Internasional

AS Kerahkan 3.500 Pasukan ke Timur Tengah, Ketegangan dengan Iran Meningkat

×

AS Kerahkan 3.500 Pasukan ke Timur Tengah, Ketegangan dengan Iran Meningkat

Sebarkan artikel ini
AS Kerahkan 3.500 Pasukan ke Timur Tengah, Ketegangan dengan Iran Meningkat/Hibata.id
AS Kerahkan 3.500 Pasukan ke Timur Tengah, Ketegangan dengan Iran Meningkat/Hibata.id

Hibata.id – Amerika Serikat mengerahkan lebih dari 3.500 personel militer ke Timur Tengah, termasuk kapal perang amfibi USS Tripoli yang membawa sekitar 2.500 Marinir, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.

Pejabat militer AS pada Sabtu mengonfirmasi pengerahan tersebut sebagai bagian dari penguatan kehadiran militer di kawasan strategis. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan USS Tripoli telah tiba di wilayah operasi dan siap menjalankan misi.

Scroll untuk baca berita

Kapal perang amfibi itu berfungsi sebagai pusat komando bagi Grup Siap Amfibi Tripoli dan Unit Ekspedisi Marinir ke-31.

USS Tripoli juga dikenal sebagai salah satu kapal paling modern milik Angkatan Laut AS dengan kemampuan operasi multi-dimensi.

Kapal tersebut memiliki dek penerbangan luas yang mampu menampung berbagai pesawat tempur canggih, termasuk jet siluman F-35, pesawat tiltrotor Osprey, serta helikopter serang dan angkut.

Baca Juga:  Pesawat Air India Rute Ahmedabad–London Jatuh, Bawa 242 Orang

Sebelumnya, USS Tripoli berpangkalan di Jepang sebelum diperintahkan menuju Timur Tengah sekitar dua pekan lalu.

Selain membawa Marinir, kapal ini juga mengangkut berbagai perlengkapan tempur untuk mendukung operasi amfibi dan udara.

Pada saat yang sama, kapal perang USS Boxer bersama dua kapal lainnya dan tambahan pasukan Marinir juga diberangkatkan dari San Diego menuju kawasan tersebut, sebagaimana dilaporkan CBC pada Minggu (29/3).

Dalam perkembangan lain, CENTCOM mengungkapkan bahwa sejak dimulainya Operasi Epic Fury pada 28 Februari, pasukan AS telah menyerang lebih dari 11.000 target di wilayah konflik.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan Washington berupaya mencapai tujuan militernya tanpa mengerahkan pasukan darat.

Baca Juga:  Bill Gates: Dari Pendiri Microsoft hingga Tokoh Filantropi Dunia

Namun, ia menyebut Presiden Donald Trump tetap harus menyiapkan berbagai opsi guna merespons situasi yang berkembang cepat di lapangan.

Eskalasi konflik terjadi setelah Iran meluncurkan serangan ke Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi.

Serangan tersebut melibatkan enam rudal balistik dan 29 drone, yang mengakibatkan sedikitnya 10 tentara AS terluka, termasuk dua orang dalam kondisi serius.

Ketegangan antara AS dan Iran mulai berdampak pada ekonomi global. Gangguan terhadap jalur penerbangan internasional serta hambatan ekspor minyak mendorong kenaikan harga energi dunia.

Posisi strategis Iran di Selat Hormuz turut memperbesar risiko, mengingat jalur tersebut menjadi salah satu rute utama distribusi energi global.

Di sisi lain, kelompok Houthi yang didukung Iran juga memperluas konflik. Mereka mengklaim telah meluncurkan serangan rudal ke Israel, meski pihak Israel menyatakan berhasil mencegat serangan tersebut.

Baca Juga:  Kontroversi Ritual Dukun di Malaysia Klaim Penyembuhan Anak Lewat Ciuman

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyebut aksi tersebut sebagai bagian dari koordinasi dengan Iran dan Hizbullah.

Keterlibatan Houthi berpotensi meningkatkan ancaman terhadap keamanan maritim, khususnya di Selat Bab el-Mandeb, jalur penting yang menghubungkan perdagangan global ke Terusan Suez.

Sejumlah analis menilai gangguan di jalur strategis seperti Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb dapat mendorong lonjakan harga minyak sekaligus mengganggu stabilitas perdagangan internasional.

Negara-negara kini mulai mencari alternatif distribusi energi guna mengantisipasi risiko yang semakin meningkat di kawasan Timur Tengah.

 

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel