Hibata.id – Leonardus Benjamin Moerdani atau Benny Moerdani dikenal sebagai salah satu jenderal TNI paling berpengaruh pada era Orde Baru. Dikenal luas dalam dunia intelijen, ia memimpin sejumlah operasi militer penting, termasuk pembebasan sandera Garuda Indonesia di Bangkok, serta terlibat dalam berbagai operasi strategis di dalam dan luar negeri.
Lahir di Cepu, Blora, Jawa Tengah, pada 2 Oktober 1932, Moerdani dikenal dengan julukan “The Unsmiling General”. Karier militernya dimulai sejak usia belia saat bergabung dalam Tentara Pelajar pasca-Proklamasi 1945. Dari pertempuran melawan Belanda hingga misi rahasia di Asia Tenggara, namanya mencuat sebagai jenderal yang cakap dalam strategi dan intelijen.
Moerdani menempuh pendidikan militer di Pusat Pendidikan Perwira Angkatan Darat (P3AD) dan Sekolah Pelatihan Infanteri (SPI). Ia lulus pada 1952 dan ditugaskan di Komando Daerah Militer Siliwangi. Dalam menghadapi pemberontakan Darul Islam, ia terlibat dalam pembentukan Kesatuan Komando Angkatan Darat (KKAD), cikal bakal Kopassus.
Tahun 1958, Moerdani menjadi aktor utama dalam Operasi 17 Agustus di Sumatera dan operasi penumpasan Permesta di Sulawesi. Kepiawaiannya membawa kemenangan strategis di medan tempur, memperkuat posisinya di tubuh TNI.
Pada 1962, ia memimpin pasukan RPKAD dalam misi penyusupan ke Irian Barat yang saat itu masih dikuasai Belanda. Kesuksesannya membuat Presiden Soekarno terpikat, meski Moerdani menolak menjadi ajudan presiden maupun menantu Soekarno. Tahun 1964, ia kembali beraksi dalam konfrontasi dengan Malaysia di Kalimantan.
Dipindahkan dari RPKAD ke Kostrad, Moerdani justru menemukan jalannya di dunia intelijen. Bersama Letkol Ali Moertopo, ia menjadi bagian dari Operasi Khusus (Opsus). Tugas intelijen pertamanya dilakukan di Malaysia dengan menyamar sebagai agen Garuda Indonesia.
Kariernya berlanjut ke dunia diplomasi. Ia menjabat sebagai kepala Konsulat Indonesia di Malaysia, lalu Konsul Jenderal di Korea Selatan. Namun, peristiwa Malari 1974 mengembalikannya ke Jakarta, di mana Presiden Soeharto mempercayakan kepadanya posisi strategis di Kementerian Pertahanan dan Kopkamtib.
Tahun 1975, Moerdani memimpin operasi penyusupan ke Timor Timur yang berpuncak pada Operasi Seroja. Ia juga dikenal sebagai arsitek utama pembebasan sandera dalam insiden pembajakan Garuda Indonesia Penerbangan 206 di Bangkok tahun 1981. Ia memimpin langsung pasukan Kopassandha (sekarang Kopassus) dalam operasi pembebasan sandera yang sukses tanpa kehilangan korban dari pihak sandera.
Puncak kariernya diraih saat menjabat sebagai Panglima ABRI, Menteri Pertahanan dan Keamanan, serta Pangkopkamtib. Ia menjadi tokoh sentral dalam stabilitas politik dan keamanan nasional era Orde Baru. Meski dikenal keras, strateginya membawa dampak besar terhadap pembentukan postur pertahanan Indonesia.
Kehidupan Pribadi dan Warisan Sejarah
Moerdani lahir dari keluarga sederhana, ayahnya seorang pekerja kereta api dan ibunya berdarah campuran Jerman. Ia memeluk Katolik sejak kecil, hidup dalam toleransi lintas iman. Sosoknya dikenal tegas, tak kompromi terhadap ancaman negara, namun juga berpikiran strategis dalam merespons perubahan geopolitik regional.
“Jangan beri ruang bagi musuh negara, baik dari dalam maupun luar,” — L.B. Moerdani (dikutip dari wawancara internal TNI era 1980-an)
L.B. Moerdani wafat pada 29 Agustus 2004. Namanya tetap dikenang sebagai jenderal intelektual yang memainkan peran kunci dalam sejarah militer Indonesia modern. Dari operasi rahasia hingga diplomasi lintas negara, warisannya masih dipelajari generasi penerus di lingkungan TNI dan lembaga pertahanan nasional.














