Oleh: Falihin Barakati
Ketua Dewan Pembina Relawan Pemuda & Mahasiswa Buteng Kendari (REMBUK)
Membahas soal politik, apalagi kaitannya dengan pesta demokrasi seperti Pilkada memang menarik. Bukan hanya karena di dalamnya penuh trik dan intrik. Tapi juga penuh drama menyedihkan yang membuat simpatik. Penuh cerita yang kadang menggelitik. Ada juga cerita yang menguras emosi, bikin pitam naik. Semua bercampur aduk di tengah-tengah publik.
Satu diantara 508 kabupaten/ kota yang mengikuti Pilkada serentak 2024 kemarin adalah Kabupaten Buton Tengah (Buteng). Daerah yang berjuluk Negeri Seribu Gua ini memiliki cerita tersendiri dalam dinamika Pilkada yang telah dilaluinya. Buteng menjadi satu-satunya daerah dari 17 Kabupaten/ Kota di Sulawesi Tenggara yang tahapan Pilkadanya sampai pada sidang pembuktian dan pembacaan putusan akhir MK. Maka tak heran mata publik di Sultra tertuju pada daerah otonom baru yang usianya baru satu dasawarsa.
Sebelum sampai pada tahapan penetapan pemenang Pilkada oleh KPU Buteng hingga pelantikan Bupati dan Wakil Bupati terpilih, ada jalan panjang yang tidak hanya berliku, tapi juga penuh tanjakan bahkan bertabur onak dan duri. Jalan panjang itu berhasil dilalui hingga finish, dimana pasangan calon Azhari dan Muhammad Adam Basan (Sama Azan) resmi dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Buteng periode 2025-2030.
Sang Petahana Tak Dapat Pintu
Babak yang menarik perhatian publik dimulai dari tak dapat pintunya sang petahana, Bupati Buteng periode 2017-2023 Samahuddin. Hal ini jauh dari analisa dan prediksi publik, mengingat Bupati yang biasa disapa La ramo ini adalah seorang ketua Parpol pemenang Pileg 2024 di Buteng yaitu PDI Perjuangan dengan lima kursi. Tanpa koalisi Parpol pun bisa mengusung paslon Bupati dan Wakil Bupati sendiri.
Begitulah dinamisnya politik perebutan kekuasaan. Tak jarang ada kejutan-kejutan. Di ujung batas pendaftaran paslon di KPU, rekomendasi PDI Perjuangan jatuh ke tangan La Andi yang berpasangan dengan Abidin. Bahkan tragisnya, Samahuddin didepak dari posisi sebagai ketua DPC. Tak disangka, seorang yang di bawah kepemimpinannya sebagai ketua DPC yang mampu menjadikan parpol berlogo Banteng Moncong Putih itu dua kali berturut-turut menjadi pemenang di Pileg Buteng, tak diberi rekomendasi oleh parpol yang ia pimpin di daerah.
Tapi itulah fakta politik yang terjadi dalam dinamika politik Pilkada Buteng. Analisa dan prediksi berpotensi besar salah meskipun dengan berbagai pendekatan dan rumus-rumus politik mutakhir. Makanya, Albert Einstein mengatakan bahwa politik lebih sulit dari pada fisika. Jika masalah-masalah fisika bisa kita jawab benar dengan rumus-rumus ilmiah, tapi politik tidak demikian. Selalu ada kejutan dalam dinamikanya. Seperti yang terjadi dalam dinamika Pilkada Buteng, dimana sang petahana yang memiliki basis akar rumput yang kuat dengan prestasi politik dan pembangunan daerah tak dapat pintu untuk pencalonan.
Bersatunya Dua Tokoh Melawan Koalisi Besar Parpol
Gagalnya Samahuddin untuk maju setelah tak dapat pintu parpol, membuat situasi politik di Buteng berubah 180 derajat. Tadinya Pilkada Buteng akan diwarnai oleh petahana melawan dua penantang, menjadi penantang melawan penantang. Saling menantang. tak adalagi petahana sebagai juara bertahan.Tiga nama yang selalu mencuat dalam bursa Pilkada Buteng, menyisakan dua figur saja, yaitu Azhari dan La Andi.
Situasi ini memunculkan berbagai spekulasi di publik, akan mengarah kemana dukungan Samahuddin: Azhari atau La Andi? Bagaimana pun Samahuddin sebagai seorang eks Bupati Buteng memiliki kans dukungan besar, apalagi selama pemerintahannya ia dikenal sebagai Bapak Pembangunan Buteng.
Pertanyaan ini terjawab ketika Azhari menyambangi Samahuddin dan kedua tokoh ini menyatakan bersatu dalam kontestasi Pilkada Buteng. Bersatunya kedua tokoh ini menjadi kekuatan besar meskipun parpol pengusung Azhari adalah koalisi kecil, hanya 5 kursi. Sementara La Andi didukung koalisi besar, dengan 20 kursi.
Dari sisi jumlah parpol koalisi, di atas kertas paslon La Andi Abidin (ADIL) sangat diunggulkan dengan dukungan 20 kursi DPRD Buteng. Sementara paslon Azhari-Muhammad Adam Basan (SAMA AZAN) hanya 5 kursi. Maka tak mengagetkan ada kalimat dari salah satu politisi Buteng pendukung paslon ADIL dalam orasi politiknya saat kampanye menyatakan: “Kalau di sana kecil-kecil. Bisa kita injak.” Mereka di atas angin.
Namun mereka lupa, variabel dukungan politik tidak hanya soal jumlah kursi atau besarnya koalisi parpol pengusung. Mereka tutup mata pada variabel lain, salah satunya tipologi pemilih dimana mayoritas masyarakat di Indonesia, termasuk Buteng memilih kerena melihat figuritas atau ketokohan calon. Bukan melihat parpol pengusungnya. Maka bersatunya dua tokoh (Samahuddin dan Azhari) adalah kekuatan besar sekalipun diusung oleh parpol koalisi kecil yang akan melawan parpol koalisi besar mengusung paslon ADIL.
Selisih Tipis, Saling Klaim Kemenangan
Pemungutan dan perhitungan suara di TPS pada Pilkada Buteng berjalan aman dan damai. Perhitungan suara cepat oleh KPU juga dapat dipantau langsung melaui website resmi. Masing-masing kubu paslon pun melakukan perhitungan cepat agar bisa mengetahui perolehan suara lebih dini. Ketika semua TPS sudah melakukan perhitungan perolehan suara, begitupun hitung cepat masing-masing tim paslon, situasi mulai menegangkan. Kedua kubu mengklaim kemenangan.
Riak-riak bersuka ria dari masing-masing pendukung dan simpatisan tidak bisa terelakkan. Semua merayakan kemenangan, meskipun belum ada pengumuman keputusan resmi dari KPU. Kedua paslon pun juga menyampaikan pernyataan kemenangan di publik. Ini adalah nunsa yang luar biasa, suasana tegang saat perhitungan berubah menjadi penuh riang gembira layaknya pesta oleh masing-masing pendukung paslon. Mungkin inilah wujud pesta demokrasi sesungguhnya, masyarakat riang gembira, semua ikut berpesta.
Hal ini juga diutarakan oleh Azhari dalam konferensi pers kemenangannya yang menyatakan: “Kalau teman-teman kita di sebelah dia gembira juga, Alhamdulillah, nda apa-apa. Itu kita sama-sama gembira. Karena demokrasi ini kita harus hadapi dengan riang gembira.” Ini menjadi penegasan, sejatinya pesta demokrasi semua mesti gembira, baik kalah maupun menang.
Masing-masing paslon mengklaim kemenangan ini sangat wajar, mengingat setelah dilakukan rekapitulasi perolehan suara oleh KPU, selisih suara kedua paslon sangat tipis yaitu 586 suara dengan keunggulan paslon SAMA AZAN. Selisih di bawah 2% dari jumlah yang menyalurkan hak suara. Ini menjadi salah satu syarat untuk disengketakan melalui MK. Pertarungan pun belum berhenti. Babak lanjutan berada di MK.
Akhir Pertarungan di MK
Pertarungan di MK tidak semulus kabupaten/ kota lain di Sultra. Dari 12 Pilkada termasuk Pilgub Sultra yang bersengketa di MK, Buteng menjadi satu-satunya daerah di Sultra yang tahapan persidangan di MK lanjut pada tahapan sidang pembuktian. 11 lainnya ditolak, berhenti diputusan dismissal. sementara 6 daerah lain tanpa sengketa di MK.
Dinamika pertarungan di MK ini sangat menarik, selain karena selisih tipis 586 suara, tetapi juga karena tuntutan paslon ADIL untuk mendiskualifikasi paslon SAMA AZAN dan melakukan PSU di beberapa TPS. Isu di publik Buteng begitu liar, mengingat sidang MK dilanjutkan pada pembuktian. Apalagi beberapa pendukung ADIL sudah eufhoria di publik akan diterimanya gugatan paslon ADIL di MK setelah diputuskan oleh MK lanjut ke tahapan pembuktian. Sementara pendukung paslon SAMA AZAN terkesan diam di publik.
Azhari disangkakan tidak memenuhi syarat sebagai calon Bupati karena masih berstatus PNS sehingga kubu ADIL menuntut diskualifikasi. Penyelenggara pun baik KPU Buteng maupun Bawaslu Buteng disangkakan tidak netral dan tidak professional sehingga menuntut diadakannya PSU di beberapa TPS. Namun semua ini terbantahkan ketika proses sidang pembuktian di hadapan hakim MK. Hakim MK pun memutuskan menolak secara keseluruhan tuntutan paslon ADIL, dan SAMA AZAN tetap sebagai pemenang Pilkada Buteng 2024.
Lahirnya putusan MK ini menandakan akhir pertarungan di Pilkada Buteng 2024. Azhari dan Muhammad Adam Basan pun ditetapkan sebagai Bupati dan Wakil Bupati Buteng terpilih. Dan, alhamdulillah Jumat 21 Maret 2025 di bulan Ramadhan penuh berkah Azhari dan Muhammad Adam Basan dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Buteng periode 2025-2030 oleh Gubernur Sulawesi Tenggara. Inilah ujung jalan panjang Pilkada Buteng 2024. Selamat. (*)