Hibata.id – Langkah hidup Alex Noerdin bermula dari Gunung Meraksa, sebuah wilayah di Pendopo, Empat Lawang, Sumatera Selatan. Di tanah kelahirannya pada 9 September 1950, ia tumbuh sebagai putra ketiga dari tujuh bersaudara dalam keluarga sederhana.
Sejak muda, Alex menunjukkan ketertarikan pada pendidikan dan organisasi. Ia menamatkan sekolah di SMA Xaverius 1 Palembang pada 1969, lalu merantau ke Jakarta.
Di ibu kota, ia meraih gelar Sarjana Teknik Industri dari Universitas Trisakti pada 1980 dan Sarjana Hukum dari Universitas Atma Jaya Jakarta pada 1981.
Ia tidak berhenti di sana. Alex mengikuti berbagai pelatihan internasional di Jepang, Belanda, hingga Amerika Serikat. Pengalaman tersebut membentuk cara pandangnya terhadap pembangunan daerah dan tata kelola pemerintahan.
Menapaki Karier dari Musi Banyuasin
Nama Alex Noerdin mulai dikenal luas ketika ia memimpin Musi Banyuasin sebagai bupati pada 2001. Ia menjabat dua periode hingga 2008. Di tengah masa jabatan keduanya, ia mengambil keputusan besar: mengundurkan diri untuk maju dalam Pemilihan Gubernur Sumatera Selatan.
Langkah itu membawanya ke kursi Gubernur Sumsel pada 2008. Lima tahun kemudian, ia kembali maju dan memenangkan Pilkada 2013 bersama Ishak Mekki. Ia pun memimpin Sumatera Selatan selama dua periode, 2008–2018.
Sebagai gubernur, ia berada di garis depan berbagai agenda pembangunan dan momentum besar daerah, termasuk perhelatan olahraga nasional dan internasional yang mengangkat nama Sumsel di tingkat global.
Kiprah Politik Nasional
Setelah menuntaskan dua periode sebagai gubernur, Alex melanjutkan kiprahnya di tingkat nasional. Ia terpilih sebagai anggota DPR RI periode 2019–2021.
Pengalamannya di eksekutif dan legislatif menjadikannya salah satu tokoh politik senior dari Sumatera Selatan yang dikenal luas di panggung nasional.
Dinamika dan Ujian Hukum
Perjalanan politik Alex Noerdin tidak sepenuhnya mulus. Pada 2021, aparat penegak hukum menetapkannya sebagai tersangka dalam perkara dugaan korupsi pembelian gas bumi oleh Perusahaan Daerah Pertambangan dan Energi Sumatera Selatan serta kasus hibah pembangunan Masjid Sriwijaya Palembang.
Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Palembang kemudian menjatuhkan vonis 12 tahun penjara. Saat menjalani hukuman, ia kembali menghadapi dakwaan dalam perkara revitalisasi Pasar Cinde pada 2025.
Proses hukum tersebut menjadi bagian dari bab penting dalam perjalanan hidupnya, sekaligus mencerminkan dinamika politik dan tata kelola pemerintahan di daerah.
Keluarga dan Warisan
Di balik karier politiknya, Alex adalah kepala keluarga. Ia menikah dengan Sri Eliza dan dikaruniai tiga anak. Putra sulungnya, Dodi Reza Alex Noerdin, mengikuti jejaknya di dunia politik. Anak keduanya meninggal dunia pada 2003, sementara putrinya berkarier sebagai notaris.
Pada 25 Februari 2026, Alex Noerdin mengembuskan napas terakhir di Jakarta pada usia 75 tahun. Kabar duka itu menyisakan jejak panjang tentang seorang tokoh daerah yang pernah berada di puncak kekuasaan, menghadapi sorotan publik, dan menjalani berbagai fase kehidupan politik.
Dari Gunung Meraksa hingga kursi gubernur, perjalanan Alex Noerdin mencerminkan kisah tentang ambisi, kepemimpinan, pencapaian, serta dinamika yang menyertainya dalam sejarah politik Sumatera Selatan.













