Kabar

Bagi Kondom Gratis: Petugas di Pohuwato Malah Dikejar Parang, Kok Bisa?

×

Bagi Kondom Gratis: Petugas di Pohuwato Malah Dikejar Parang, Kok Bisa?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Kondom Gratis/Hibata.id
Ilustrasi Kondom Gratis/Hibata.id

Hibata.id – Kalau biasanya orang keluar malam buat cari kopi atau nongkrong santai, beda cerita dengan petugas kesehatan di Pohuwato.

Mereka justru turun malam-malam demi satu misi kemanusiaan, yakni menekan penyebaran HIV/AIDS.

Dan ini bukan sekadar wacana, data dari Dinas Kesehatan Pohuwato menunjukkan, sejak 2008 sampai 2025 sudah ada 161 kasus HIV/AIDS.

Tahun 2025 saja nambah 11 kasus baru. Angka yang bikin semua pihak harus angkat alis dan mengagetkan.

Kepala Dinas Kesehatan Pohuwato, Fidi Mustafa, memaparkan situasi yang masih butuh perhatian ekstra.

“Secara keseluruhan, sejak tahun 2008 hingga 2025, tercatat 161 kasus HIV/AIDS di Pohuwato, dengan penambahan 11 kasus pada tahun 2025,” ujarnya.

Dari angka itu, 75 orang tercatat meninggal dunia. Ada juga 18 orang yang bukan warga Pohuwato dan sudah kembali ke daerah asalnya. Sementara yang masih berjuang, 37 orang rutin menjalani pengobatan, dan sekitar 18 orang lainnya sudah terdeteksi tapi belum mulai terapi.

Baca Juga:  RSUD Aloe Saboe Buka Layanan Bedah Jantung Terbuka Pertama di Gorontalo

“Pengobatan harus terus berjalan dan tidak boleh terputus, karena itu menyangkut hak mereka untuk hidup sehat,” tegasnya.

Nah, kalau bicara aksi di lapangan, Puskesmas Marisa ini bisa dibilang ‘tim night ride’-nya dunia kesehatan.

Mereka pakai strategi jemput bola—alias tidak menunggu pasien datang, tapi petugas yang datang langsung.

Kepala Puskesmas Marisa, Yulita Makahekung, blak-blakan soal kondisi di wilayahnya.

“Untuk Marisa itu memang tinggi,” ungkapnya tegas.

Angka tujuh kasus di satu wilayah mungkin terdengar kecil buat sebagian orang. Tapi buat tenaga kesehatan? Itu sudah cukup bikin dahi berkerut.

Baca Juga:  Kasus Air Keras Andrie Yunus: Perbedaan Data TNI dan Polri Picu Pertanyaan

Yang lebih bikin “deg-degan”, cerita di lapangan. Petugas bukan cuma bagi edukasi dan lakukan pemeriksaan, tapi juga harus siap mental.

“Kami kewalahan di kafe. Setiap malam petugas turun dengan dinas kesehatan untuk mengecek, jadi mereka itu bagi-bagi kondom, bahkan ada yang di usir pakai parang, tetapi karena ini tugas tetap di laksanakan. Sampai sejauh itu kepedulian kami terhadap penanganan HIV/AIDS,” bebernya.

Ya, benar. Ini bukan film aksi, tapi kejadian nyata. Bedanya, ini tanpa stuntman.

Meski begitu, tim tetap jalan terus. Edukasi, skrining, sampai pembagian alat pencegahan tetap dilakukan. Karena targetnya jelas: masyarakat lebih paham, penularan bisa ditekan.

Baca Juga:  IMM Pohuwato Soroti Ketidakhadiran Pani Gold Project di RDP

Tenang, kata Yulita, masyarakat tidak perlu panik berlebihan. Yang penting tahu cara mencegah dan tidak abai.

“Kami hanya screening dan evaluasi. Untuk obat itu dari rumah sakit,” tandasnya.

Cerita lapangan ini mencuat dalam rapat Panitia Khusus (Pansus) LKPJ pemerintah daerah, Senin (13/04/2026). Mulai dari dinas kesehatan, rumah sakit, sampai kepala puskesmas ikut duduk bareng, bahas solusi.

Intinya? Petugas sudah turun total. Bahkan sampai malam, bahkan sampai diusir.

Sekarang tinggal kita: mau cuek, atau ikut peduli?

Karena urusan HIV/AIDS ini sederhana logikanya—mencegah itu jauh lebih mudah… dan jauh lebih murah… daripada mengobati.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel