Kabar

Mengenal Erol Lebih Dekat, Dosen UNG yang Disorot usai Candaan Soal Dumoga

×

Mengenal Erol Lebih Dekat, Dosen UNG yang Disorot usai Candaan Soal Dumoga

Sebarkan artikel ini
Dosen Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Zhulmaydin Chairil Fachrussyah alias Erol/Hibata.id
Dosen Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Zhulmaydin Chairil Fachrussyah alias Erol/Hibata.id

Hibata.id – Candaan seorang dosen Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Zhulmaydin Chairil Fachrussyah alias Erol, yang menyebut Dumoga, Sulawesi Utara (Sulut), dengan kalimat “pam baku potong” viral di media sosial.

Ucapan tersebut disampaikan saat kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2025 di Gorontalo.

Pernyataan itu menuai kritik karena dinilai bernuansa diskriminatif, bahkan berpotensi rasisme, sehingga melukai identitas masyarakat Dumoga.

Sejumlah aktivis mendesak pimpinan kampus segera mengambil sikap tegas agar kasus serupa tidak terulang.

Profil  Akademik Dosen UNG yang Viral

Publik kemudian bertanya siapa sosok Zhulmaydin Chairil Fachrussyah atau akrab disapa Erol itu?.

Berdasarkan data di situs resmi ung.ac.id yang diakses Hibata.id, ia tidak hanya berprofesi sebagai dosen, tetapi juga menjabat Kepala Bidang UPA Pengembangan Karier dan Kewirausahaan UNG.

Erol juga tercatat sebagai Lektor Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan dengan Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN) 0008078802.

Baca Juga:  Pekan ini LKPJ 2025 Diuji, Pansus DPRD Bolmut Siap “Kuliti” Kinerja Pemda

Riwayat pendidikan tinggi dimulai dari Sekolah Tinggi Perikanan (2005–2009), kemudian melanjutkan Magister di Universitas Sam Ratulangi (2010–2012).

Rekam Akademik dan Karya Ilmiah

Meski kini sorotan publik tertuju pada pernyataannya, Erol memiliki rekam jejak akademik cukup baik. Sejumlah karya ilmiahnya antara lain:

  • Kajian Rancang Bangun Purse Seiner di PPI Tenda Kota Gorontalo.
  • Technical and Longitudinal Movement Aspect of Small Purse Seiner di Manado, Bitung, dan Bolaang Mongondow Selatan.
  • Relationship of the Main Dimension Small Purse Seiners in North Sulawesi.
  • Buku ajar Dasar-dasar Penangkapan Ikan.
  • Teori dasar kapal perikanan.
  • Menggambar kapal 3D dengan Maxsurf Pro.
  • Perangkap ikan (Trap): Jenis, konstruksi, dan metode pengoperasian.

Selain itu, ia pernah melakukan pengabdian masyarakat, di antaranya:

  • Pengelolaan Wisata Laut dengan Pendekatan Bank Sampah dalam mendukung pencapaian SDGs (2021).
  • Pemanfaatan limbah ikan tuna menjadi produk makanan berkonsep zero waste untuk meningkatkan ekonomi masyarakat Teluk Tomini (2023).
Baca Juga:  7 Aktivis Dipanggil Polda, IMM Gorontalo Menduga Ada Upaya Pembungkaman

Permintaan Maaf dan Respons Publik

Meski memiliki kontribusi akademik, ucapan yang viral itu dinilai mencederai etika seorang pendidik. Zhulmaydin Chairil Fachrussyah kemudian menyampaikan permintaan maaf secara pribadi kepada masyarakat.

“Pernyataan itu muncul spontan saat membaca tulisan mahasiswa. Tidak ada niat untuk menghina atau mendiskreditkan daerah tertentu,” ujarnya.

Namun, sejumlah pihak menilai permintaan maaf saja belum cukup. Publik menuntut Rektor UNG segera memberikan penjelasan resmi sekaligus langkah tegas agar peristiwa bernuansa SARA tidak mencederai dunia akademik.

Klarifikasi UNG

Meski begitu, Universitas Negeri Gorontalo bersama Paguyuban Mahasiswa Dumoga telah menggelar pertemuan mediasi. Pertemuan dipimpin Wakil Rektor III UNG, Prof. Dr. Muhammad Amir Arham, M.E., selaku penanggung jawab PKKMB 2025.

Prof. Amir menegaskan, kegiatan PKKMB tidak pernah dimaksudkan untuk menyinggung identitas daerah maupun memunculkan isu diskriminasi.

Baca Juga:  Sembilan Tahun Menanti Air Bersih: Warga Telaga Induk Popayato Menjerit, Tak Ada yang Peduli

“PKKMB adalah wadah untuk membina karakter mahasiswa baru, mengenalkan kehidupan kampus, dan membangun kebersamaan,” ujarnya.

Sekretaris Panitia PKKMB 2025, Dr. Suwitno Yutye Imran, S.H., M.H., menambahkan, candaan yang viral itu terjadi secara spontan saat pemateri membaca tulisan mahasiswa.

Ia memastikan nuansa kekeluargaan dalam kegiatan PKKMB sejak hari pertama tidak pernah dimaksudkan untuk merendahkan.

“Kami memohon maaf kepada masyarakat Dumoga. Semangat kebersamaan yang kami bangun sama sekali tidak bertujuan menyinggung pihak mana pun,” katanya.

Kasus candaan dosen UNG tersebut menjadi peringatan penting bahwa komunikasi publik, khususnya di forum pendidikan, harus menjaga sensitivitas budaya dan identitas lokal.

Dumoga dan Bolaang Mongondow, sebagai bagian dari Sulawesi Utara, memiliki nilai sejarah dan sosial yang tidak dapat direduksi menjadi stereotip kekerasan.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel