Hibata.id, Gorontalo – Ada tiga “musuh” yang diam-diam bisa mencuri masa depan anak-anak di Bone Bolango. Bukan monster, bukan juga tokoh film horor. Tiga ancaman itu adalah perkawinan anak, pekerja anak, dan anak tidak sekolah (ATS).
Kalau tiga persoalan ini dibiarkan, mimpi menyongsong Generasi Emas Indonesia 2045 bisa berubah menjadi sekadar wacana yang rajin dipajang di spanduk.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Bone Bolango memilih bergerak lebih awal. Sekretaris Daerah Bone Bolango, Iwan Mustapa, menegaskan perlindungan dan pemenuhan hak anak menjadi pekerjaan bersama, bukan sekadar tugas satu dinas.
Pernyataan itu disampaikan saat membuka Rapat Koordinasi Lintas Sektor Pencegahan Perkawinan Anak, Pekerja Anak, dan Anak Tidak Sekolah (ATS) yang dirangkaikan dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara Pengadilan Agama Suwawa dan Dinas Sosial P3APPKB Kabupaten Bone Bolango di Grand Q Hotel, Kota Gorontalo, Kamis (2/7).
Menurut Iwan, anak-anak seharusnya lebih sibuk mengejar cita-cita daripada mengejar buku nikah atau mencari nafkah di usia yang belum semestinya. Masa kanak-kanak harus dipenuhi pendidikan, kasih sayang, ruang bermain, dan kesempatan berkembang.
“Anak adalah aset terbesar bangsa sekaligus penentu masa depan kita semua. Karena itu, pemenuhan hak-hak dasar anak merupakan kewajiban yang harus kita laksanakan bersama,” katanya.
Ia menjelaskan, cita-cita melahirkan Generasi Emas Indonesia 2045 tidak akan lahir begitu saja. Generasi unggul harus dibangun sejak sekarang melalui pendidikan, perlindungan, pengasuhan yang baik, dan lingkungan yang aman bagi setiap anak.
Namun, pemerintah daerah masih menemukan tantangan berupa perkawinan anak, pekerja anak, dan anak tidak sekolah. Ketiga persoalan tersebut dinilai saling berkaitan dan membutuhkan penanganan lintas sektor agar tidak terus berulang.
Iwan menegaskan, pemerintah daerah bersama lembaga peradilan, sekolah, keluarga, dan masyarakat harus memperkuat kolaborasi agar setiap anak memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar dan meraih masa depan.
“Kita ingin memastikan setiap anak mendapatkan kesempatan belajar, tumbuh di lingkungan yang aman, serta memiliki masa depan yang lebih baik. Karena itu, ketiga persoalan ini harus menjadi perhatian bersama,” ujarnya.
Melalui rapat koordinasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Bone Bolango berharap langkah pencegahan terhadap perkawinan anak, pekerja anak, dan anak tidak sekolah semakin efektif sehingga lebih banyak anak yang kembali fokus pada hal yang paling penting di usia mereka: belajar, bermain, dan merancang cita-cita.












