- Indonesia menghadapi dua realitas berbeda, di mana sebagian masyarakat menikmati kemakmuran, sementara kelompok lain masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
- Meski memiliki sumber daya melimpah dan pertumbuhan ekonomi, manfaatnya masih terkonsentrasi pada kelompok tertentu, sehingga banyak pekerja dan generasi muda belum merasakan peningkatan taraf hidup.
- Ketimpangan dipengaruhi faktor sistem dan kebijakan, sehingga muncul pertanyaan kritis tentang siapa yang benar-benar menikmati hasil pertumbuhan ekonomi nasional.
Oleh: Rezkiawan Tantawi
Ada dua Indonesia yang hidup berdampingan, tapi jarang benar-benar saling bertemu. Bukan karena jarak geografis, melainkan karena jarak realitas.
Indonesia yang satu, bangun pagi dengan kopi seharga setengah gaji harian buruh. Indonesia yang lain, bangun pagi sambil mikir: “Hari ini makan apa ya?”
Ironinya, semua ini terjadi di negeri yang sebenarnya tidak kekurangan apa-apa. Sumber daya ada, potensi ada, energi manusia pun melimpah. Tapi kenapa rasa-rasanya kesejahteraan itu eksklusif? Seperti undangan pesta yang hanya berlaku untuk orang-orang tertentu. Kesejahteraan terasa seperti sesuatu yang hanya terkonsentrasi di titik-titik tertentu.
Di sisi lain, ada kelompok-kelompok yang seolah selalu berada di jalur yang lebih berat. Mereka bekerja, berusaha, dan bertahan, tetapi tetap sulit bergerak jauh.
Mereka yang bekerja keras, tapi tanpa jaminan. Mereka yang kerja dobel, tapi upah sering setengah. Mereka yang muda dan berpendidikan tinggi, tapi masa depan makin mahal. Mereka yang hampir selalu kalah sebelum lomba dimulai.
Bukan karena kurang usaha, tapi karena mereka bermain di sistem yang sejak awal tidak dibuat untuk mereka menang.
Bahwa ketimpangan bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja.
Ia terbentuk, dipelihara, dan sering kali dibiarkan. Ia tumbuh dari keputusan-keputusan yang tidak selalu terlihat. Dari ruang-ruang yang tidak semua orang bisa masuki. Seakan-akan ada pintu yang hanya terbuka untuk sebagian orang, sementara yang lain hanya bisa mengetuk tanpa pernah benar-benar masuk. Di sanalah arah ditentukan, prioritas disusun, dan aturan-aturan dinegosiasikan. Tidak semua suara punya kesempatan yang sama untuk didengar, dan tidak semua kepentingan mendapatkan tempat yang setara.
Kita sering bilang ekonomi tumbuh. Tapi pertanyaannya sederhana:
“yang tumbuh itu ekonomi siapa?”
Di Negeri yang sebagian masyarakat masih bergulat dengan “hari ini makan apa?”, segelintir orang bisa lebih kaya dari ‘sultan’ Timur Tengah – Republik Oligarki












