Hibata.id – Perekonomian Indonesia pada triwulan II 2025 mencatat pertumbuhan 5,12 persen (yoy) yang ditopang investasi, konsumsi rumah tangga, dan ekspor.
Sementara Provinsi Gorontalo tumbuh lebih tinggi yakni 5,14 persen dengan inflasi rendah dan terkendali.
Bank Indonesia melaporkan, pertumbuhan ekonomi nasional juga didukung peningkatan ekspor barang dan jasa, termasuk front-loading ekspor ke Amerika Serikat serta kenaikan kunjungan wisatawan mancanegara.
Secara sektoral, seluruh lapangan usaha mengalami perbaikan, terutama industri pengolahan, perdagangan, serta informasi dan komunikasi.
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 16–17 September 2025 memutuskan menurunkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 4,75 persen.
Kebijakan ini diambil untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga inflasi dalam sasaran 2,5 ± 1 persen serta stabilitas nilai tukar rupiah.
“Dengan sinergi kebijakan antara Bank Indonesia dan pemerintah, pertumbuhan ekonomi semester II 2025 diperkirakan semakin membaik,” tulis keterangan resmi Bank Indonesia.
Sejalan dengan tren nasional, ekonomi Gorontalo tumbuh 5,14 persen (yoy) pada triwulan II 2025. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh sektor pertanian, perdagangan, dan konstruksi. Dari sisi penggunaan, kontribusi terbesar berasal dari konsumsi rumah tangga serta ekspor, khususnya pelet kayu dan olahan kelapa.
Di sisi inflasi, Provinsi Gorontalo mencatat 2,51 persen (yoy) pada Agustus 2025, masih berada dalam sasaran inflasi nasional. Namun, harga beras yang relatif tinggi dipandang perlu menjadi perhatian Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Pertumbuhan ekonomi Gorontalo juga diperkuat oleh kinerja perbankan. Kredit/pembiayaan perbankan di daerah ini tumbuh 14,81 persen (yoy), jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit nasional sebesar 7,56 persen. Peningkatan tersebut terutama berasal dari sektor perdagangan, industri pengolahan, dan pertanian.
Bank Indonesia menegaskan, peran intermediasi perbankan, khususnya kepada UMKM dan sektor prioritas, akan terus diperkuat untuk menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Selain itu, digitalisasi sistem pembayaran di Gorontalo terus berkembang pesat. Hingga Agustus 2025, volume transaksi QRIS tumbuh 147,73 persen dan nominalnya naik 83,37 persen (yoy).
Peningkatan ini ditopang inovasi seperti fitur QRIS Tap serta peresmian kawasan non-tunai di Kabupaten Pohuwato dan Kabupaten Gorontalo.
Pertumbuhan ekonomi yang solid dengan inflasi terkendali menjadi sinyal positif bagi pemerintah pusat maupun daerah. Gorontalo sebagai salah satu provinsi dengan pertumbuhan di atas rata-rata nasional menunjukkan potensi besar, khususnya di sektor pertanian dan UMKM.
Dengan sinergi kebijakan Bank Indonesia, pemerintah pusat, serta pemerintah daerah, perekonomian nasional dan Gorontalo diperkirakan akan semakin kuat sepanjang 2025.













