Nusantara

Mengapa Idul Adha Diperingati pada 10 Zulhijah? Ini Penjelasan Sejarah

×

Mengapa Idul Adha Diperingati pada 10 Zulhijah? Ini Penjelasan Sejarah

Sebarkan artikel ini
Cek Fakta: 30 Persen Dana Haji Dialihkan untuk Program MBG/Hibata.id
Cek Fakta: 30 Persen Dana Haji Dialihkan untuk Program MBG/Hibata.id

Hibata.id, Jakarta – Hari Raya Idul Adha selalu diperingati umat Islam pada 10 Zulhijah dalam kalender Hijriah.

Penetapan tanggal tersebut tidak sekadar menjadi ketentuan waktu ibadah.

Tetapi juga memiliki makna sejarah, spiritual, dan syariat yang kuat dalam ajaran Islam.

Tanggal 10 Zulhijah menjadi momentum penting karena bertepatan dengan puncak rangkaian ibadah haji sekaligus mengenang keteladanan Nabi Ibrahim AS dalam menjalankan perintah Allah SWT.

Sejarah penetapan Idul Adha

Dalam tradisi Islam, Idul Adha berkaitan erat dengan kisah Nabi Ibrahim AS yang menerima perintah melalui mimpi untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS, sebagai bentuk ujian keimanan.

Riwayat tersebut kemudian menjadi simbol kepatuhan total seorang hamba kepada Tuhan.

Rangkaian peristiwa itu diyakini berlangsung dalam beberapa tahapan:

Baca Juga:  Tumbilotohe, Cahaya Akhir Ramadan dari Masa Lalu yang Masih Menyala

Pada 8 Zulhijah atau yang dikenal sebagai Hari Tarwiyah, Nabi Ibrahim mulai menerima isyarat melalui mimpi. Pada tahap ini, ia merenungkan makna perintah tersebut.

Kemudian pada 9 Zulhijah, yang dikenal sebagai Hari Arafah, Nabi Ibrahim semakin meyakini bahwa perintah itu berasal dari Allah SWT.

Puncaknya terjadi pada 10 Zulhijah atau Hari Nahr, ketika Nabi Ibrahim mempersiapkan diri untuk melaksanakan perintah tersebut dengan penuh ketulusan.

Namun sebelum penyembelihan berlangsung, Allah SWT menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba sebagai bentuk rahmat sekaligus penegasan atas keteguhan iman Nabi Ibrahim.

Peristiwa inilah yang kemudian menjadi dasar ibadah kurban bagi umat Islam.

Kaitannya dengan ibadah haji

Penetapan 10 Zulhijah juga berkaitan langsung dengan rangkaian ibadah haji yang berlangsung di Tanah Suci.

Baca Juga:  Mongoloto Malu’o di Gorontalo, Ayam Kampung Jadi Menu Wajib Sahur Perdana

Pada 9 Zulhijah, jemaah haji melaksanakan wukuf di Padang Arafah, yang menjadi inti dari pelaksanaan ibadah haji.

Setelah itu, jemaah melanjutkan perjalanan ke Muzdalifah untuk mabit atau bermalam sebelum bergerak menuju Mina.

Pada 10 Zulhijah, jemaah menjalankan beberapa rangkaian ibadah, mulai dari melontar Jumrah Aqabah hingga menyembelih hewan hadyu.

Sementara bagi umat Islam yang tidak menunaikan haji, tanggal tersebut diperingati dengan salat Idul Adha dan pelaksanaan kurban.

Karena itu, Idul Adha menjadi momentum yang menyatukan umat Islam di seluruh dunia dalam semangat pengorbanan dan ketakwaan.

Dasar dalam syariat Islam

Kalender Islam menggunakan sistem perhitungan lunar atau berdasarkan peredaran bulan.

Dalam sistem tersebut, Idul Adha secara tetap berada pada tanggal 10 Zulhijah, bulan ke-12 dalam kalender Hijriah.

Baca Juga:  Suku Polahi, Komunitas Pedalaman Gorontalo dengan Cara Hidup Tradisional

Syariat Islam juga menetapkan hari tersebut sebagai hari raya, sehingga umat Islam tidak diperkenankan berpuasa pada 10 Zulhijah.

Hari raya ini justru menjadi momentum untuk berbagi, mempererat silaturahmi, dan menunjukkan kepedulian sosial melalui pembagian daging kurban kepada masyarakat yang membutuhkan.

Makna Idul Adha bagi umat Islam

Idul Adha tidak hanya menjadi perayaan keagamaan tahunan, tetapi juga mengandung pesan mendalam tentang keikhlasan, kepatuhan, dan kepedulian sosial.

Keteladanan Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa pengorbanan bukan hanya soal materi, tetapi juga kesiapan menempatkan ketaatan kepada Allah di atas kepentingan pribadi.

Semangat inilah yang terus hidup dalam perayaan Idul Adha hingga saat ini.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel