Hans Bague Jassin atau H.B. Jassin. Putra Gorontalo itu lahir pada 31 Juli 1917 dan mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk sastra, dokumentasi, serta kebudayaan Indonesia.

Mengenang H.B. Jassin seharusnya tidak berhenti pada kebanggaan bahwa seorang tokoh besar sastra Indonesia lahir dari Gorontalo. Momentum ini perlu membawa kita pada pertanyaan yang lebih mendasar: sudahkah bangsa Indonesia memberikan tempat yang layak kepada para pejuang kebudayaan dalam sejarah kepahlawanannya?

Selama ini, pembicaraan tentang pahlawan sering berpusat pada perjuangan bersenjata, pergerakan politik, serta upaya merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Perjuangan tersebut tentu menjadi bagian penting dari sejarah bangsa yang harus selalu dihormati.

Namun, bangsa tidak hanya dibangun melalui senjata dan kekuasaan. Bangsa juga tumbuh melalui buku, bahasa, sastra, ilmu pengetahuan, gagasan, dan kebudayaan.

Baca Juga:  Menatar Pikiran Hukum Terkait Pemanfaatan Jaringan Pejalan Kaki

Di ruang perjuangan itulah H.B. Jassin mengabdikan hidupnya.

Ia bukan jenderal yang memimpin pasukan. Ia juga bukan politisi yang memimpin partai atau pemerintahan. Akan tetapi, melalui ketekunannya membaca, menulis, mengkritik, mendokumentasikan, dan merawat karya sastra, H.B. Jassin ikut menjaga ingatan intelektual Indonesia.

Karena itu, usulan menjadikan H.B. Jassin sebagai Pahlawan Nasional tidak semata-mata bertujuan menambah satu lagi tokoh Gorontalo dalam daftar pahlawan nasional. Usulan tersebut membawa pesan kebangsaan yang lebih besar, yaitu memperluas makna kepahlawanan.

Pahlawan bukan hanya mereka yang mempertahankan negeri dengan senjata atau memperjuangkan bangsa melalui jalur politik. Pahlawan juga mencakup mereka yang membangun peradaban melalui pengetahuan dan kebudayaan.

H.B. Jassin menunjukkan bahwa merawat buku, menjaga karya sastra, membangun tradisi membaca, dan menumbuhkan pemikiran merupakan bentuk pengabdian kepada bangsa.

Baca Juga:  PETI Teratai: Tambang Emas Ilegal yang Menampar Wajah Hukum di Pohuwato

Keteladanan itu semakin penting di tengah derasnya arus informasi digital. Masyarakat kini dapat menerima dan menyebarkan informasi dalam hitungan detik. Namun, kecepatan informasi tidak selalu diikuti kemampuan memahami persoalan secara utuh.

Karena itu, literasi tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan membaca huruf. Literasi merupakan kemampuan membaca zaman, menilai informasi secara kritis, serta membangun pendapat berdasarkan pengetahuan.

Masyarakat dengan literasi yang kuat akan lebih kritis terhadap kekuasaan, lebih rasional dalam menentukan pilihan, tidak mudah terprovokasi informasi palsu, dan lebih aktif dalam pembangunan.

Perjuangan menjadikan H.B. Jassin sebagai Pahlawan Nasional harus berjalan bersama upaya menghidupkan warisan literasinya. Gorontalo sebagai tanah kelahirannya perlu mengambil peran terdepan.

Setiap 31 Juli dapat dikembangkan menjadi momentum gerakan literasi Gorontalo. Anak-anak didorong membaca. Pelajar diberi ruang menulis. Perpustakaan dihidupkan. Ruang diskusi diperluas. Karya sastra diberi tempat. Generasi muda juga perlu didorong untuk berani melahirkan gagasan.

Baca Juga:  Mengapa Harus Memilih Azhari-Adam Basan?

Dengan langkah tersebut, perjuangan menjadikan H.B. Jassin sebagai Pahlawan Nasional tidak hanya berbicara tentang penghormatan terhadap masa lalu. Perjuangan itu juga berbicara tentang masa depan yang ingin dibangun.

Dari Gorontalo, kita dapat menyampaikan pesan kepada Indonesia bahwa bangsa besar bukan hanya bangsa yang menghormati mereka yang berjuang di medan perang dan panggung politik. Bangsa besar juga menghormati mereka yang menjaga ingatan bangsa, mencerdaskan pikiran, dan membangun peradaban melalui kebudayaan.

H.B. Jassin lahir di Gorontalo, tetapi pengabdiannya menjadi milik seluruh Indonesia.

Selamat mengenang 109 tahun kelahiran H.B. Jassin.

Sudah waktunya bangsa ini memberikan tempat yang layak kepada para pejuang literasi dan kebudayaan dalam sejarah kepahlawanan Indonesia.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel