Hibata.id, Bone Bolango – Suasana di kawasan tambang emas ilegal Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, mendadak mencekam.
Hal itu setelah sekelompok pria bersenjata tajam muncul di area pertambangan dan memicu kepanikan para penambang lain.
Video keributan itu pun cepat beredar di media sosial. Dalam rekaman berdurasi singkat tersebut, beberapa pria terlihat membawa tombak, parang, hingga pedang panjang atau lilang.
Sebagian warga yang berada di lokasi memilih merekam kejadian tersebut.
Namun tidak sedikit pula yang langsung berlarian menyelamatkan diri karena khawatir situasi berubah menjadi bentrokan besar.
Informasi yang menyebutkan, insiden itu diduga terjadi di kawasan tambang Batu Gergaji.
Kelompok pria tersebut disebut datang dan mencoba mengambil alih lubang tambang emas yang saat ini dikelola pihak lain.
Ketegangan pun tak terhindarkan. Adu mulut terjadi di tengah area tambang yang malam itu dipenuhi aktivitas penambang.
Belakangan, informasi yang berkembang menyebut sebagian pria dalam video tersebut diduga berasal dari luar Gorontalo, tepatnya dari Sulawesi Utara (Sulut).
Polisi yang menerima laporan langsung bergerak menuju lokasi. Saat aparat tiba, sebagian orang diduga melarikan diri ke arah hutan sambil membawa senjata tajam.

Kasat Reskrim Polres Bone Bolango AKP Robin Thalib membenarkan pihaknya telah mengamankan enam pria terkait keributan di area tambang tersebut.
“Benar, kami sudah mengamankan enam orang laki-laki terkait keributan di lokasi tambang,” ujar Robin kepada wartawan, Kamis (07/05/2026).
Selain mengamankan para terduga pelaku, polisi juga menyita dua senjata tajam.
Namun, sejumlah senjata lainnya diduga berhasil dibawa kabur oleh beberapa orang yang melarikan diri saat proses pengamanan berlangsung.
“Kami sudah melakukan upaya paksa dan sampai saat ini anggota masih melakukan monitoring di lokasi,” katanya.
Menurut Robin, keributan itu dipicu luapan emosi warga setempat yang merasa wilayah mereka dibuat ricuh oleh pendatang.
“Kalau istilah masyarakat di sini, hanya perang-perang mulut atau luapan emosi saja. Mereka kecewa melihat kampung mereka dibuat kacau oleh orang luar,” ujarnya.
Meski sempat memanas dan membuat suasana tambang tegang, polisi memastikan situasi berhasil dikendalikan sebelum berkembang menjadi bentrokan lebih besar.
Soal Senjata Tajam
Di sisi lain, polisi kini masih mendalami bagaimana senjata tajam tersebut bisa masuk ke lokasi tambang.
Sebab, area pertambangan diketahui memiliki beberapa akses alternatif yang memungkinkan orang keluar masuk tanpa melewati pos penjagaan utama.
“Kalau soal barang tajam, tentu harus ditelusuri lebih dulu bagaimana bisa masuk ke lokasi. Akses ke sana bukan hanya satu jalur, ada jalur air (Sungai) dan ada juga jalur lain yang bisa dilalui kendaraan,” kata Robin.
Ia menjelaskan, terdapat beberapa celah akses menuju tambang, termasuk jalur sungai dan jalur belakang yang masih bisa dilalui kendaraan roda empat.
“Ada sekitar tiga celah akses masuk, baik lewat jalur air maupun jalur belakang yang masih bisa dilalui mobil. Jadi kemungkinan itu tetap kami dalami,” tambahnya.
Hingga kini, aparat kepolisian masih berjaga di sekitar lokasi tambang untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya ketegangan susulan.
Polisi juga terus memburu sejumlah orang yang diduga melarikan diri ke kawasan hutan usai insiden tersebut.













